Kudus

Mau beli jajanan khas Kudus eh ada museum rumah adatnya..numpang foto..

Ngayogjokarto

Keliling nyari blangkon akhirnya dapet...

Ngaji

ngisi acara walimatul 'ursy ^_^

Penyuluh Agama Islam Kemenag Boyolali

Mau study banding ke Kemenag Jawa Barat sama DKI. nampang dulu di depan Kantor

Haji 2005

Kenangan di Arofah bersama bapak..

Selasa, 21 Oktober 2014

Khutbah Jum'at = Sumpah Pemuda

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah

Pada bulan Oktober ini, setiap tahun di Negara kita diperingati hari peringatan Sumpah Pemuda, yaitu tanggal 28 Oktober. Hari yang sangat bersejarah bagi kemerdekaan bangsa Indonesia. Karena pada masa itu bangsa Indonesia berada dalam belenggu penjajah dan kemudian para pemuda berinisiatif untuk bangkit dan bersatu mengusir penjajah. Akhirnya sepakat dan terjadilah Sumpah Pemuda.

Pada kesempatan kali ini saya hendak menengok kembali sejarah. Karena, sebagaimana kata Bung Karno “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Jika kita melihat kembali sejarah perjuangan bangsa ini, tokoh ataupun pejuang-pejuang yang membela tanah air adalah para pemuda. Apabila kita mendatangi Taman Makam Pahlawan disitu tertulis daftar pahlawan yang gugur mayoritas adalah pemuda.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Belajar dari Sumpah Pemuda, ada catatan sejarah yang sangat berharga di dalamnya. Butir-butir dalam Sumpah Pemuda itu tidak hanya semata-mata disusun untuk menjadi hasil yang membantu kaum muda menjawab kebutuhan kemerdekaan dari penjajahan saat itu. Melainkan lebih dari itu, Sumpah Pemuda telah menjadi spirit yang terus terpatri dalam hati sanubari para pemuda itu. Suatu spirit yang dibangun atas dasar kesamaan nasib dan cita-cita. Yang kemudian dibungkus dengan komitmen untuk senasib sepenanggungan sebagai satu bangsa, satu tanah air yang pertama-tama ditandai dengan disepakatinya bahasa universal antar bangsa, bahasa Indonesia.

Semangat Sumpah Pemuda mencapai klimaksnya pada 17 Agustus 1945 ketika Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sejak itu, Indonesia yang terdiri atas berbagai etnis, agama, dan golongan menjadi bangsa yang merdeka dan bersatu.

Lalu bagaimana dengan keadaan zaman sekarang? Kita bisa melihat sendiri disekitar kita. Mereka yang tawuran, terlibat pencurian, pecandu narkoba, sampai koruptor adalah para pemuda. Walau pun masih banyak pemuda yang mengisi kemerdekaan ini dengan mengukir prestasi. Melalui belajar sungguh-sungguh dan berprestasi melalui olahraga, pendidikan dan lain sebagainya. Mereka yang mengharumkan nama bangsa dikancah internasional juga pemuda.

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Masa muda merupakan masa sempurnanya pertumbuhan fisik dan kekuatan seorang manusia. Itu merupakan nikmat besar dari Allah Ta`ala yang seharusnya di­manfaat­kan dengan sebaik-sebaiknya untuk amal kebaikan guna meraih ridha-Nya.

Masa muda adalah masa yang penuh dengan godaan untuk memperturutkan hawa nafsu. Seorang pemuda yang sedang dalam masa pertumbuhan fisik maupun mental, banyak mengalami gejolak dalam pikiran maupun jiwa, yang tak jarang menyebabkan hidup­nya terguncang.

Dalam kondisi seperti itu, peluang terjerumus kedalam keburukan dan kesesatan yang dibisikkan setan sangatlah besar. Apalagi Iblis yang telah bersumpah di hadapan Allah SWT bahwa dia akan menyesatkan manusia dari jalan-Nya dengan menempuh segala cara,

“Iblis berkata: ‘Karena Engkau telah menghukumku ter­­sesat, aku benar-benar akan (menghalangi-halangi) ma­nusia dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS al-A`raf: 16-17)

Agama Islam memberi perhatian sangat besar ter­hadap upaya perbaikan mental para pemuda. Karena generasi muda hari ini adalah pemeran utama di masa yang akan datang. Merekalah fondasi yang menopang masa depan umat ini. 

Karena itu, banyak ayat al-Qur’an dan hadis yang mendorong kita agar membina dan mengarahkan para pemuda kepada kebaikan. Karena jika mereka baik maka umat ini akan memiliki masa depan yang cerah. Generasi tua akan digantikan dengan generasi muda yang shaleh.

Rasulullah SAW juga bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan  kecuali naungan-Nya: …dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia

Dalam Al-Qur’an, pemuda disebut dengan fatan. Misalnya sebutan fatan untuk Nabi Ibrahim muda, yang ketika itu sedang dicari oleh Raja Namrud karena dituduh menghancurkan patung-patung berhala. Fatan yuqaalu lahu Ibrahim. Juga sebutan fityatun untuk para pemuda Ashabul Kahfi. Innahum fityatun amanuu birabbihim wa zidnaahum hudaa.

Sedangkan dalam Hadits, pemuda disebut sebagai syaab. Misalnya dalam hadits “Lima Perkara Sebelum Lima Perkara Lainnya”: syabaabaka qabla haramika (masa mudamu sebelum masa tuamu). Juga dalam hadits “Tujuh Golongan Yang Mendapat Naungan Allah”: syaab nasya-a fii ‘ibadatillah (seorang pemuda yang tumbuh besar dalam ibadah dan taat kepada Allah).

Dari sisi usia, pemuda terbagi ke dalam dua fase yaitu fase puber/remaja berusia antara 10 sampai 21 tahun, dan fase dewasa awal berusia antara 21 sampai 35 tahun. Sebagian berpendapat bahwa siapapun yang berusia dibawah 40 tahun semenjak ia menjadi baligh bisa disebut sebagai pemuda. Barangkali patokannya adalah usia kerasulan Muhammad saw, yaitu 40 tahun.

Mengapa pemuda? Alasan pertama, karena pemuda adalah generasi penerus, yaitu generasi yang meneruskan generasi sebelumnya yang baik. Allah SWT berfirman,
Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun pahala amal mereka.” (QS. Ath-Thur : 21)

Alasan kedua, karena pemuda adalah generasi pengganti, yakni menjadi pengganti generasi sebelumnya yang buruk dan tidak taat kepada Allah. Allah SWT berfirman,
 “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintainya.” (QS. Al-Maidah : 54)

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Lahirnya sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang kini kita kenang selalu, adalah bukti kongkrit pentingnya masa muda sebagai titik tolak idealisme menuju pembaharuan hidup yang lebih baik. Baik secara individu, sosial, politik dan negara. Karena itu, setiap kita berbicara perbaikan sebuah negara, mulailah pertama kali dari perbaikan genarasi mudanya. Jangan bermimpi memperbaiki negara, bila pemudanya hancur secara spiritual, hidup dalam gelimang dosa dan kebobrokan moral. Generasi muda hari ini adalah cerminan masa depan sebuah negara. Oleh karena itu, sudah saatnya kini generasi muda dijaga. Jangan biarkan mereka berjalan tanpa tuntunan. Tugas generasi tua adalah memberikan bimbingan, bukan melemparkan mereka ke lubang kehancuran. Bukan orang tua yang baik, bila membiarkan anak-anak mudanya rusak iman dan idealismenya.

Ingat, bahwa hanya dengan iman kokoh anak-anak muda akan menjadi sukses. Sukses secara keduniaan, lebih dari itu sukses secara akhirat. Maka sungguh sangat mengerikan bila kurikulum pendidikan hanya fokus kepada masalah-masalah keduniaan. Di sana-sini kita masih menyaksikan banyak sekolah yang hanya bisa mengantarkan anak-anak didiknya kepada keberhasilan secara dunawi, namun secara akhlak dan agama mereka gagal. Akibatnya banyak anak muda yang terbiasa berbuat maksiat dengan tanpa merasa malu di depan siapapun. Na’udzubillah..

Untuk mewujudkan pemuda yang berkualitas, maka paling tidak ada tiga institusi yang mempunyai pengaruh sangat efektif, yaitu:
a.       Keluarga : dalam pengertian sempit mencakup kedua orangtua, saudara dan kerabat. Dalam pengertian luas mencakup teman, tetangga, masyarakat secara keseluruhan.
b.      Masjid : memberi pengaruh yang baik bagi jiwa pemuda.
c.       Sekolah meliputi unsur-unsur yang ada didalamnya seperti buku, peralatan, metode, dan hal-hal yang mempengatuhi.

Para pemuda sangat dituntut untuk mempersiapkan dirinya guna menyongsong masa depan agama, bangsa dan negara yang cerah.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Akhir kata, marilah kita mempersiapkan generasi muda untuk membangun kehidupan masyarakat bernegara yang bermoral dan berakhlak baik.



Kamis, 26 Juni 2014

Tradisi Padusan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang dinanti-nantikan oleh kaum muslimin diseluruh dunia. Menjelang bulan puasa masyarakat Jawa khususnya mempunyai tradisi “nyadran” dan “padusan”. Nyadran biasanya diawali dengan acara mendoakan arwah para leluhur di makam dan diisi siraman rohani oleh seorang ustadz atau da’I atau mubaligh. Selanjutnya, tradisi ‘padusan’. Apa ini termasuk syariat yang diajarkan Nabi? Tentu saja tidak? Brarti kalau tidak diajarkan Nabi termasuk syari’at baru? Juga tidak. Karena padusan ini bukan syari’at. Terus melanggar ajaran Islam dan termasuk ajaran sesat? Tunggu dulu. Jangan memvonis sesuatu itu dilarang, sesat dan lain-lain.
Saya sendiri belum tahu siapa yang mengadakan pertama kali ‘padusan’. Ketika masih kecil saya juga sering padusan menjelang puasa di sumur saudara saya. Padusan berasal dari kata ‘adus’. Berarti mandi. Apa ada yang salah dengan orang mandi?  Kalau dalam qaidah fiqih sesuatu tergantung niatnya. Kalau kita mandi sunah sholat Jum’at akan mendapat pahala. Bahkan, walaupun kita mandi biasa dengan niat menghilangkan bau badan, itu juga ada pahalanya.

Namun dalam perkembangannya saat ini, tradisi padusan ini telah dilakukan oleh banyak kaum muslimin secara keliru. Ini yang tidak boleh. Yaitu, padusan ‘berjamaah’  dikolam renang atau sungai  yang disitu terjadi campur baur antara laki-laki dan perempuan.  Ini yang tidak boleh.
Saya teringat sebuah kisah. Zaman dulu ada seorang ahli maksiat, meninggalkan sholat, membuat resah masyarakat. Tapi, ketika masuk bulan Ramadhan dia membersihkan diri dengan mandi taubat kemudian memakai pakaian yang bagus dan wangi-wangian.  Sholat yang ia tinggalkan semua ia qodhoni. Dan dia masuk bulan Ramadhan benar-benar dalam keadaan taubat. Dan ketika meninggal Allah telah ridho padanya.

Dari kisah tersebut kita bisa mengambil hikmah dari ‘padusan’ ini yaitu dengan niat membersihkan diri,membersihkan kotoran-kotoran yang menempel di badan, membersihkan dosa-dosa dengan taubat kepada Allah supaya kita masuk bulan Ramadhan telah menjadi manusia yang bersih lahir dan bersih batin. Kalau kita tidak melaksanakan padusan juga tidak apa-apa, kalau melakukan sebaiknya jangan berbaur dengan yang bukan muhrim.

Rabu, 25 Juni 2014

Dialog Imajiner dengan Gus Dur dan Sunan Kalijaga

Malam itu, hawa dingin habis hujan membuat keadaan menjadi enak buat pejamkan mata. Tapi, tiba-tiba saya kangen sama Gus Dur. Hah, sowan beliau sekarang aja. Batinku...

Ku lihat Gus Dur berada di tepi sebuah telaga taman yang belum pernah saya lihat keindahannya. Beliau sedang ngobrol dengan seseorang yang berpakaian ala Jawa plus blangkon dikepala. Sedang Gus Dur memakai kopiah kebanggaannya yg berwarna coklat bertuliskan 'Gus Dur'.

"Assalamu'alaikum, gus.." sapaku ketika sudah dekat dengan beliau. Ku cium tangan beliau.
"Wa'alaikumsalam.. Awakmu to, Wan. dewe'an?" jawab Gus Dur.
"Injih, gus"
"Lha endi bojomu. Gak mbok jak ta?" tanya Gus Dur.
"Boten, gus"
"Id, iki si Iwan manten anyar. Rene bojone gak diajak opo arep golek bidadari kene yo?" canda Gus Dur sambil nengok temannya yang ternyata Raden Sahid alias Sunan Kalijaga.

"Hehe.. Ada-ada saja njenengan. Garwo kulo capek, gus. Tadi sudah tidur pulas. Saya tinggal deh.. " jawabku memberi alasan.

"Awakmu ki pancen SS.. Sluman Slumun, Slintat Slintut. Ada kabar apa di Indonesia?" tanya Gus Dur.

"Masih panas, gus. Panas situasi perpolitikan. Malah sekarang njenengan digunakan buat menarik massa."

"Sopo iku, Imin neh?" tanya Gus Dur. Kemarin beliau marah-marah ketika saya kabari bahwa fotonya digunakan kampanye partainya Cak Imin.

"Boten, gus.."

"Wah, jian.. Sampean itu walaupun sudah tidak ada tapi masih laku.. Lha, saya?? Ndak ada yang majang foto saya buat kampanye."kata Kanjeng Sunan.

"Itu berarti saya lebih ganteng dari sampean.. Hahaha.." jawab Gus Dur dengan tawa khasnya.

"Gus, dulu katanya njenengan pernah bilang kalau pak Prabowo itu orangnya ikhlas terhadap rakyat. Nopo leres?" tanyaku penasaran.

"Aku wes lali.." jawab Gus Dur enteng.

"Menurut njenengan, yang pantas jadi presiden siapa? Prabowo nopo Jokowi?" tanyaku lagi.

"Yang pantas? Yang pantas ya..."
"Saya...." sahut Kanjeng Sunan. Kemudian kami pun tertawa. Gus Dur pun terpingkal-pingkal. Aku pun tak mengira Kanjeng Sunan juga bisa bercanda.

"Ini para kyai suaranya pecah, gus. Kyai Said ke Prabowo, Kyai Hasyim Ke Jokowi. Jadi kasihan grass root Nahdliyin. Bingung mau ikut siapa?" kataku.

"Ndak usah bingung. Ikut kang Said juga bagus, ikut pak Hasyim juga baik. Yang penting jangan ikut saya. Saya tetap golput.. Hehe" kata Gus Dur.

"Sekarang ini ramai fitnah memfitnah antar pendukung capres. Saling mencari kejelekan lawannya. Apa ini sudah resiko demokrasi?" tanyaku.

"Ya, itu proses. Menjadi pembelajaran dalam demokrasi. Tergantung kedewasaan masyarakat. Kalo dewasa tak akan terpancing dengan berita-berita yang belum jelas."

"Kalau menurut njenengan gimana kanjeng sunan?" tanyaku pada Sunan Kalijaga.

"Zaman saya dulu masih kerajaan belum ada demokrasi. Ya pesan saya agar tetap menjaga kerukunan antar umat beragama, mempertahankan tradisi yang baik yang sesuai dengan syari'at."

"orang-orang sekarang lucu.. Lebih lucu dari Gus Dur ketika mengeluarkan joke-joke." kataku.

"Lucu gimana?" Tanya kanjeng Sunan.

"Lucu. Dulu cinta sekarang benci.. Dulu benci sekarang cintrong.. Hehe" jawabku.

"Gimana maksudnya? Saya kok belum faham?" tanya Sunan.

"Itu lho, dulu ada yg menjelek-jelekkan sekarang malah jadi pendukung. Dulu ada yang jadi pasangan sekarang dah pisah menjadi lawan." Gus Dur menjelaskan.

"Leres, gus. Ehm, saya pamit dulu ya gus. Dah malem."
"Emang awakmu mou rene wes bengi. Yo wes ndang mulih. Mesakno bojomu kademen." kata Gus Dur.

"Nggih, gus. Kulo mung kangen kalih njenengan. Amargi yen pemilu kados ngoten jenengan medal melih.."

"Yo..yo.. Lha awakmu pilih sopo presidenne?" tanya Gus Dur.

"Kulo pilih njenengan, gus.. Hehe.. Assalamu'alaikum.."

"Wa'alaikumsalam...."

Kamis, 16 Januari 2014

Khutbah Jum'at => Taubat Tak Harus Nunggu Dosa

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita. Sesungguhnya hanya taqwalah yang dapat menylematkan kita dalam kehidupan di dunia ini dan akhirat nanti. Diatara jalan yang akan menuntun kita meraih ketaqwaan adalah jalan taubat. Barang siapa bertaubat dari segalam macam tindak keburukan pastilah dia akan meraih ketaqwaan. Karena ketaqwaan itu  menuntut diri menghindar dari kemaksiatan.

Kata taubat sudah menjadi bahasa keseharian dalam kehidupan kita. Taubat selalu diidentikkan dengan para pendosa. Taubat sering disandarkan kepada mereka yang bergelimang dalam dunia ‘gelap’ penuh dengan kemaksiatan. Demikianlah sehingga para pelaku dosa itu harus kembali hidup di jalan yang lurus dengan menghindarkan diri dari kesesatan.

Memang demikianlah makna taubat secara bahasa yaitu kembali. Artinya, kembali meinggalkan perkara yang tercela dalam pandangan agama. Perkara yang tercela sangat banyak ragam dan tingkatannya. Bagi mereka yang berkecimpung dalam kehidupan yang sarat akan kemaksiatan maka taubat itu harus dilakukan untuk menghindarkan diri dari kemaksiatan tersebut. Bagi mereka yang keseharainnya selalu mengerjakan dosa-dosa kecil, maka taubatnya adalah menghindar dari dosa-dosa kecil tersebut. Karena jika ditumpuk, maka yang kecil akan menjadi besar juga. Demikian juga bagi mereka yang hiruk-pikuknya dalam kubangan kemakruhan (perkara yang dibenci agama) maka pertaubatannya dengan menghindar dari kemakruhan. Setiap pribadi harus selalu bertaubat menurut kapasitas masing-masing.

Ma’asyiral Muslimin Rahimkumullah

Bertaubat tidaklah harus menunggu perbuatan dosa terlebih dahulu, tetapi setiap dosa harus segera ditaubati. Karena pada dasarnya manusia yang hidup di dunia ini berada dalam kubangan kesalahan. Baik kesalahan dhahir yang kasat mata maupun kesalahan bathin yang dilakukan hati. Sebagaimana Rasulullah saw pernah menerangkan hal ini kepada Abdillah bin Mas’ud “Barang siapa bertaubat tetapi tidak meninggalkan kesombongan dan kecongkakannya, berarti dia belum bertaubat”

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Taubat merupakan kesempatan yang disediakan oleh Allah swt kepada hambanya yang telah melakukan kesalahan. Taubat adalah peluang emas bagi manusia untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Oleh karena itulah jika kita ingin disayang olehnya segeralah bertaubat.
إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين
Allah swt sungguh mengistimewakan para pertaubat, apalagi jika mereka adalah orang-orang muda. Sungguh Allah swt. akan mengganti segala keburukannya menjadi kebaikan
إلا من تاب وأمن وعمل عملا صالحا فأولئك يبدل الله سيئاتهم حسنات
kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.  

Jama’ah Jum’ah yang Dimuliakan Allah
Demikianlah Allah swt benar-benar mengistimewakan mereka yang bertaubat sebagaimana kisah seorang pemabuk ketika berjumpa degan Umar bin Khattab, sedangkan dia sedang membawa botol berisi menuman keras. Diceritakan pada sebuah lorong kota Madinah, Umar bin Khattab tak sengaja berjumpa dengan seorang pemuda yang sedang berjalan dengan menenteng minuman keras. Begitu pemuda itu sadar sosok yang berpapasan dengannya adalah Umar, seketika itu pula secara reflek ia sembunyikan minuman keras dibalik jubahnya.

Lalu Umar bertanya tentang botol apakah gerangan yang berada dibalik jubahnya tersebut. Begitu malunya pemuda itu akan tingkah lakunya sehingga ia berdo’a dalam hati “Ya Allah janganlah Engkau membuka rahasia –keburukan-ku. Dan janganlah Engkau permalukan diriku di hadapan Umar bin Khattab, tutuplah semua itu dan aku berjanji tidak akan minum-minuman keras lagi selamanya”.

Kemudian pemuda itupun berbohong dan menjawab bahwa yang ada di balik jubahnya adalah cukak “Ya Amiral Mukminin yang aku bawa ini adalah cukak”. Umarpun menuntut lebih jauh “bukalah sehingga aku mengetahui apa yang sebenarnya kau sembunyikan dibalik jubahmu itu”.

Maka pemuda itupun mengeluarkan botol yang berada di balik jubahnya dan masyaallah minuman keras itu telah berubah menjadi cukak yang nikmat dan segar.

Inilah bukti betapa Allah swt memang mengistimewakan para pertaubat. Mereka yang telah bertekad bulat meninggalkan keburukan pasti Allah swt ganti dengan kebaikan ‘yubaddilullahu sayyiatihim hasanatin’

Jama’ah Jumah yang Berbahagia
Kisah di atas menjadi petunjuk bagi kita semua bahwa modal bertaubat bukanlah baju koko, peci ataupun sorban dan sajadah, tetapi dengan tekad bulat dan niat yang mantab dalam hati untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, serta kesadaran bahwa hanya Allahlah yang memberi petunjuk sekaligus Sang Maha Penerima Taubat.
Bukankah pengakuan akan kesalahan dan kebulatan tekad dari Nabi Adam as. sehingga Allah swt menerima pertaubatannya setelah Nabi Adam as. terbujuk syaitan memakan buah khuldi di surga.
قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.
Jama’ah Jum’ah yang dimulyakan Allah

Sebesar apapun dosa kita, jika seorang hamba mampu menghadirkan ketulusan bertaubat, maka Allah Ta'ala niscaya akan menerima taubatnya, kendati belum pernah ‘beramal shalih’ sekali pun.

Subhanallah , betapa beruntung menjadi umat Muhammad. Taubatnya mudah diterima. Sementara Adam a.s dengan kesalahan yang kecil telah didera dengan hukuman yang panjang. Kondisi ini sempat membuat Nabi Adam a.s iri hati.

Disebutkan bahwa Nabi Adam a.s berkata: “Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan kepada umat Muhammad empat kelebihan yang tidak diberikan kepadaku,” katanya. Apa itu?

Pertama, kata Nabi Adam, taubatku hanya diterima di kota Makkah, sementara taubat umat Muhammad diterima di sebarang tempat alias di mana saja.
Kedua, “Pada mulanya aku berpakaian, tetapi ketika aku berbuat durhaka kepada-Nya, maka Allah SWT menjadikan aku telanjang. Sebaliknya dengan umat Muhammad yang berbuat durhaka dengan telanjang, tetapi Allah tetap memberi mereka pakaian.”
Ketiga, lanjut Nabi Adam, setelah aku durhaka kepada Allah SWT, maka Dia langsung memisahkan aku dengan isteriku. Tetapi tidak untuk umat Muhammad. Mereka berbuat durhaka, sementara Allah SWT tidak memisahkan isteri mereka.
Yang keempat, “Memang benar aku pernah durhaka kepada Allah di dalam surga dan aku kemudian dikeluarkan dari surga, sebaliknya umat Muhammad durhaka kepada Allah, tetapi justru dimasukkan ke dalam surga apabila mereka bertaubat kepada-Nya.”

Terdapat kisah lain. Nabi Muhammad SAW pernah didatangi Jibril dengan membawa kabar baik untuk umatnya. Jibril menyampaikan salam Allah kepada Baginda Rasul lalu memberitahu bahwa Allah akan mengampuni dosa umatnya setahun sebelum dia meninggal sekiranya dia bertaubat.

Tetapi Baginda Nabi mengatakan setahun terlalu lama. Bisa saja kesalahan terus terjadi. Nabi SAW minta Jibril kembali menghadap Allah minta dispensasi. Jibril pun menghadap Allah SWT.
Ketika berjumpa Nabi Muhammad Jibril mengabarkan bahwa Allah akan mengampuni dosa umat Muhammad sebulan sebelum dia meninggal dunia, jika dia bertaubat. Nabi pun mengetahui kelemahan umatnya dan meminta Jibril menghadap Allah sekali lagi.

Tanpa payah Jibril menghadap lagi. Kali ketiga berjumpa Nabi, Jibril mengatakan Allah akan menerima taubat umat Muhammad sehari sebelum meninggal dunia. Sebagai Nabi yang sangat menyayangi umat, Baginda masih menaruh harapan agar Allah melonggarkan syarat taubat bagi umatnya. Nabi meminta Jibril menghadap Allah lagi. Pada kali keempat, Jibril menemui Nabi dan mengatakan Allah bersedia menerima taubat umatnya selagi nyawanya belum sampai tenggorokan.

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Demikianlah khutbah jum’ah kali ini semoga kita semua tergolong orang yang bertaubat. Sesungguhnya mereka yang bertaubat akan diselamatkan Allah swt dari perbuatan-perbuatan yang buruk.
من أحكم مقام توبته حفظه الله تعالى من سائر الشوائب التى فى الأعمال
Barang siapa memperkuat taubatnya, pasti dijaga Allah dari segala hal yang merusak keikhlasan dalam beramal.

جعلنا الله واياكم من الفائزين الامنين, وأدخلناواياكم فى عباده الصالحين. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. وإذ أخذنا ميثاق بني إسرائيل لا تعبدون إلا الله وبالوالدين إحسانا وذي القربى واليتامى والمساكين وقولوا للناس حسنا وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة ثم توليتم إلا قليلا منكم وأنتم معرضون.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Komen Via Facebook

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites