Kudus

Mau beli jajanan khas Kudus eh ada museum rumah adatnya..numpang foto..

Ngayogjokarto

Keliling nyari blangkon akhirnya dapet...

Ngaji

ngisi acara walimatul 'ursy ^_^

Penyuluh Agama Islam Kemenag Boyolali

Mau study banding ke Kemenag Jawa Barat sama DKI. nampang dulu di depan Kantor

Haji 2005

Kenangan di Arofah bersama bapak..

Kamis, 02 Juli 2015

Khutbah Jum'at = Puasa membentuk Muslim Berkualitas

Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia

Marilah kita senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT dengan sebenar benar taqwa. Karena dengan taqwa inilah dinilai kemuliaan kita di sisi Allah  SWT.

Di bulan Ramadhan ini kita umat Islam dididik, digembleng supaya menjadi seorang muslim yang berkualitas. Karena banyak sekali hikmah yang ada dalam puasa Ramadhan. Diantaranya, puasa melatih seorang muslim menjadi hamba yang ikhlas, sabar, peka terhadap orang yang hidup kekurangan, dan lain-lain. Sehingga seorang muslim setelah bulan Ramadhan benar-benar  menjadi muslim yang berkualitas.
Lalu bagaimana kita bisa melihat seorang muslim itu berkualitas atau tidak? Kita bisa melihat sebuah riwayat dari Abu Musa. Suatu ketika Abu Musa bertanya kepada Rasulullah.

يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَيُّ الْمُسْلِمِيْنَ اَفْضَلُ ؟

Ya Rasullah, orang muslim yang bagaimana yang paling utama? Rasulullah menjawab.

مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Muslim yang paling utama adalah seorang muslim dimana orang-orang muslim (lainnya) selamat dari keburukan mulut dan tangannya”

Maksudnya, setiap muslim yang paling utama adalah seorang muslim yang tidak merugikan orang lain, baik melalui lisan atau tidakannya.
Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia
Kesalahan manusia paling banyak adalah disebabkan oleh lisannya. Dengan lisan, manusia berdusta, bersaksi atau bersumpah palsu, mencaci maki, mencela, mengutuk, berkata-kata keji, mengejek, berdakwah kepada kesesatan, melakukan buhtan (memfitnah), meng-ghibah (menggunjing) dan lain sebagainya dari amalan lisan. Namun di masa sekarang ini dosa lisan banyak juga yang dituangkan dalam bentuk tulisan di buku-buku, majalah-majalah, tabloid-tabloid, surat-surat kabar, tulisan di internet melalui fesbuk, twitter dan semisalnya. Bahkan terkadang dijumpai bahasa tulisan lebih tajam dan lebih berbahaya dari bahasa lisan.

أَكْثَرُ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ فىِ لِسَانِهِ

“Kebanyakan dosa anak-anak adam itu ada pada lisannya”. (HR ath-Thabraniy)
Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Ucapan itu ada yang baik dan ada yang buruk. Yang mendatangkan keridloan Allah maka itulah yang baik, sedangkan yang mendatangkan kemurkaan-Nya maka dialah yang buruk”. [Bahjah an-Nazhirin: III/ 10].
Untuk berhati-hati dalam menjaga lisan ini, Nabi memerintahkan kita jika berbicara yang bermanfaat atau jika hanya banyak bicara yang tidak ada faidahnya lebih baik diam.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam”. [HR al-Bukhori- Muslim].

Ada riwayat
عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قِيْلَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ فُلاَنَةً تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَ تَصُوْمُ النَّهَارَ وَ تَفْعَلُ وَ تَصَدَّقُ وَ تُؤْذِي جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: لاَ خَيْرَ فِيْهَا هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ قَالُوْا: وَ فُلاَنَةً تُصَلِّى اْلمَكْتُوْبَةَ وَ تَصَدَّقُ بِأَثْوَارٍ وَ لاَ تُؤْذِي أَحَدًا؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ 
صلى الله عليه و سلم: هِيَ مِنْ أَهْلِ اْلجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, pernah ditanyakan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya si Fulanah suka sholat malam, shoum di siang hari, mengerjakan (berbagai kebaikan) dan bersedekah, hanyasaja ia suka mengganggu para tetangganya dengan lisannya?”. Bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Tiada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka”. Mereka bertanya lagi, “Sesungguhnya si Fulanah (yang lain) mengerjakan (hanya) sholat wajib dan bersedekah dengan sepotong keju, namun tidak pernah mengganggu seorangpun?”. Bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Dia termasuk penghuni surga”. [HR al-Bukhori]
.
Berkaca dengan hadits Abu Hurairah radliyallahu anhu di atas, dapat dimengerti bahwa kendatipun seseorang itu telah dikenal akan banyaknya jenis ibadah yang dikerjakan dari mengerjakan sholat malam setelah wajibnya, shoum sunnah pada siang harinya sesudah Ramadlan, bersedekah dan berbagai perbuatan baik lainnya. Namun jika ia tidak dapat mengendalikan lisannya berupa dusta, cacian, celaan, kutukan, sumpah serapah dan sebagainya, dan yang terbanyak biasanya adalah ghibah atau gunjingan, maka tempat yang pantas untuknya adalah neraka. Na’udzubillah.

Hadirin Rahimakumullah
penjelasan di atas memaparkan tentang keindahan ajaran Islam, bahwa seseorang itu disebut muslim jika ia mampu memberi keselamatan dan kenyamanan kepada muslim lainnya khususnya dan umat manusia umumnya, dari lisan dan tangannya. Yakni tidak menzholimi kaum muslimin dari lisannya berupa ghibah, namimah, buhtan, cacian, celaan, kutukan dan selainnya. Dan tidak pula dari tangannya berupa pemukulan, pencurian, perampasan dan lain sebagainya. Namun jika ada di antara mereka yang menzholimi selainnya dengan tangan atau lisannya, sehingga ia dibenci, dihindari, dijauhi oleh orang lain akibat ulahnya itu maka ia termasuk orang yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah swt pada hari kiamat nanti dan tidak akan masuk ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan abadi.

Sebagaimana sabda Nabi
عن عائشة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: يَا عَائِشَةَ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مَنِ وَدَعَهُ-أَوْ تَرَكَهُ النَّاسُ- اتِّقَاءَ فُحْشِهِ
Dari Aisyah bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Aisyah, sesungguhnya sejelek-jelek kedudukan manusia di sisi Allah adalah orang yang ditinggalkan (atau dijauhi) oleh manusia karena takut akan kekejiannya”. [HR al-Bukhori].

Maksudnya, jika ada seorang hamba dijauhi oleh orang lain lantaran takut dan khawatir akan perbuatan buruk dan jahatnya yang ditimpakan kepadanya berupa pukulan, pencurian, penipuan dan sejenisnya dari amalan tangan, atau ghibah, fitnah, namimah, cacian dan semacamnya dari amalan lisan, maka ia adalah orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah Azza wa Jalla pada hari kiamat kelak. Ia akan dijauhkan dari surga dan akan dijerumuskan ke dalam neraka dalam keadaan hina dina. Namun jika ia djauhi oleh orang lain lantaran sikapnya yang tepat dan tegas dalam mempertahankan dan memperjuangkan agama Allah maka hal itu tidaklah tercela dan bahkan kelak akan mendapat pujian dan sanjungan dari-Nya.

Oleh karena itu, marilah kita menjaga diri kita, menjaga lisan kita dari menyakiti orang lain. Alangkah lebih indahnya jika hidup kita  bisa memberi manfaat untuk orang lain.

Nabi Muhammad SAW bersabda
خَيْرُ النَّاسِ اَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Sebaik-baik orang adalah yang dapat memberi manfaat kepada sesama.

Jika kita bisa memberi manfaat kepada orang lain akan mudah bagi kita untuk membahagiakan mereka. Membahagiakan orang lain termasuk amal yang disukai oleh Allah.

عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا  قَالَ : إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِنَّ اَحَبَّ الْاَعْمَالِ اِلَى اللهِ بَعْدَ الْفَرَائِضِ إِدْخَالُ السُّرُوْرِ عَلَى الْمُسْلِمِ.

Hadis riwayat Ibnu Abbas RA, bahwa Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda “sesungguhnya amal yang paling disukai Allah SWT setelah melaksanakan berbagai hal yang wajib adalah menggembirakan muslim yang lain.
Hadirin jama’ah jum’ah yang mulia
Adapun cara membuat gembira bisa dengan tindakan yang bermacam-macam. Yang terpenting adalah selama tidak melanggar aturan syara’. Bisa dengan perkataan yang menyenangkan, bisa dengan sikap rendah hati, tidak merasa yang paling mulia sendiri, menghormati hak-hak orang lain dan sebagainya.
Membahagiakan orang dimulai dari hal terkecil, seperti memberi perhatian kepada anak. Sebagaimana diceritakan dalam kitab Qomi’uth Thughyan, Ada orang yang berlumur dosa, namun kemudian Allah melebur dosa-dosanya. Baginda Nabi bertanya kepada malaikat Jibril “sebab apa gerangan Allah mengampuni dosa-dosa orang itu?” malaikat Jibril menjawab

"لَهُ صَبِيٌّ صَغِيْرٌ، فَاِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ يَسْتَقْبِلُهُ، فَيَدْفَعُ اِلَيْهِ شَيْئًا مِنَ الْمَأْكُوْلاَتِ اَوْ مَا يَفْرَحُ بِهِ، فَاِذَا فَرِحَ الصَّبِيُّ يَكُوْنُ كَفَّارَةً لِذُنُوْبِهِ.

Karena ia memiliki anak kecil, ketika pulang dari bepergian, saat ia masuk ke rumahnya, ia disambut putranya yang masih kecil, ia memberikan buah tangan yang membuat sang buah hati bahagia.
Kebahagiaan anak inilah yang mengakibatkan ia memperoleh “Kaffarotudz dzunub” dosa yang diampuni.
Hadirin Jamaah Jum’ah yang berbahagia
Semoga di bulan Ramadhan ini bisa menjadikan kita muslim yang berkualitas yaitu muslim yang tidak mengganggu atau menyakiti muslim lain malah bisa membahagiakan sesama saudara muslim.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ فِى اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، اِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ.  اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، وَالْعَصْرِ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِىْ خُسْرٍ اِلاَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوْ الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Rabu, 27 Mei 2015

Jambu Air Bermanfaat Untuk Kecantikan


Jambu air adalah jenis jambu yang mempunyai banyak air di dalam daging buahnya, beda dengan jambu biji yang sedikit mengandung airnya. Jambu air bisa tumbuh hingga ketinggian 10 meter dan mempunyai daun yang besar-besar dan letaknya berhadapan. Beda dengan jambu air yang daunnya kecil-kecil. Jambu air sangat bermanfaat untuk kesehatan dan kecantikan, terutama kecantikan kulit, soalnya jambu air menyimpan banyak air didalam buahnya sehingga buah manis asam ini menyumbang banyak air bagi tubuh.

Cairan tubuh akan tercukupi dengan banyak mengkonsumsi jambu air, maka kulit akan kelihatan segar dan tidak kering. Itulah manfaatnya mengkonsumsi jambu air secara umum, selain itu kandungan vitamin C dalam jambu air juga bermanfaat untuk meningkatkan kekebalan tubuh seperti manfaat mengkonsumsi apel fuji. Kandungan anti oksidan dalam vitamin C membuat buah ini dikenal akan menafaatnya bagi kulit serta bisa membantu penyerapan zat besi dengan lebih baik.

Kandungan air dalam buah jambu air sangat banyak, ini diperkirakan 93 gram per 100 gram buah jambu air. Selain manfaat itu, manfaat jambu air juga terasa sebagai buah pencuci mulut, kesegaran mulai terasa ketika mengunyah jambu air ini karena kandungan air nya yang banyak.

Manfaat vitamin C pada jambu air akan terasa untuk kecantikan kulit, kulit akan kelihatan segar dan cerah ketika asupan vitamin C cukup bagi tubuh. Ini menandakan bahwa asupan vitamin juga bermanfaat untuk melancarkan darah. Vitamin C juga menstimulasi tumbuhnya kolagen bagi kulit dan menjaga kesehatan kulit tetap baik dan fit. Manfaat jambu air untuk wajah sangatberperan dalam mencerahkan wajah dan menjaga wajah selalu cerah dan segar sepanjang hari.

Manfaat Jambu Air bagi Kecantikan Kulit
1. Mencerahkan warna kulit.
Kandungan vitamin C dalam jambu air yang jumlahnya sangat besar membuat jambu air bermanfaat untuk mencerahkan kulit wajah dan kulit tubuh lainnya.

2. Mencegah kerutan atau keriput
Kerutan wajah adalah tanda penuaan yang terjadi akibat oksidasi senyawa dalam tubuh. Kandungan kolagen dalam vitamin C akan mengikat jaringan kulit antara satu dengan lainnya sehingga kulit akan nampak elastis dan kencang.

3. Awet muda
Manfaat jambu air untuk awet muda. Kandungan kolagen dalam jambu air akan mempercepat proses regenerasi kulit sehingga kulit mati akan segera diganti dengan kulit lainnya. Ini akan mencegah nampaknya penuaan dini dan kerutan diwajah.

4. Kulit Bercahaya
Jambu air juga bermanfaat untuk mencerahkan dan membuat kulit bersinar. Ini dikarenakan kandungan selenium dalam jambu air yang banyak, selenium akan melancarkan darah sehingga kulit nampak bersinar.

Bagaimana, apakah anda masih takut makan jambu air. Jambu air termasuk buah buahan yang sehat dikonsumsi. Manfaat jambu air untuk kecantikan akan didapat manakala jambu air dikonsumsi secara rutin dan dalam jumlah yang banyak.

Minggu, 24 Mei 2015

Belajar kepada Semut

Semut. Siapa yang tidak tahu apa itu semut. Anak kecil yang belum bisa berbicara fasih pun tahu binatang kecil ini. Walaupun kecil si semut ternyata bisa memberi pelajaran yang besar kepada kita semua.

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari semut?

1. Semut itu ramah
Bila bertemu dengan sesamanya, semut akan saling menyapa dengan menyentuhkan antenanya. Kita sebagai manusia, jangankan saling bersalaman, kadang dengan teman sendiri pun saling bertengkar, mengancam, berebut, bahkan menghina. Semut ternyata lebih ramah dari pada kita bukan??

2. Semut itu tertib
Lihatlah ketika semut berjalan bersama koloninya, mereka pasti berbaris, mereka antri, padahal jumlah mereka sangatlah banyak. Bandingkan dengan kita yang selalu menyerobot antrian & saling salip-menyalip di jalanan. Mungkin sistem antrian & lalu lintas di dunia semut lebih maju dibandingkan sistem dunia manusia ya..??

3. Semut itu hemat, pemurah dan Suka Bekerja sama
Betapa tidak, ketika seekor semut mendapatkan sebutir nasi, semut itu tidak akan menghabiskan nasi itu sendirian, tapi nasi itu akan disimpan untuk persediaan di masa paceklik & digunakan untuk kebutuhan koloninya. Dan ketika ada makanan yang lebih besar, maka semut2 akan bergotong royong untuk mengangkatnya, begitu pula ketika membuat sarang.

4. Semut itu kuat dan pemberani
Semut mampu mengangkat beban yang bahkan 50X lipat dari berat tubuhnya sendiri. Dengan keberaniaannya, semut berani untuk menggigit kita, manusia yang lebih besar ukurannya jika mereka kita ganggu, semut2 itu berani akan selalu berani menghadapi setiap tantangan yang datang pada mereka walaupun sangat besar.

5. Semut itu disiplin, teratur dan terorganisir
Semut itu mempunyai pembagian tugas yang jelas, ada semut ratu, yang tugasnya kimpoi dan bertelur saja, dan tentu saja sambil memerintah rakyat semut. Ada semut prajurit, yang tugasnya berperang. Ada semut pekerja, yang tugasnya mencari makan dan membangun sarang. Malah ada semut baby sitter, yang tugasnya merawat telur-telur yang belum menetas. Semut itu sekali menerima jabatan dan tugas, selalu melakukannya dengan sepenuh hati, kalau perlu mereka mati demi tugas.

6. Semut itu setia dan tahan banting
Semut merupakan salah satu binatang yang setia. Setia kepada ratunya, kepada kelompoknya. Terutama semut pekerja yang selalu setia bekerja untuk memberi makan sang ratu dan semut lain dalam kelompoknya.

7. Semut Itu gak cepat Putus Asa
Pernah menghalangi jalannya semut ? apa yang mereka lakukan ? mereka tidak akan putus asa, mereka akan mencari jalan lain supaya bisa sampai pada tujuannya.

Semoga kita bisa mengambil sisi posotif dari semut ini...

Kamis, 21 Mei 2015

Khutbah Jum''at => Kewajiban Orangtua Terhadap Anak

Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia

Seperti kita ketahui, akhir-akhir ini dalam berita sedang ramai-ramainya diperbincangkan tentang anak yang diterlantarkan orangtuanya. Apalagi diketahui bahwa orang tua yang menelantarkan anaknya tersebut bukan orang yang berpendidikan rendah. Terlebih lagi orang tersebut adalah pengguna narkoba. Naudzubillah.

Seringkali kita mendengar tentang kewajiban anak terhadap orangtua. Akan tetapi kita hampir lalai jika sebenarnya kewajiban orangtua terhadap anak juga tidak kalah pentingnya.

Anak adalah amanah Allah SWT kepada ayah dan ibunya, oleh karena itu harus senantiasa dipelihara, dididik dan dibina dengan sungguh-sungguh agar supaya menjadi orang yang baik, jangan sampai anak tersebut tersesat jalan dalam menempuh jalan hidupnya. Maka kewajiban orang tua terhadap anaknya bukan hanya mencarikan nafkah dan memberinya pakaian, atau kesenangan-kesenangan yang sifatnya duniawi, tetapi lebih dari itu orang tua harus mengarahkan anak-anaknya untuk mengerti kebenaran, mendidik akhlaqnya, memberinya contoh yang baik-baik serta mendoakannya. Firman Allah SWT :

يايُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا قُوْآ اَنْفُسَكُمْ وَ اَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَ اْلحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَّ يَعْصُوْنَ اللهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai (perintah) Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [QS. At-Tahrim : 6]

Lalu apakah kewajiban orang tua terhadap anaknya?

1.      1.  Memberi Nama yang Baik

Rasulullah saw diketahui telah memberi perhatian yang sangat besar terhadap masalah nama. Kapan saja beliau menjumpai nama yang tidak menarik (patut) dan tak berarti, beliau mengubahnya dan memilih beberapa nama yang pantas. Beliau mengubah macam-macam nama laki-laki dan perempuan. Seperti dalam hadits yang disampaikan oleh Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw biasa merubah nama-nama yang tidak baik. (HR. Tirmidzi)

Beliau sangat menyukai nama yang bagus. Bila memasuki kota yang baru, beliau menanyakan namanya. Bila nama kota itu buruk, digantinya dengan yang lebih baik. Beliau tidak membiarkan nama yang tak pantas dari sesuatu, seseorang, sebuah kota atau suatu daerah. Seseorang yang semula bernama Ashiyah (yang suka bermaksiat) diganti dengan Jamilah (cantik), Harb diganti dengan Salman (damai), Syi’bul Dhalalah (kelompok sesat) diganti dengan Syi’bul Huda (kelompok yang benar) dan Banu Mughawiyah (keturunan yang menipu) diganti dengan Banu Rusydi (keturunan yang mendapat petunjuk) dan sebagainya (HR. Abu Dawud dan ahli hadits lainAn-Nawawi, Al Azkar: 258)

Berkenaan dengan nama-nama yang bagus untuk anak, Rasulullah saw bersabda:
عَنْ اَبِى الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِاَسْمَا ئِكُمْ وَبِاَسْمَاءِ آبَائِكُمْ . فَاَحْسِنُوْا اَسْمَائَكُمْ. ابوداود 4: 287، منقطع، لان عبد الله بن ابى زكرياء لم يدرك ابا الدرداء

Dari Abu Darda', ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari qiyamat dengan namamu dan nama ayahmu, maka baguskanlah nama kalian". [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 287, munqathi’, karena ‘Abdullah bin Abu Zakariya tidak bertemu dengan Abu Darda’]
Selain memberi nama yang baik kemudian disunahkan bagi yang mampu untuk mengaqiqohi anaknya.
عَنْ سَمُرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص. اْلغُلاَمُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيْقَتِهِ. يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَابِعِ وَ يُسَمَّى وَ يُحْلَقُ رَاْسُهُ. الترمذى
Dari Samurah bin Jundab, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Anak itu tergadai dengan aqiqahnya, disembelih sebagai tebusannya pada hari ketujuh dan diberi nama pada hari itu serta dicukur kepalanya". [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 38]

Pemberian nama yang baik bagi anak adalah awal dari sebuah upaya pendidikan terhadap anak.Ada yang mengatakan “Apa arti sebuah nama”. Ungkapkan ini tidak selamanya benar Islam  mengajarkan  bahwa nama bagi seorang anak adalah doa. Dengan pemberian nama yang baik,diharapkan anak kita berperilaku baik sesuai dengan namanya.Adapun setelah kita memberi nama yang baik,dan telah mendidiknya dengan baik pula,namun anak kita tidak sesuai dengan yang kita inginkan,maka kita kembalikan dengan Allah Swt.Nama yang baik dengan akhlak yang baik,itulah yang kita harapkan.

2.       2. Mendidik anak dengan baik

Sebagai amanat Allah yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan- Nya, anak memerlukan pendidikan yang baik dan memadai dari orang tua. Pendidikan ini bermakna luas, baik berupa akidah, etika maupun hukum islam. selain itu pendidikan tidak hanya dapat dijalankan di sekolah, tetapi juga di rumah. Seperti hadis yang diriwayatkan dari Abu Dawud :

عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ* (أخرجه ابوداود في كتاب الصلاة)

Artinya : Dari 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata; Rasulullah SAW bersabda, “Suruhlah anak-anakmu melaksanakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat itu jika berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka". (HR. Abu Dawud).

Pendidikan di sekolah hanya dilakukan jika anak sudah cukup umur. Sedang pendidikan di rumah dimulai sejak masih kecil sampai beranjak dewasa. Rosulullah mengajarkan bahwa jika anak sudah mendekati masa baligh, hendaknya dipisahkan antara tempat tidur anak laki- laki dengan anak perempuan. Begitu pula dengan tempat tidur dengan orang tuanya.

Setelah anak berusia tujuh tahun, hendaknya orang tua memerintahkan untuk shalat dan puasa sebagai wahana pemberdayaan. Orang tua diperkenankan menghukum pada umur sepuluh tahun, kalau ia lalai menunaikan kewajiban. Hukuman bagi anak tidak boleh bersifat menyakiti atau menimbulkan cacat.

Jika orang tua memerintahkan sesuatu kepada anak maka mereka juga melaksanakan perintah tersebut. Perintah orang tua yang tidak disertai teladan, sulit untuk dipatuhi anak. Sebab kecenderungan anak akan meniru orang tua.

Ma’asyirol muslimin Rohimakumullah

Diceritakan. Pada suatu hari, Amirul Mu’minin Umar bin Khattab kehadiran seorang tamu lelaki yang mengadukan kenakalan anaknya,”Anakku ini sangat bandel” tuturnya kesal. Amirul Mu’minin berkata,”Hai fulan,apakah kamu tidak takut kepada Allah karena berani  melawan ayahmu dan tidak memenuhi hak ayahmu?Anak yang pintar ini menyela “Hai Amirul Mu’minin,apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak?” Umar ra. Menjawab, ”Ada tiga,yakni:pertama,memilihkan ibu yang baik.kedua,memilihkan nama yang baik. Ketiga,mendidik mereka dengan al-Qur’an.

Mendengar uraian dari Kholifah Umar ra.anak tersebut menjawab,”Demi Allah,ayahku tidak memilihkan ibu yang baik bagiku,akupun di beri nama ”kelelawar jantan”, sedang dia juga mengabaikan pendidikan islam  padaku.Bahkan walau satu  ayatpun  aku tidak pernah  diajari  olehnya.lalu Umar menoleh kepada ayahnya seraya berkata, ”Kau telah berbuat durhaka kepada anakmu,sebelum ia berani kepadamu....”

Orang tua hendaknya bertanggung jawab terhadap keluarga dan keturunannya, jangan sampai dia dan keturunannya mendapatkan kemurkaan dari Allah.Maka hendaknya pemimpin keluarga memberikan pelajaran agama yang baik kepada anak keturunannya agar mereka dapat menjadi anak yang shahih.

3.       Mengawinkan ketika menginjak dewasa

Orang tua berkewajiban menikahkan anaknya jika sudah tiba waktunya untuk menikah. Kewajiban orang tua dalam hal ini menyangkut pencarian calon untuk anak apabila ia belum memperoleh pasangan.

Dalam pernikahan, peran orang tua, terutama bapak sangat vital bagi anak perempuan. Dalam tuntunan islam setiap perempuan yang hendak menikah  harus disertai dengan kehadiran walinya. Ia tidak bisa menikahkan dirinya sendiri. Berbeda dengan anak laki- laki yang pernikahanya bisa sah meski tanpa kehadiran wali.

Hadirin Jamaah Jum’ah yang berbahagia
Selanjutnya kewajiban orangtua terhadap anak adalah memberi nafkah kepadanya. Orangtua tidak boleh menelantarkan anaknya atau tidak memberi nafkah kepada mereka. Apabila orangtua tidak memberi nafkah maka orang tersebut mendapat dosa.

Ada sebuah hadits yang artinya “Dari ‘Abdullah bin ‘Amr ra, ujarnya: Rasulullah saw bersabda: Seseorang telah cukup dikatakan berbuat dosa bilamana menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i)

Yang dimaksud menelantarkan nafkah anak ialah tidak memberi nafkah sama sekali atau memberi nafkah jauh di bawah kecukupan yang layak sesuai dengan kemampuan orang tuanya. Misalnya, orang tua sebenarnya mampu memberikan nafkah kepada anaknya Rp 1.500,00 sehari dan jumlah ini mencukupi kebutuhan gizi anak, tetapi ternyata orang tua hanya memberi Rp 500,00 saja, sehingga uang tersebut tidak layak sebagai nafkah.

Nafkah yang dibutuhkan anak meliputi pangan, sandang, dan papan. Artinya, anak harus mendapatkan makan sehari-hari, pakaian penutup badan, dan rumah tempat berlindung. Kadar masing-masingnya sesuai dengan kemampuan orang tuanya.

Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa seorang kepala keluarga bertanggung jawab memberikan makan, pakaian, dan tempat tinggal bagi anggota keluarganya. Dalam pengertian syar’i, keluarga adalah anak dan istri. Karena itu, sesorang yang menelantarkan istrinya atau anaknya atau mereka semua, berarti telah berbuat durhaka terhadap mereka.

Dari tiga kebutuhan hidup sehari-hari yang meliputi pangan, sandang dan papan, maka yang terutama dipenuhi lebih dulu ialah pangan. Bilamana harta yang dimiliki orang tua untuk memberi nafkah untuk anak-anaknya cukup untuk pangan saja, maka pangan itulah yang harus diutamakan. Mengapa pangan yang harus diutamakan? Karena pangan merupakan pendukung kelangsungan hidup manusia. Manusia sanggup berpakaian compang-camping, tetapi manusia tak dapat bertahan hidup dalam kelaparan dan kehausan. Karena itulah, pangan ini menjadi prioritas utama.

Bila orang tua menelantarkan nafkah anak-anaknya sehingga mereka kekurangan gizi, apalagi tidak mengurus kebutuhan makan dan minumnya sama sekali, maka mereka telah berbuat dosa, baik kepada anak-anak itu sendiri maupun kepada Allah. Jadi, orang tua harus menyadari bahwa mereka bisa saja berbuat dosa kepada anak-anaknya, yang kelak akan mendapatkan siksa dari Allah karena telah menelantarkan nafkah mereka.

Tanggung jawab memberi nafkah semacam ini tidak boleh dilalaikan oleh bapak dan ibu dalam keadaan apa pun dan di mana pun berada. Apabila bapak dan ibu melalaikan tanggung jawab memberi makan dan minum serta pakaian dan tempat berteduh untuk putra-putrinya, berarti orang tua tersebut telah mendhalimi hak-hak mereka.

Sekian khutbah Jum’at kali ini semoga membawa manfaat buat kita semua. Dan keluarga kita dijauhkan dari api neraka.


Selasa, 12 Mei 2015

Khutbah Jum'at Bahasa Jawa => Sholat Sarono Mi'raj Tiyang Mukmin

Hadirin jamaah Jum’at Rahimakumullah

Sampun kulo lan panjenengan sedoyo mangertosi bilih wonten ing kalender Islam wonten wulan ingkang bersejarah. Kados wulan Ramadhan. Wonten ing saklebete  wulan Ramadhan meniko wonten kedadosan bersejarah inggih puniko temurunipun Al-Qur’an utawi  Nuzulul Qur’an. Wonten ing wulan Rabiul Awal wonten kedadosan dinten lahiripun Nabi Muhammad Saw. Lan wonten ing wulan Rojab meniko wonten kedadosan Isra’ Mi’raj.

Hadirin Rahimakumullah

Isra’ Mi’raj meniko kedadosan ingkang linangkung (luar biasa) amargi Nabi Muhammad nglampahi  dipun awiti saking Masjidil Harom ing Mekah nuju Masjidil Aqsho Palestina lajeng minggah ngantos datheng Sidrotul Muntaha lajeng kundur malih nuju Mekah namung nedha wanci mboten langkung saking sapratigan dalu. Milanipun, Allah wonten ing nyeriosaken Isra’ Mi’raj niki lebet Surat Al-Isra’ ayat 1 dipun awiti kaliyan kalimah tasbih. Subhanalladzi. Maha Suci Dzat. Maha Suci Allah saking samukawis kekirangan, Maha Suci Allah saking pangapesanipun,lan lintu-lintunipun.  Allah ngagem kesucian-ipun supados nyukakaken jaminan menawi kedadosan Isra’ Mi’raj ingkang dipun tumindakaken dening Nabi Muhammad yaiku leres-leres kedadosan.

Saleresipun wonten ing Al-Quran kathah nyriosi babagan kedadosan ingkang linangkung. nanging mboten enten ingkang dipun awiti kaliyan kalimah tasbih. Allah nyeriosaken kedadosan babagan Firaun dipun keremaken lebet laut merah. mboten dipun awiti kaliyan kalimah tasbih. Allah nyeriosaken nalika Nabi Ibrahim diobong, mboten dipunawiti kaliyan kalimah tasbih. namung kedadosan Isro’ Mi’roj niki Allah ngawiti kaliyan tasbih.

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١ 

Artosipun: “Maha Suci Allah, sing wis ndalanke hamba-Ne nang mubarang bengi saka Al Masjidil Haram menyang Al Masjidil Aqsha sing wis Ingsun berkahi sekelilinge ben Ingsun delokake marange saka nggonan saka tanda-tanda (kegedhen) Ingsun. sayekti Allah yaiku Maha krungu meneh Maha Meruhi

Hadirin rahimakumullah

Isra’ Mi’raj yaiku kedadosan ingkang mesti kedadosan. amargi lebet ayat wau ngginemaken ‘asra’ ingkang ngradinaken (memperjalankan). Dados, Allah ingkang ngradinaken (memperjalankan), Nabi ingkang dipun radinaken (diperjalankan). menawi Allah ingkang ngersak’aken saget mawon kedadosan. Menawi Isra’ Mi’raj meniko kerso Nabi piyambak, mboten mungkin setunggal dalu Nabi saget dumugi saking Mekah nuju Palestina.

Lajeng punapa Isra’ mi’raj niki dipun tumindakake ing dalu? mboten siyang ingkang padang? Imam as-Suyuthi ngginemaken babagan hikmah isra dipuntumindakake ing dalu amargi wekdal dalu wanci ingkang tenang miyambak uga wanci ingkang khusus. Punika wanci sholat ingkang dipun wajibaken dateng Nabi, sami kaliyan firman-Nipun, “ngadega sholat ing wengi” (QS. Al-Muzammil: 2)

Menapa tujuan saking Isra’  Mi’raj niki? Wonten ing lebet ayat salajengipun “linuriyahu min ayatina.” Isra’  mi’raj niki nyriyosi dhateng Nabi Muhammad sebagian alit tanda-tanda keagengan Allah ingkang salajengipun katur dhateng umatipun supados dados piwulang. Allah ugi ngendika’aken lebet surat An-Najm.

وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ١٣  عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ١٤  عِندَهَا جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ١٥ إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ ١٦  مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ ١٧ لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ    

Artosipun : “Lan satemene Muhammad wis weruh Jibril (rupane kang sejati) ana wektu liya. Yaiku ana ing sidratil Muntaha (panggonan kang dhuwur dhewe ana langit nomer 7 sing diweruhi Nabi Muhammad nalika mi'roj). Ing kono panggonane suwarga Ma'wa. (Muhammad pirsa Jibril) nalika sidratil Muntaha mau ana kang nutupi. Pandelenge Muhammad ora luput lan ora kesasar. Satemene Muhammad wis pirsa sebagian tandha - tandha (kekuasaane) Pangerane kang agung. “ (QS. An-Najm : 13 – 18).

Kajawi punika, wonten ing Isra’ Mi’raj Nabi ningali kedadosan ingkang saget dipun dadosaken piwulang kunjuk umatipun. Umpami, Nabi ningali enten tiyang ingkang nugel ilatipun piyambak. Nalika ilat kesebat telas, tuwuh malih lajeng dipotong malih mekaten saterusipun. Nabi tangklet dhateng Jibril ingkang ngancani piyambakipun, “Sopo wong iku Jibril?” Jibril mangsul “punika yaiku tiyang ingkang remen ngapusi, wicanten awon, soho tukang fitnah”

Lajeng Nabi ningali malih tiyang ingkang dikerubuti samukawis kewan melata, lajeng piyambakipun nggaruk-nggaruk kulitipun piyambak ngantos kulit lan dagingipun telas. Saksampune dagingipun telas, tuwuh malih digaruk malih ngantos telas mekaten saterusipun. Nabi tangklet, “sopo wong iku Jibril?” Jibril mangsul, “punika tiyang ingkang wonten ing dunyo remen nglarani manah tiyang mukmin.”

Uga taksih wonten pinten-pinten kedadosan ingkang saget kita sedaya pendhet piwulang saking kedadosan Isra’ Mi’raj niki.

Hadirin jamaah Jum’at ingkang dipun rahmati Allah

Tujuan ingkang paling ageng uga inti saking isra mi’raj meniko dipun syariataken sholat. Kanti nindak’aken sholat wajib kesebat satiyang hamba njejegaken setunggal kewajiban ubudiyah ingkang saged nglerem hawa nafsu, nanemaken akhlak-akhlak mulia salebeting manah, nyucikaken jiwa saking sifat pangajrih, uthil, uga putus asa. Kanthi sholat kita sedaya saget nyuwun pitulungan dhateng Allah saking sedanten permasalahan ingkang kita sedaya majengi. Allah Ta’ala ngendiko:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣

Artinya: Hai wong-wong sing mangandel, dadekna sabar lan sholat dadi panulungmu , sayekti Allah bareng karo wong-wong sing sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Juga Firman Allah:
 ۞إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا ١٩ إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعٗا ٢٠  وَإِذَا مَسَّهُ ٱلۡخَيۡرُ مَنُوعًا ٢١  إِلَّا ٱلۡمُصَلِّينَ ٢٢ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَلَىٰ صَلَاتِهِمۡ دَآئِمُونَ ٢٣

Artinya: Saktemene menungso didadekne duweni sifat keluh kesah meneh kikir. yen dheweke dike'i kasusahan dheweke nggersulo, lan yen dheweke oleh kebecikan dheweke banget kikire, kajaba wong-wong sing ngerjakne sholat, sing dekne kabeh kuwi tetap ngerjakne sholate.” (QS. Al-Ma’arij: 19-23)

Rasulullah tiyang ingkang ngatah-ngatahaken nindakaken sholat. Ngantos-ngantos piyambakipun manggih kenikmatan lebeting sholat.

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاةِ

Didadekne penganteng-anteng atiku, yoiku sholat.”

Selajengipun wonten ing surat Al-Isra’ ayat 78 dipun sebataken bilih Isra Mi’raj meniko Nabi Muhammad pikantuk perintah Sholat.

أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمۡسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيۡلِ وَقُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِۖ إِنَّ قُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِ كَانَ مَشۡهُودٗا

Artosipun : “dekno shalat saka sakwuse srengenge tergelincir nganti wengi lan (dekno ugo shalat) subuh. Saktemene shalat subuh iku disaksekne (oleh malaikat)”

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah
Saking segi panampen sholat punika sampun istimewa. Allah merintahaken umat Islam siyam, merintahaken umat ingkang mampu nglampahi ibadah haji, merintahaken zakat cekap mandhap ayat, nanging Allah merintahaken umat Islam sholat mboten cekap namung mandhap ayat, Nabi-nipun lajeng dipun timbali. Saking segi panampen, sholat sampun istimewa. Leres menawi nabi ngginemaken. Inna masala sholati fiddin kamasali ro’si fil jasad. “Kelenggahan sholat lebet agami sami kaliyan kelenggahan sirah lebet anggota awak menungso.” Kita sedaya pitados menungso mboten gadhah tangan setunggal bokmenawi taksih saget gesang. Menungso mboten gadhah suku menawi taksih saget gesang. Nanging menungso mboten saget gesang tanpa sirah. Mekaten ugi kita sedaya ningal kelenggahan sholat puniko wonten ing agami. Amargi saking wigatinipun, ngantos Allah merintah sholat lajeng nimbali Nabi kita sedaya, Muhammad SAW.

Benjang wonten ing dinten kiamat perkawis ingkang pertama dipun tangkletaken inggih puniko masalah sholat.
أول ما يحاسب عليه العبد يوم القيامة الصلاة، فإن صلحت صلح سائر عمله وإن فسدت فسد سائر عمله رواه الطبراني

“Amal ping pisan sing arep dihisab kanggo  hamba neng dina kiamat mengko yaiku sholat. mula yen sholate becik, mula becika kabeh amale. lan nek sholate ala, rusaka kabeh amale.”

Ma’asyirol Muslimin rohimakumullah
Seyyed Hossein Nasr ngginemaken menawi pandalon (pengalaman) ruhani ingkang dipun alami Rasulullah SAW kala Mi’raj nyaosi pirso bilih hakikat spiritual saking sholat ingkang dipun tindakaken umat Islam saben dinten kalebet menawi sholat meniko miraj-nya tiyang-tiyang ingkang mukmin. Dadosipun menawi kita sedaya sanget nyimpulaken isra’ mi’raj-ipun Rasulullah SAW meniko.

Setunggal, entenipun pangrekaosan (penderitaan) lebet perjuangan ingkang disikapi kaliyan kesabaran. Kaping kalih, kesabaran ingkang dipun wales dening Allah ingkang arupi Isra’ Mi’raj. Kaping tigo, sholat dados senjata kunjuk Rasulullah SAW uga kaum Muslimin supados bangkit uga ngrebat kamenangan.

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Mugi-mugi Allah dadosaken kita sedaya klebet tiyang-tiyang ingkang istiqomah anggenipun nindakaken sholat 5 wektu lan ugi sholat-sholat sunah. Mugi-mugi sholat dados penganteng-anteng manah kita sedaya uga saget ndadosaken nyelakaken kita sedaya dhateng Gusti Allah. Amin.





Komen Via Facebook

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites