Kudus

Mau beli jajanan khas Kudus eh ada museum rumah adatnya..numpang foto..

Ngayogjokarto

Keliling nyari blangkon akhirnya dapet...

Ngaji

ngisi acara walimatul 'ursy ^_^

Penyuluh Agama Islam Kemenag Boyolali

Mau study banding ke Kemenag Jawa Barat sama DKI. nampang dulu di depan Kantor

Haji 2005

Kenangan di Arofah bersama bapak..

Thursday, January 14, 2016

Khutbah Jum'at = Menggapai Rezeki Berkah



Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan apa yang diperintah dan meninggalkan segala larangan-larangan. Tak lupa kita harus senantiasa mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala kenikmatan yang telah diberikan kepada kita. Utamanya Kenikmatan yang berupa rezeki atau rejeki.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah
Allah adalah Dzat Maha Pemberi Rezeki dan rezeki kita telah dijamin dan ditentukan Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:
وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا
Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”

Sebelum kita lahir di dunia ini rezeki kita telah ditentukan oleh Allah. Tidak hanya rezeki, tapi ajal kita, amalan kita sudah ditentukan oleh Allah ketika malaikat meniupkan ruh ke dalam rahim. Juga hidup kita didunia ini semua telah ditentukan oleh Allah. Bukan kita yang menentukan. Allah yang menentukan kita hanya menerima dan berikhtiar.

نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَرَفَعۡنَا بَعۡضَهُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ لِّيَتَّخِذَ بَعۡضُهُم بَعۡضٗا سُخۡرِيّٗاۗ وَرَحۡمَتُ رَبِّكَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ ٣٢
Artinya: “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Andaikata manusia bisa menentukan penghidupannya tentulah manusia menginginkan hal-hal yang baik atau yang indah. Manusia pasti ingin punya wajah yang ganteng atau cantik. Mempunyai badan yang tinggi dan gagah. Hidup bergelimang kekayaan daripada kemiskinan, dan lain-lain. Oleh karena itu, Allah tidak menjadikan wajah elok, kekayaan, tinggi jabatan sebagai tolok ukur kemuliaan seseorang. Allah mengukur kemuliaan dari amal sholih dan ketaqwaan.

Ma’asyirol Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Seorang muslim harus berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah takdir Allah. Jika kita berkeyakinan seperti itu maka kita akan merasakan kebahagiaan hidup di dunia. Merupakan pemahaman yang keliru ketika kita sudah yakin bahwa rezeki sudah ditentukan Allah kemudian kita hanya duduk berpangku tangan tanpa ikhtiar dan usaha, bermalas-malasan. Padahal Allah telah memerintahkan kita untuk bekerja keras tanpa harus melupakan akherat.
Firman Allah

وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ٧٧
Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qoshosh:77)

Jika kita hidup bisa memilih, pasti kita akan memilih hidup bergelimang harta. Akan tetapi sebagaimana yang telah saya sebutkan tadi bahwa hidup kita telah ditentukan Allah. Seberapa banyak atau sedikit harta kita, harus kita terima dengan lapang dada. Bukanlah banyak-sedikitnya harta yang menjadi ukuran kebahagiaan. Namun yang menjadikan kebahagiaan adalah bila harta tersebut diberkahi.

Ma’asyirol Muslimin Jamaah Jum’ah yang berbahagia
Harta yang berkah adalah harta yang mendatangkan kebaikan dan bertambah. Berkah (barokah) artinya ziyadatul khair, yakni “bertambah-tambahnya kebaikan”
Harta yang berkah akan membuat pemiliknya selalu tenang. Harta yang berkah tidak selalu harus banyak, tapi selalu ada ketika di butuhkan. Harta yang berkah meskipun sedikit mampu menghidupi dan mencakupi apa saja yang dibutuhkannya. Harta yang berkah tidak saja berkah bagi pemilik harta, tapi juga orang lain bisa ikut merasakannya. Sedikit harta tapi berkah lebih baik daripada banyak harta namun tidak berkah. Bisa saja harta banyak tapi kemudian dirampok. Harta banyak kemudian sakit berkepanjangan sehingga habis untuk berobat. Nauzubillahmin dzalik.

Lantas bagaimana usaha kita agar harta atau rezeki kita diberkahi?
Pertama, agar harta berkah adalah jika harta tersebut didapat dari usaha yang halal.
إن الله تعالى طيب لا يقبل إلا طيبا
“Sesungguhnya Allah Maha baik, dan tidak menerima kecuali yang baik” (HR. Bukhari Muslim).
Hadist ini menjelaskan bahwa harta yang berkah adalah harta yang disenangi Allah. Ia tidak harus banyak. Sedikit tapi berkah lebih baik daripada yang banyak tetapi tidak berkah. Untuk mendapatkan keberkahan harta harus halal. Karena Allah tidak mungkin memberkahi harta yang haram. Mencari rezeki yang halal adalah perintah Allah. Sebagaimana firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِلَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqoroh : 172)

Allah SWT dalam surat Al Maidah ayat 100 menjelaskan bahwa tidaklah sama kwalitas antara harta haram dengan harta halal, sekalipun harta yang haram begitu menakjubkan banyaknya. Sekali lagi tidaklah sama antara harta halal dengan harta haram. Harta haram dalam ayat di atas, Allah sebut dengan istilah khabits.

قُل لَّا يَسۡتَوِي ٱلۡخَبِيثُ وَٱلطَّيِّبُ وَلَوۡ أَعۡجَبَكَ كَثۡرَةُ ٱلۡخَبِيثِۚ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ١٠٠
Artinya: “Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan"

Kata khabits menunjukkan sesuatu yang menjijikkan, seperti kotoran atau bangkai yang busuk dan tidak pantas untuk dikonsumsi karena akan merusak tubuh: secara fisik maupun mental. Tidak ada manusia yang mau memakan kotoran dan yang busuk. Sementara harta halal disebut dengan istilah thayyib, artinya baik, menyenangkan dan sangat membantu kesehatan fisik dan mental jika dikonsumsi.

Ma’asyirol Muslimin Jamaah Jum’ah yang berbahagia
Kedua, agar harta berkah selanjutnya adalah mengeluarkan zakatnya (jika mencapai nisab) dan menjadikannya sebagai sarana ibadah. Zakat, infak, sedekah, membantu sesama,
Dalam masyarakat, banyak kita jumpai orang yang hidupnya telah mapan, bahkan kaya raya, tapi tetap saja kikir, pelit, bakhil. Bahkan semakin kaya semakin bakhil, sehingga semakin hari semakin merasa kurang saja. Karena merasa selalu kekurangan, ia pun enggan bersedekah. Padahal, menurut Al-Quran, kalau kita ingin dicukupkan rezeki oleh Allah SWT, haruslah bersedia berbagi. Dan ketahuilah bahwa sifat kikir pelit dan eman untuk menginfaqkan harta adalah bisikan dari syetan. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 268.

ٱلشَّيۡطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلۡفَقۡرَ وَيَأۡمُرُكُم بِٱلۡفَحۡشَآءِۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغۡفِرَةٗ مِّنۡهُ وَفَضۡلٗاۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ٢٦٨
Artinya: “Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna ayat "Syetan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan", maksudnya: syetan menakut-nakuti kalian dengan kefakiran supaya kalian tetap menggenggam tangan kalian, sehingga tidak menginfakkanya dalam keridhaan Allah.

Menurut Al-Jazairi, ayat "Dan menyuruh kamu berbuat buruk" berarti syetan menyeru kalian untuk mengerjakan perbuatan buruk, di antaranya bakhil dan kikir. Karenanya Allah Ta'ala memperingatkan para hamba-Nya dari syetan dan godaannya, lalu mengabarkan bahwa syetan menjanjikan dengan kefakiran, artinya: menakut-nakuti mereka dengan kemiskinan sehingga mereka tidak mengeluarkan zakat dan shadaqah. Sebaliknya ia menyuruh mereka untuk berbuat buruk sehingga mengeluarkan harta mereka dalam keburukan dan kerusakan, serta bakhil mengeluarkannya untuk kebaikan dan kemaslahatan umum. Padahal kenyataannya sebaliknya. Harta yang dikeluarkan di jalan Allah akan mendatangkan keberkahan.

Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia

Diakhir khutbah ini saya berpesan. Marilah kita mencari rezeki Allah yang telah Allah sediakan untuk kita dengan cara yang halal agar kita hidup diberikan keberkahan. Amin.

Thursday, January 7, 2016

KHUTBAH JUM'AT =>UJIAN BAGI SEORANG MUSLIM


اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله.اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أما بعد فياعباد الله أوصيكم ونفسى بتقوى الله فقد فاز المتقون, اتقو الله حق تقاته ولاتموتن ألا وأنتم مسلمون. وقد قال الله تعالى فى القرأن الكريم وَإِن تَصبِرُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِن عَزمِ ٱلأُمُورِ

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah.

Marilah kita senantiasa mensyukuri nikmat Allah SWT kepada kita yang tiada henti. Mulai dari kita bangun pagi sampai kita tidur lagi nikmat Allah tiada putus. Jika kita mensyukuri nikmat Allah maka akan mudah bagi kita untuk menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya. 

Oleh karena itu, mumpung kita masih diberi nikmat Allah yang berupa kesehatan, di siang hari ini marilah kita pergunakan untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan beribadah kepadaNya. Jangan kita menunggu ujian ataupun cobaan dari Allah untuk menjadi hamba yang taat.
Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia

Kita hidup mulai dari akil baligh sampai kita meninggal adalah ujian. Ujian yang nantinya akan dinilai oleh Allah berdasarkan amal. Dengan adanya ujian akan diketahui mana hamba Allah yang baik amalnya. Sebagaimana firman Allah:

تَبَٰرَكَ ٱلَّذِي بِيَدِهِ ٱلۡمُلۡكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ١ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ ٢

Artinya : “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk:1-2)

Seringkali kita menganggap sama antara ujian dan cobaan. Ujian ya cobaan. Cobaan ya ujian. Bukan. Lalu, apakah perbedaan antara ujian dan cobaan?
Ujian adalah suatu masalah yang diberikan kepada kita untuk mengetahui seberapa tinggi kualitas kita. Jika lulus ujian, berarti kualitas meningkat. Sedang cobaan hampir sama dengan ujian, akan tetapi memiliki konotasi yang agak berbeda, jika ujian menjurus pada kenaikan tingkat, maka cobaan hanya mencoba apakah kita bisa bertahan.

Adakalanya kehidupan sebelum baligh pun merupakan ujian. Seperti orang yang terlahir dalam keadaan tidak sempurna. Memiliki cacat fisik maupun mental. Ujian secara fisik ini termasuk kategori fi anfus dalam bahasa Al-Qur’an. Sebagaimana firman Allah:

لَتُبۡلَوُنَّ فِيٓ أَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡ

Artinya: “Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu.” (QS. Ali-Imron:1)

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah

Ujian Allah yang diberikan kepada kita bisa berupa dua hal. Yaitu, ujian yang berbentuk kenikmatan dan ujian yang berbentuk musibah. Namun seringkali kita menyangka bahwa ujian adalah musibah. Sedang kenikmatan bukan ujian. Bagi orang beriman sebenarnya rumus umum tentang ujian adalah bahwa orang yang lebih kuat imannya ia akan mendapat ujian yang lebih berat. Seperti anak SMA akan mendapat soal ujian yang lebih sulit dibanding anak SMP. Begitu juga anak SMP akan mendapat soal ujian yang lebih sulit dari anak SD. Artinya, semakin tinggi keimanan seseorang semakin berat ujiannya.  Rasulullah pernah menjawab pertanyaan Saad bin Abi Waqash mengenai tingkat ujian tersebut.

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah)

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah

Kita bisa melihat dalam sejarah, betapa ujian yang dialami para Nabi dan Rasul sangat berat. Begitu juga ujian yang dialami para wali Allah. Jika ujian berat dan kita berhasil melaluinya maka pahala yang besarpun akan kita dapatkan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,
وَاِذَا عَظُمَت المِحْنَةُ كَانَ ذَلِكَ لِلْمُؤْمِنِ الصَّالِحِ سَبَبًا لِعُلُوِّ الدَرَجَةِ وَعَظِيْمِ الاَجْرِ
Cobaan yang semakin berat akan senantiasa menimpa seorang mukmin yang sholih untuk meninggikan derajatnya dan agar ia semakin mendapatkan ganjaran yang besar.

Dan ujian merupakan tanda cinta kasih Allah kepada hambaNya. Sebagaimana sabda Nabi.

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sesungguhnya balasan terbesar dari ujian yang berat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridho, maka Allah pun ridho. Dan barangsiapa murka (tidak suka pada cobaan tersebut, pen), maka baginya murka Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah.

Janganlah kita mengira bahwa ujian hanya berupa musibah seperti bencana, sakit, miskin, bangkrut, kecelakaan, dan lain sebagainya. Akan tetapi yang namanya jabatan, kekayaan, kesenangan, kekuasaan juga merupakan ujian. Bahkan ujian tipe kedua ini seringkali lebih berat. Tidak sedikit yang bisa menghadapi ujian tipe kedua ini. Banyak orang yang diuji Allah dengan kemiskinan ia mampu menghadapinya. Ia mampu bersabar bahkan mampu menambah ibadahnya kepada Allah. Namun, begitu diberi kekayaan ia lupa dengan ibadah-ibadahnya. Ia sibuk dengan hal-hal yang bersifat dunia sehingga melupakan ibadahnya yang merupakan amal akherat.

Lantas apa bekal yang harus kita miliki untuk menghadapi ujian dari Allah? Baik berbentuk ujian kesusahan maupun ujian kenikmatan? Yang harus kita miliki adalah sabar dan taqwa.

وَإِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ١٨٦

Artinya: “Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”  (QS. Ali-Imron:186)

Bersabar dan bertaqwa itulah kunci menghadapi ujian. Bentuk kesabaran saat menghadapi ujian kesusahan adalah dengan mengedepankan sikap ridha pada Allah atas taqdirNya, mengambil hikmah dari ujian tersebut serta berikhtiar supaya dikeluarkan dari kesulitan-kesulitan yasng dihadapinya. Sedang bentuk kesabaran terhadap ujian yang berupa kenikmatan berupa kekayaan, jabatan, kesenangan adalah dengan bersyukur dan berhati-hati agar tidak terjerumus pada hal-hal yang berlebihan, hal yang diharamkan, serta menyadari bahwa apa yang kita lakukan ada dalam pengawasan Allah SWT.

Mereka yang sabar akan menerima ganjaran pahala yang tidak terbatas dan memudahkannya untuk menjadi ahli syurga. Firman Allah S.W.T:

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠

Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Az-Zumar:10)

Semoga Allah memberi taufik dan kekuatan kepada kita dalam menghadapi setiap ujian.
بارك الله لى ولكم فى القرآن العظيم، ونفعنى وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وتقبل منى ومنكم بتلاوته إنه هو السميع العليم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم



Thursday, November 5, 2015

Khutbah Jum'at => Penghambat Keshalihan Seseorang


اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ مَنْ تَوَكَّلَ عَلَيْهِ بِصِدْقِ نِيَّةٍ كَفَاهُ وَمَنْ تَوَسَّلَ إِلَيْهِ بِاتِّبَاعِ شَرِيْعَتِهِ قَرَّبَهُ وَأَدْنَاهُ وَمَنِ اسْتَنْصَرَهُ عَلَى أَعْدَائِهِ وَحَسَدَتِهِ نَصَرَهُ وَتَوَلاَّهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ حَافَظَ دِيْنَهُ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ (أَمَّا بَعْدُ) فَقَالَ تَعَالَى وما أمروا الاليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا الصلوة ويؤتوا الزكوة وذلك دين القيمة  
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Marilah di hari ini kita senantiasa mempertebal ketaqwaan kita kepada Allah dengan menghindarkan diri dari kecurangan,kebohongan dan berbagai sifat tercela lainnya. Karena dengan demikian kita dapat istiqamah berusaha menjadi orang yang saleh.

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Sering kali kita mendengar kata shalih atau shalihin dalam kehidupan sehari-hari. Dalam berbagai kesempatan, kata tersebut, memang,  sering diungkapkan oleh orang tua kita, guru kita dan saudara-saudara kita sesama muslim. Mengapa demikian ? Karena kata tersebut, apabila dikaitkan dengan anak menjadi suatu do’a yang kelak diharapkan menjadi suatu kenyataan, khususnya bagi orang tua.

Istilah shalih menurut ahli Ilmu:
الصالح عند أهل العلم هو القائم بحقوق الله وحقوق الخلق،
Shalih adalah orang yang mendirikan / menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak makhluk.” 

Jadi, seseorang dikatakan shalih bila menunaikan hak Allah dan makhluk. Bila menunaikan salah satu diantaranya belum bisa dikatakan shalih. Sebagai muslim, setiap kita pasti menginginkan menjadi orang yang shaleh, sebab jangankan kita, Nabi-Nabi saja menginginkannya, padahal seorang Nabi tentu saja termasuk orang shaleh. Hal ini karena, keshalehan akan membuat seseorang bisa dimasukkan ke dalam surga. Diantara Nabi yang meminta agar dimasukkan ke dalam kelompok orang yang shaleh adalah Nabi Sulaiman as sebagaimana disebutkan dalam firman Allah swt:
فَـتَـبَـسَّـمَ ضَـاحِـكًا مِـن قَـولِـهَـا وَقَالَ رَبِّ اَوْ زِعْـنِيْ اَن اَشْـكُرَ نِـعْمَـتَـكَ الَّتِيْ اَنعَـمْـتَ عَـلَـيَّ وَعَـلَى وَالــِدَيَّ وَاَن اَعمَـلَ صَالِحًـا تَـرْضَـاهُ وَاَدْخِـلْـنِيْ بِـرَحـمتِـكَ فِـعِـبَادِكَ الصَّـالِحِينَ
Artinya: "Maka dia tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh." (QS An Naml [27]:19)..
Namun, untuk menjadi shalih ada hambatan-hambatan yang menghadang sehingga setiap kita harus mewaspadainya, bahkan mengatasi agar jangan sampai sifat-sifat yang menjadi penghambat keshalehan ini ada pada diri kita masing-masing. Ali bin Abi Thalib mengemukakan adanya sifat-sifat yang menjadi hambatan untuk menjadi shalih, beliau berkata seperti yang dikutip oleh Imam Nawawi Al Bantani dalam kitabnya Nashaihul Ibad:
عَنْ عَلِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَوْلَا خَمْسَ خِصَالٍ لَصَارَ النَّاسُ كُلُّهُمْ صَالِحِيْنَ اَوَّلُهَا اَلْقَنَاعَة ُبِالجَهْلِ وَالْحِرْصُ عَلَى الدُّنْيَا وَالشُّحُّ بِالْفَضْلِ وَالرِّياَ فِى الْعَمَلِ وَالْإعْجَابُ بِالرّأيِ
Artinya: “Jika tidak ada lima sifat tercela, niscaya manusia seluruhnya akan menjadi orang shaleh, kelima sifat tercela itu adalah: merasa senang dengan kebodohan, rakus terhadap harta keduniaan, bakhil dengan kelebihan harta yang dimiliki, riya dalam setiap amal yang dilakukan dan senantiasa membanggakan pendapat sendiri.”

Demikian keterangan Sayyidina Ali tentang lima hal yang merusak susunan masyarakat muslim sehingga terjebaklah mereka dalam kenistaan. Sebagaimana akan diterangkan satu persatu dibawah ini.

Pertama, merasa senang dengan kebodohan, artinya adalah membiarkan diri bahkan merasa nyaman dengan ketidak tahuan dalam masalah agama. Sebagaimana banyak terjadi pada muslim masa kini di perkotaan yang tiap harinya disibukkan dengan urusan bisnis dan bermacam pekerjaan demi mencapai cita-citanya. Sedangkan masalah ke-islaman cukup dipasrahkan saja kepada para ustadz yang dipanggil ketika dibutuhkan. Entah untuk berdoa, untuk ditanya ataupun sekedar dijadikan teman curhatnya.

Tidak ada dalam dirinya keinginan belajar dengan sungguh-sungguh apa itu Islam dan bagaimana seharusnya menjadi muslim yang baik. Tidak pernah ingin tahu cara shalat dan wudhu yang benar. Mereka sudah puas dengan pengetahuan yang didapatnya dari teman atupun dari meniru tetangga. Paling-paling belajar keislamannya didapat dari tayangan televisi pada kuliah subuh dan dalam broadcast- broadcast semacamnya.
Memang itu tidak salah, tapi semua itu menunjukkan ketidak seriusan keislaman mereka dibandingkan dengan keseriusannya belajar ilmu pengetahuan atupun kesibukannya mengurus berbagai urusan dunia. Orang seperti ini seharusnya mengingat pesan Rasulullah saw:
اللهُ يَبْغَضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِاْلأَخِرَةِ رواه الحاكم
Allah membenci orang yang pandai dalam urusan dunia tetapi bodoh dalam urusan akhirat.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
 Kedua, tamak dengan dunia dan ketiga bakhil dengan kelebihan harta, keduanya merupakan pasangan yang selalu terkait bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Karena siapapun yang tamak dan merasa kurang dengan berbagai kepemilikan hartanya pastilah dia akan berlaku bakhil dan sangat sayang dengan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya.

Rasulullah Saw pernah mengkhabarkan bahwa sifat tamak yaitu cinta dunia tidak pernah mengenal kata puas.
    رَوَي اْلبُخَارِيُّ عَنِ ابْنِ الزُّبَيْرِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِمَكَّةَ فِي خُطْبَتِهِ يَقُولُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِيَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا وَلَوْ أُعْطِيَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا ، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
Artinya: “Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu al-Zubair tatkala di atas mimbar di Mekah dalam kubtahnya, beliau berkata; Wahai manusia sekalian, Sesungguhnya Nabi Saw pernah bersabda, “Seandainya anak keturunan Adam diberi satu lembah penuh dengan emas niscaya dia masih akan menginginkan yang kedua. Jika diberi lembah emas yang kedua maka dia menginginkan lembah emas ketiga. Tidak akan pernah menyumbat rongga anak Adam selain tanah, dan Allah menerima taubat bagi siapa pun yang mau bertaubat.” (HR. Al-Bukhari No.6438)

Hadits ini menunjukan bagaimana tamaknya manusia terhadap dunia yang tidak menganal rasa puas. Hadits ini juga, mengandung makna celaan bagi orang yang tamak terhadap harta dunia. Kecintaan terhadap harta dunia bisa membuat seseorang terlena dari perjalanan hidup yang abadi di akherat. Semangat mengumpulkan harta bisa menjadi sebab lalai dari ketaatan kepada Allah Ta’ala karena hati menjadi sibuk dengan dunia daripada akhirat.

Dalam kesempaatan lain Rasulullah saw pernah menyinggung tentang ketamakan. Beliau berkata yang artinya bahwa mencintai harta adalah sumber segala kecelakaan dan keburukan. Baik keburukan fisik maupun mental. Belum lagi petaka mental yang merusak negeri ini. Korupsi, kolusi dan juga kebiasaan berbohong demi citra diri semua bermuara pada satu kata ‘tamak terhadap dunia’. Rasulullah saw pernah bersabda:
الزّهْدُ فِى الدُّنْيَا يُرِيْحُ الْقَلْبَ وَالبَدَنَ وَالرُّغْبَةُ فِيْهَا تُتْعِبُ اْلقَلبَ وَاْلبَدَنَ رواه الطبرانى
Zuhud (tidak suka) dunia sangat menyenangkan hati dan badan. Sedangkan cinta dunia sangat melelahkan hati dan badan.

Oleh karena itu, kekikiran jangan dipandang sebagai sesuatu yang membuat seseorang beruntung hanya karena hartanya tidak berkurang, tapi sebenarnya ia mengalami kerugiaan yang nyata, misalnya orang lain menjadi tidak suka kepadanya, ketenangan jiwa hilang dari dirinya, sedangkan di akhirat dia lebih merugi lagi, Allah swt berfirman:

وَلَا يَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ هُوَ خَيۡرٗا لَّهُمۖ بَلۡ هُوَ شَرّٞ لَّهُمۡۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِۦ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ
"Sekali-kali, janganlah orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan di leher mereka pada hari kiamat." (QS Ali Imran [3]:180).

Demikianlah bahwa kebakhilan ataupun kepelitan tidak terhindarkan dari ketamakan dunia. Dan kebakhilan pasti akan menjauhkan seseorang dari Allah, surga dan sesama manusia

Para Jama’ah yang Dirahmati Allah

Keempat, riya dalam beramal. Riya’ adalah pamer yaitu melakukan satu amal ibadah (agama) dengan maksud mendapatkan pujian dari manusia. Atau dengan bahasa yang agak kasar riya dapat juga dikatakan dengan mengharapkan nilai dunia dengan pekerjaan akhirat. Rasulullah saw menegaskan bahwa riya termasuk dalam kategori syirik kecil (as-syirikul asyghar) dalam salah satu sabdanya “sesungguhnya sesuatu yang sangat saya khawatirkan atas dirimu adalah syirik kecil, yaitu riya” (HR.Ahmad).

Disebut demikian karena perwujudan riya yang sangat halus dan tidak kentara. Adanya hanya dalam hati. Tidak ketahuan di dalam tindakan diri. Para sufi mengibaratkan halusnya riya seperti semut hitam yang merayap di atas batu keras warna hitam di tengah pekat malam. Begitu halusnya riya hingga seringkali mereka yang terjangkit penyakit ini seringkali tidak sadar.

Fudhail bin Iyadh seorang sufi pernah mencoba menjabakan tentang riya dengan bahasa keseharian katanya: ”jika datang seorang pejabat kepadaku, kemudian aku merapikan jenggotku dengan kedua belah tanganku, maka aku benar-benar merasa khawatir kalau dicatat dalam kategori orang-orang munafik”

Demikianlah hendaknya segala apa yang dilakukan manusia disandarkan kepada Allah swt. Tidak hanya semata mempertimbangkan kepentingan manusia. Apalagi jika berhubungan dengan amal ibadah murni seperti shalat, baca al-qur’an, zakat dan lainnya maka Allah swt mengancam mereka yang mendustainya dengan neraka Rasulullah saw bersabda:
اِنَّ اللهَ حَرَّمَ الْجَنَّةَ عَلَى كُلِّ مُرَاءٍ
Sesungguhnya Allah swt mengharamkan surga bagi orang yang riya.
Dan kelima, adalah ujub atau membanggakan pendapat sendiri. Membanggakan pendapat sendiri menjadi penghambat keshalehan karena dengan demikian seseorang akan meremehkan pendapat orang lain meskipun pendapat tersebut benar. Karena itu mau mendengar pendapat orang lain, apalagi memang meminta pendapat orang lain menjadi sesuatu yang sangat baik. Bila seseorang tidak mau menerima pendapat yang benar, bagaimana mungkin ia akan menjadi shaleh.
Demikianlah lima hal yang menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib dapat menghalangi seseorang menjadi seorang yang shalih.

Ma’’asyirol Muslimin Rahimakumullah

Demikianlah khotbah singkat kali ini, semoga hal ini dapat menjadi bahan renungan yang mendalam, bagi kita semua amin.

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اِنَّانَسْئَلُكَ سَلَامَةًفِى الدِّيْنِ، وَعَافِيَةًفِى الْجَسَدِوَزِيَادَةًفِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةًفِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةَقَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةًعِنْدَالْمَوْتِ وَمَغْفِرَةًبَعْدَالْمَوْتِ،اَللّٰهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِيْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَنَجَاةًمِنَ النَّارِوَالْعَفْوَعِنْدَالْحِسَابِ
 رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ . رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَر


Komen Via Facebook

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites