Kudus

Mau beli jajanan khas Kudus eh ada museum rumah adatnya..numpang foto..

Ngayogjokarto

Keliling nyari blangkon akhirnya dapet...

Ngaji

ngisi acara walimatul 'ursy ^_^

Penyuluh Agama Islam Kemenag Boyolali

Mau study banding ke Kemenag Jawa Barat sama DKI. nampang dulu di depan Kantor

Haji 2005

Kenangan di Arofah bersama bapak..

Rabu, 19 November 2014

Khutbah Jum'at ==> Diterimanya Amal Ibadah

Hadirin Jamaah Jum’at yang dimulyakan Allah
Marilah pada siang hari ini kita senantiasa memanjatkan syukur dan menambahkan ketaqwaan kita kepada Allah Swt dengan melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang.

Hadirin Jamaah Jum’at yang dimulyakan Allah
Manusia diciptakan oleh Allah adalah untuk beribadah kepada-Nya

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦
Artinya “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku

Kita beribadah bukan hanya masalah hubungan dengan Tuhan (hablumminallah) saja. Tetapi juga hubungan kita terhadap sesama manusia (hablumminannas). Ibadah kita terhadap Allah yaitu dengan cara mentaati segala perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya. Sedangkan wujud ibadah kita terhadap sesama adalah dengan berbuat baik (ihsan), saling berbagi (sedekah,zakat), saling tolong menolong dalam kebaikan (ta’awun ‘alal bir), memuliakan tamu (ikrom dzoif), dan lain sebagainya. Jika hidup kita ini dipenuhi dengan kegiatan ibadah, tentu saja Allah akan memberikan penghargaan (reward) atau pahala. Sebaliknya, jika hidup kita inkar kepada Allah dengan melakukan kemaksiatan maka akan mendapat hukuman (punishmen) atau siksa.

Ma’syirol muslimin rohimakumullah
Tentunya kita semua ingin mendapat pahala. Jika demikian, kita harus memperbanyak beribadah atau beramal shalih. Akan tetapi, walaupun sepertinya kita melakukan ibadah tetapi hal tersebut malah tidak diterima atau tidak dipandang oleh Allah sebagai amal ibadah.
Tentunya kita tidak ingin amal ibadah yang kita lakukan sia-sia atau tanpa hasil dan tidak ada pahalanya. Adapun perkara yang bisa menyebabkan ibadah kita diterima oleh Allah Swt sebagaimana yang disebutkan oleh Syeckh Abdul Qodir Jaelani dalam kitab Al-Ghunyah adalah:

1.        Taubat
Syarat utama diterimanya ibadah adalah bertaubat. Sebagaimana firman Allah:
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ ٢٢٢
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.


Taubat adalah kembali taat kepada Allah dan menyesal dengan bersungguh-sungguh terhadap dosa yang telah dilakukan serta memohon ampunan dari Allah. Hukum taubat adalah wajib. Baik itu dosa terhadap Allah maupun dosa terhadap sesama manusia. Jika dosa itu berkaitan dengan manusia, hendaklah ia meminta maaf.
2.    Ikhlas
Perkara yang menyebabkan diterimanya amal adalah ikhlas. Sebagaimana firman Allah:
 وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ٥
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
Para ulama berbeda pendapat tentang makna ikhlas. Al-Hasan berkata : Aku bertanya kepada Khudzaifah tentang makna ikhlas dan ia menjawab, “Saya juga bertanya kepada Nabi tentang apakah itu ikhlas dan beliau menjawab, “Aku telah bertanya kepada Jibril tentang apakah itu ikhlas dan Jibril menjawab, “Saya telah bertanya kepada Allah tentang ikhlas dan Allah berfirman, “Ikhlas adalah salah satu rahasiaKu yang Aku titipkan kepada hati orang-orang yang Aku cintai.”

Sa’id bin Jubair berkata, ikhlas adalah seorang hamba memurnikan agama dan amalannya hanya untuk Allah, tidak menyekutukan Allah dan tidak memamerkan amalnya kepada seorangpun. Adapun tanda keikhlasan menurut Dzun Nun al-Mishri adalah pertama, orang yang bersangkutan memandang sama antara pujian dan celaan manusia. Kedua, melupakan amal yang ia lakukan. Ketiga, lupa atas haknya menerima pahala di akherat karena amal tersebut.

Menurut Imam Al-Ghazali ikhlas itu ada 3 tingkatan. Pertama, ikhlas awam. Yakni, ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dilandasi perasaan takut kepada siksaan-Nya dan masih mengharapkan pahala dari-Nya. Kedua, ikhlas khawas, yaitu ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dimotivasi oleh harapan agar menjadi hamba yang lebih dekat dengan Allah dan dengan kedekatannya kelak ia mendapatkan ‘sesuatu’ dari-Nya. Ketiga, ikhlas khawas al-khawas, yaitu ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena atas kesadaran yang tulus dan keinsyafan yang mendalam bahwa segala sesuatu yang ada adalah milik Allah dan hanya Dialah Tuhan Yang Maha Segala-galanya.

Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia
Sifat dan perbuatan hati yang ikhlas itu merupakan perisai moral yang dapat menjauhkan diri dari godaan setan. Menurut At-Thobari, hamba yang muhlis adalah orang-orang mukmin yang benar-benar tulus sepenuh hati dalam beribadah kepada Allah, sehingga hati yang murni dan benar-benar tulus itu menjadi tidak mempan dibujuk rayu dan diprovokasi setan.
Ibnu Qoyyim Al-Jauziah mengatakan, “Amal tanpa keihklasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tetapi tidak bermanfaat. Oleh sebab itu, selain menjadi kunci diterimanya amal ibadah, ikhlas juga membuat perbuatan kita bermakna dan tidak sia-sia. Perbuatan yang bermakna adalah perbuatan yang berangkat dari hati yang ikhlas.

Di ceritakan, ada seorang ahli ibadah yang mengunjungi suatu kaum, kaum itu mengadu kepadanya bahwa di tempat mereka itu ada pohon yang sering disembah penduduk, mereka tidak menyembah Allah. Ahli ibadah (abid) itu marah, lantas ia membawa kampak akan menebang pohon itu. Iblis (nenek moyang setan) dalam bentuk seorang syekh menyambutnya dan berkata, “Hendak kemana kamu, mudah mudahan Allah merahmati kamu.” Ahli ibadah itu menjawab, “Saya hendak menebang pohon ini.” Iblis berkata, “Apa urusanmu dengan pohon itu, kamu telah meninggalkan ibadahmu.” Ahli ibadah itu menjawab, “Sesungguhnya ini sebagian dari ibadahku.” Iblis berkata, “Aku tidak membiarkanmu menebangnya.”
Lantas iblis itu berkelahi dengan ahli ibadah itu. Ahli ibadah itu berhasil menangkap iblis itu dan membantingnya ke tanah dan didudukinya iblis itu. Iblis berkata, “Lepaskan aku agar aku dapat berbicara denganmu.” Ahli ibadah itu berdiri, lantas iblis berkata, “Sesungguhnya Allah telah menggugurkan kewajibanmu menebang pohon itu; menebang pohon itu adalah tugas nabi, bukan tugasmu kecuali bila nabi menyuruhmu.” Abid itu menjawab, “Aku akan menebangnya.

Kemudian abid berkelahi kembali dengan iblis itu dan ia berhasil membantingnya ke tanah dan menduduki dada iblis itu. Maka iblis berkata, “Apakah tidak ada keputusan yang lebih baik untuk menyelesaikan urusan kita?” Abid bertanya, “Apa itu?”
“Lepaskan dahulu aku” kata iblis itu “supaya aku dapat mengatakan sesuatu kepadamu.” Abid melepaskannya. Iblis itu berkata, “Kamu adalah orang miskin yang bergantung pada orang lain, maukah kamu melebihi orang-orang itu sehingga kamu dapat membantu tetanggamu, kamu kenyang dan tidak lagi memerlukan bantuan orang lain.” Abid menjawab, “Ya.” “Pulanglah..” kata iblis “aku akan menyelipkan di bawah bantalmu dua dinar setiap malam. Uang itu bisa membantu tetanggamu sehingga kamu lebih berguna bagi saudaramu, itu lebih baik dari pada kamu menebang pohon itu.” Abid kemudian berpikir dan ia berkesimpulan “Syekh itu benar, saya bukan seorang nabi, Allah tidak mewajibkan saya menebang pohon itu, nabi pun tidak, menerima uang lebih bermanfaat bagi orang banyak ketimbang menebang pohon itu.” Lantas Abid itu kembali ke tempat ibadahnya. Pagi pagi ada dua dinar dekat kepalanya, ia mengambilnya, begitu juga keesokan harinya. Pada pagi hari yang ketiga uang itu tidak ada.

Abid itu marah, ia mengambil kampaknya lagi hendak menebang pohon itu. la disambut iblis yang menyamar seorang syekh. Syekh (sebenarnya iblis) bertanya, “Kemana?” Kata abid “Saya akan menebang pohon itu.” Iblis berkata, “Kamu berdusta, kamu tidak akan mampu melakukannya.” Lalu abid itu memegang iblis tersebut hendak menangkapnya. Kata iblis, “kamu tidak akan sanggup.” Bahkan iblis yang sanggup membanting ahli ibadah itu dan menduduki dadanya sambil berkata, “Akan kamu teruskan menebang pohon itu atau aku akan menyembelihmu.

Iblis berkata, “Hai ahli ibadah, maukah kamu tahu mengapa kau kalah?” Kata iblis, “Sesungguhnya mula-mula kamu marah karena Allah, lalu aku kalah, kali ini kamu marah karena uang (dunia) lalu kamu saya kalahkan.

Dalam cerita di atas ikhlas itu ialah melakukan sesuatu karena Allah, bukan karena uang. Karena Allah artinya karena diperintah oleh Allah. Cerita ini membenarkan firman Allah Kecuali hamba-hambaKu yang ikhlas (Shaad:83). Maksudnya, hanya hambaKu yang ikhlas yang tidak akan kalah melawan setan.


3.    Tidak Riya’
Riya’ adalah sifat kebalikan dari ikhlas. Riya’ adalah melakukan amal kebajikan namun tidak untuk mencari keridhaan Allah, melainkan untuk mencari pujian atau kemasyhuran dari masyarakat. Selama roh masih bersemayam dalam tubuh tidak ada jaminan manusia aman dari perbuatan riya’. Riya’ dapat selalu menjangkiti siapapun. Tidak peduli itu orang yang berilmu atau tidak, orang kaya atau miskin, berpangkat tinggi atau rendah. Semua bisa terkena sifat riya’.

Allah Swt dengan tegas mengancam para pelaku amal kebaikan yang didasari atas sifat riya’. Allah memperingatkan agar kita berhati-hati terhadap godaan dan tipuan nafsu yang dapat menyebabkan kita terjebak dalam perbuatan riya’.

Allah berfirman:
فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ٤ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ٥  ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ ٦  وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ ٧
Artinya: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al-Maun:4-7)

Sifat riya’ bisa termasuk perbuatan syirik. Sebagaimana hadits dari Syaddad bin Aus Ra. Berkata : Aku mendatangi Nabi dan ku lihat diwajahnya terbersit sesuatu yang mengkhawatirkanku. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu resah?” beliau menjawab, “Aku khawatir sepeninggalku umatku berbuat syirik.” Aku bertanya lagi, “Apakah mungkin sepeninggalmu mereka akan berbuat syirik, wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Memang mereka tidak menyembah matahari, bulan, patung dan batu. Namun mereka riya’ dalam amal-amal mereka dan riya’ adalah perbuatan syirik”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ, فَسُئِلَ عَنْهُ فَقَالَ: الرِّيَاءُ.

“Sesuatu yang paling aku khawatirkan terhadap kalian adalah syirik kecil.”
Ketika ditanya tentang (syirik kecil) itu, beliau menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrany dan Al-Baihaqy)
Oleh sebab itu, marilah kita menjauhi sifat riya’ ini dengan benar-benar memurnikan amal kita karena Allah supaya amal ibadah kita diterima Allah Swt.
Akhir kata, mumpung kita masih diberikan kenikmatan hidup, kita pergunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Yaitu, dengan beribadah kepada Allah dengan sebenar-benarnya.





Minggu, 16 November 2014

Boleh Pemimpin Non-Muslim

Baru-baru ini kita disuguhkan berita tentang adanya kelompok ormas Islam yang berdemonstrasi menentang Basuki Tjahaya Purnama atau akrab dipanggil Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta. Salah satu diantara sekian alasan adaalh karena agamanya Kristen dan umat Islam haram hukumnya dipimpin oleh orang non-muslim. Sebelumnya, ada yang mempermasalahkan kelurahan yang dipimpin oleh non-muslim, wanita pula. Mereka yang mengharamkan menggunakan dalil Qur’an Surat Al-Maidah Ayat 51:
۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٥١
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi awliya’; sebagian mereka adalah awliya’ bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi awliya’ , maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” Al-Maidah:51

Ayat ini sering dijadikan ’senjata’ oleh seseorang untuk melawan lawan politiknya. Karena ayat ini kebanyakan diterjemahkan sebagai ayat ‘pemerintahan’. Kata “awliya’” versi terjemahan DEPARTEMEN AGAMA adalah ‘pemimpin-pemimpin’. Tentunya itu kurang tepat. Karena kata awliya jama’ dari kata wali bermakna ‘dekat’. Ayah sebagai wali anak perempuannya karena ayah ‘dekat’ padanya. Orang yang tekun ibadah dan dekat dengan Tuhan disebut ‘wali’. Kalau kata awliya’ disini diterjemahkan ‘pemimpin’ maka ia adalah pemimpin yang dekat dengan rakyatnya dan rakyat dekat dengannya. Tapi, apakah maksud ayat ini dengan kata ‘pemimpin’ begitu? Jika kita mau menengok ayat sebelumnya, tidak hanya potong ayat., maka kita akan mengetahui bahwa kaum Yahudi dan Nasrani yang dimaksud adalah kaum yang mengikuti hukum jahiliah, berbuat fasik, tidak mengikuti jalan Tuhan.

Akan tetapi, kebanyakan ulama’-ulama’ sekarang menerjemahkan (kalau bukan dikatakan menafsirkan) kata awliya’ dengan ‘pemimpin’. Jadi, yang dimaksud disini adalah pemimpin yang non-muslim . Maka, kemudian muncullah fatwa yang menyatakan orang Islam haram mengangkat atau memilih pemimpin yang non-muslim (mereka lebih memilih kata-kata ‘kafir’).

Karena itulah agak mengherankan ketika dalam terjemahan Indonesia pengertian auliya’ disempitkan, menjadi “pemimpin”, yang maknanya mengarah pada pemimpin politik. Bisa jadi karena kata tersebut dianggap berasal dari akar kata wilayah, yang memang artinya kepemimpinan atau pemerintahan.

Selintas masuk akal. Tapi kalau kita perhatikan lebih teliti, akan kelihatan bahwa anggapan ini tidak tepat. Mengapa? Kalau memang kata auliya’ bertolak dari kata wilayah, mestinya kata itu disertai dengan kata `ala. Dengan begitu, kalau QS 5:51 berbunyi ba’dhuhum auliya’ `ala ba’dh, auliya’ pada ayat tersebut bermakna pemimpin.Tapi ternyata redaksi ayat tersebut berbunyi ba’dhuhum auliya’u ba’dh, tanpa kata `ala setelah auliya’. Jadi tidak pas kalau akar katanya wilayah. Yang tepat, seperti sudah saya sebut di atas, adalah wala’.

Mari kita lihat asbabub nuzulnya.
Ibnu Ishak, Ibnu Jarir, Ibnu Abu Hatim dan Imam Baihaqi mengetengahkan sebuah hadis dari Ubadah bin Shamit yang bercerita, “Tatkala aku memerangi Bani Qainuqa tiba-tiba Abdullah bin Ubay bin Salul cenderung memihak mereka dan berdiri pada pihak mereka.” Setelah itu Ubadah bin Shamit menuju kepada Rasulullah saw. untuk menyatakan penyucian dirinya kepada Allah dan Rasul-Nya dari fakta yang telah dibuatnya bersama orang-orang Bani Qainuqa. Ia adalah salah satu di antara orang-orang Bani Auf bin Khazraj. Ia telah mengadakan fakta bersama mereka, sama dengan apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul terhadap mereka (orang-orang Bani Qainuqa). Akhirnya Abdullah bin Ubay mengajak mereka untuk mengadakan perjanjian fakta dengan orang-orang kafir dan tidak memihak mereka. Selanjutnya Ibnu Ishak mengatakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa Ubadah bin Shamit dan Abdullah bin Ubay, yaitu firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali(mu)…” (Q.S. Al-Maidah 51).

Kita lihat asbabun nuzulnya adalah cerita tentang adanya muslim yang mengadakan perjanjian sekutu dengan orang yang dianggap kafir dan meninggalkan orang orang muslim. Ini yang dilarang dan tidak ada dalam asbabun nuzul ini cerita mengenai adanya muslim yang mangambil orang yahudi dan nasrani sebagai pemimpin. Maka dapat disimpulkan bahwa surah Al Maidah 51 ini bicara tentang sekutu atau teman. Bukan Wali yang artinya pemimpin.

Kalaupun kita mengartikan awliya’ sebagai pemimpin, kita harus melihat pada makna sebelumnya dan membaca ayat sebelum ayat ini, maka yang dimaksud pemimpin-pemimpin (awliya’) adalah pemimpin yang berbuat fasik dan tidak mengikuti jalan Tuhan. Jika ada non-Muslim yang bersifat seperti itu, jangan dijadikan ‘awliya” atau ‘teman dekat’. Jika, non-muslim memberikan kenyamanan kepada muslim, maka bisa dan boleh dijadikan ‘teman dekat’ (atau istilah pemerintahannya ‘pemimpin’) karena ada qoidah, tashoruful imam ‘alal ro’iyyyah manutun bil maslahah. Kebijakan pemimpin atas rakyat adalah berdasarkan kemaslahatan. Sehingga Allah mungkasi ayat ini dengan kalimat,Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Jadi, pemimpin yang zalim yang dimaksud dalam ayat ini.

Dengan demikian, kalau memang pemimpin non-muslim hukumnya haram, mestinya penerapannya untuk konteks negara kita bukan hanya berlaku untuk lembaga eksekutif saja, melainkan juga legislatif dan yudikatif.


Kalau memang dipimpin oleh non Muslim hukumnya haram, bagaimana dengan umat Islam yang menjadi warga negara di India, Amerika atau Eropa? Apakah mereka semuanya berdosa hanya karena jadi warga negara di negara-negara yang dipimpin oleh non muslim? Apakah para pemain bola seperti Zinedine Zidane, Mesut Oziel, Sami Khedira, Samir Nasri, Ibrahim Afellay, yang semuanya dipimpin oleh presiden atau perdana menteri non muslim, harus hijrah ke negara orang tuanya masing-masing di Timur Tengah?

Selasa, 11 November 2014

Bahasa Internasiolokal

Ketika melaksanakan ibadah umroh pada bulan April lalu, ada kejadian unik yang membuat saya kalau teringat tertawa sendiri. Seperti diketahui umat Islam melaksanakan ibadah umroh berada di kota suci Makkah. Disana banyak umat Islam dari berbagai negara, seperti Turki, Iran, China, India, Pakistan, Malaysia dan lain-lain.

Ketika itu sehabis dari Masjidil Haram berjalan menuju hotel tiba-tiba ada orang mendekati saya dan menyapa, "Dari Malaysia?" saya jawab, "Indonesia" orang itu berkata lagi, "Indonesia hebat hai.."
saya kemudian tanya, "Anda dari Pakistan?" dia jawab, "India. Saya pernah bekerja di Malaysia. Makanya saya bisa bahasa Melayu hai."

Kami akhirnya mengobrol sambil berjalan sampai saya tiba di depan hotel kemudian kami berpisah. Yang unik adalah orang India tersebut bicara bahasa Melayu menggunakan logat India yang tak jarang dibelakang obrolan pakai kata "hai". Kalau saya tetap memakai bahasa Indonesia 'kalem' saya alias tidak menggebu-gebu seperti orang India tadi.

Ini seperti kemarin ketika pak Presiden Jokowi berbicara didepan CEO APEC menggunakan bahasa Inggris Jawa (Englishjavanese). Bahasanya bahasa Inggris tapi logatnya logat Solo.. hehe..
Bagi sebagian orang mungkin akan berpendapat, 'ngisin-ngisini' mosok orang sekaliber Presiden memakai bahasa Inggris bukan English British maupun American. Orang lain mungkin berpendapat bahasa Inggrisnya sudah bagus yang penting apa yang disampaikan bisa diterima audien. Ya, teknik pidato memang begitu. Apa yang ingin disampaikan bisa diterima audien.



Selasa, 28 Oktober 2014

Mukjizat Al-Qur'an

Penelitian ilmiah pengaruh bacaan al Qur'an pada syaraf, otak dan organ tubuh lainnya. Subhanallah, menakjubkan!

“Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Al-Qur’an…”.

Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar.

Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan.

Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.

Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al-Quran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya.

Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Al-Qur’an.

Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni
membacakan Al-Qur’an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an.

Al-Qur’an memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.

Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar, kita memiliki Al-Qur’an. Selain menjadi ibadah dalam membacanya, bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan Al-Qur’an lebih dari itu. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Al-Qur’an memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ).

Mahabenar Allah yang telah berfirman, “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q.S. 7: 204).

Menuju Khusnul Khotimah

Kematian adalah musibah yang besar. Dan musibah yang lebih besar dari kematian adalah melupakan kematian itu sendiri, berpaling dari ingat mati dan meninggalkan amal perbuatan yang baik yang akan dibawa menuju kematian.
Mengharapkan kematian adalah haram apabila tujuannya bukan karena khawatir kehilangan agama atau aqidahnya.
Manusia disunahkan untuk memperbanyak ingat mati. Sebagaimana sabda Nabi SAW.
Akstiruu min dzikri hadzimil ladzaat
perbanyaklah mengingat dari perkara yang memutus kenikmatan (mati)

Diriwayatkan dari Malik dan Ibnu Majjah bahwasanya ada seorang sahabat Anshor bertanya pada Rasulullah. "Ya Rasulullah. Mukmin bagaimana yang paling utama?" Rasul menjawab, "Paling baik budi pekertinya (akhlak)" Ia bertanya lagi, "Mukmin yang cerdas itu yang bagaimana?" Nabi menjawab. "Mukmin yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus amal perbuatan yang ia persiapkan menuju kematian. Merekalah mukmin yang cerdas."


Diriwayatkan Muhammad bin Ka'b al-Quradhi  bahwa ketika ruh mukmin akan keluar maka malaikat maut berkata kepadanya : "Assalamu'alaikum ya waliyallah, Dapat salam dari Allah" sebagaimana ayat:


الذين تتوفاهم الملائكة طيبين يقولون سلام عليكم ادخلوا الجنة بما كنتم تعملون


Ketika ruh seseorang akan keluar dari jasadnya dan ia mendapat salam dari Allah, sudah dapat dipastikan bahwa ia mendapat jaminan keselamatan dari siksa / adzab.


Imam Mujahid Ra.mengatakan bahwasanya seorang mukmin ketika akan meninggal atau ruh akan keluar dari jasadnya, ia diberi kabar gembira tentang anaknya yang berbuat kebaikan sepeninggalannya. Suppaya hati mukmin tadi tenang ketika ruh keluar.



man ahabba liqoalloh ahabballohu liqoahu. wa man kariha liqoalloh karihallohu liqoahu


barangsiapa yang suka bertemu Allah maka Allah juga suka bertemu dia. Barangsiapa yang benci bertemu Allah maka Allah juga benci bertemu dia.


Dari Aisyah Ra. Ketika Allah menghendaki hamba-Nya dengan kebaikan maka Allah akan mengutus malaikat kepadanya sebelum ia meninggal. Malaikat tersebut akan menunjukkan jalan kebaikan dan menolongnya. Sehingga ia mati dalam keadaan berbuat baik. Kemudian ketika ia akan diambil ruhnya ia bisa melihat pahala amal kebaikannya, sehingga ia suka bertemu Allah. Sebaliknya, ketika Allah menghendaki hamba-Nya dengan keburukan, maka Allah akan mengirim setan kepadanya setahun sebelum ia meninggal Kemudian setan akan menggoda, menyesatkannya. Sehingga iia mati dalam keadaan berbuat keburukan // maksiat. Na'dzubillah min dzalik. Ia juga akan diperlihatkan berbagai macam siksaan keburukannya ketika ruhnya akan diambil. Sehingga ia berharap tidak mati atau berjumpa Allah.


فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحً
Al-Kahfi ayat 110




Selasa, 21 Oktober 2014

Khutbah Jum'at = Sumpah Pemuda

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah

Pada bulan Oktober ini, setiap tahun di Negara kita diperingati hari peringatan Sumpah Pemuda, yaitu tanggal 28 Oktober. Hari yang sangat bersejarah bagi kemerdekaan bangsa Indonesia. Karena pada masa itu bangsa Indonesia berada dalam belenggu penjajah dan kemudian para pemuda berinisiatif untuk bangkit dan bersatu mengusir penjajah. Akhirnya sepakat dan terjadilah Sumpah Pemuda.

Pada kesempatan kali ini saya hendak menengok kembali sejarah. Karena, sebagaimana kata Bung Karno “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Jika kita melihat kembali sejarah perjuangan bangsa ini, tokoh ataupun pejuang-pejuang yang membela tanah air adalah para pemuda. Apabila kita mendatangi Taman Makam Pahlawan disitu tertulis daftar pahlawan yang gugur mayoritas adalah pemuda.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Belajar dari Sumpah Pemuda, ada catatan sejarah yang sangat berharga di dalamnya. Butir-butir dalam Sumpah Pemuda itu tidak hanya semata-mata disusun untuk menjadi hasil yang membantu kaum muda menjawab kebutuhan kemerdekaan dari penjajahan saat itu. Melainkan lebih dari itu, Sumpah Pemuda telah menjadi spirit yang terus terpatri dalam hati sanubari para pemuda itu. Suatu spirit yang dibangun atas dasar kesamaan nasib dan cita-cita. Yang kemudian dibungkus dengan komitmen untuk senasib sepenanggungan sebagai satu bangsa, satu tanah air yang pertama-tama ditandai dengan disepakatinya bahasa universal antar bangsa, bahasa Indonesia.

Semangat Sumpah Pemuda mencapai klimaksnya pada 17 Agustus 1945 ketika Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sejak itu, Indonesia yang terdiri atas berbagai etnis, agama, dan golongan menjadi bangsa yang merdeka dan bersatu.

Lalu bagaimana dengan keadaan zaman sekarang? Kita bisa melihat sendiri disekitar kita. Mereka yang tawuran, terlibat pencurian, pecandu narkoba, sampai koruptor adalah para pemuda. Walau pun masih banyak pemuda yang mengisi kemerdekaan ini dengan mengukir prestasi. Melalui belajar sungguh-sungguh dan berprestasi melalui olahraga, pendidikan dan lain sebagainya. Mereka yang mengharumkan nama bangsa dikancah internasional juga pemuda.

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Masa muda merupakan masa sempurnanya pertumbuhan fisik dan kekuatan seorang manusia. Itu merupakan nikmat besar dari Allah Ta`ala yang seharusnya di­manfaat­kan dengan sebaik-sebaiknya untuk amal kebaikan guna meraih ridha-Nya.

Masa muda adalah masa yang penuh dengan godaan untuk memperturutkan hawa nafsu. Seorang pemuda yang sedang dalam masa pertumbuhan fisik maupun mental, banyak mengalami gejolak dalam pikiran maupun jiwa, yang tak jarang menyebabkan hidup­nya terguncang.

Dalam kondisi seperti itu, peluang terjerumus kedalam keburukan dan kesesatan yang dibisikkan setan sangatlah besar. Apalagi Iblis yang telah bersumpah di hadapan Allah SWT bahwa dia akan menyesatkan manusia dari jalan-Nya dengan menempuh segala cara,

“Iblis berkata: ‘Karena Engkau telah menghukumku ter­­sesat, aku benar-benar akan (menghalangi-halangi) ma­nusia dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS al-A`raf: 16-17)

Agama Islam memberi perhatian sangat besar ter­hadap upaya perbaikan mental para pemuda. Karena generasi muda hari ini adalah pemeran utama di masa yang akan datang. Merekalah fondasi yang menopang masa depan umat ini. 

Karena itu, banyak ayat al-Qur’an dan hadis yang mendorong kita agar membina dan mengarahkan para pemuda kepada kebaikan. Karena jika mereka baik maka umat ini akan memiliki masa depan yang cerah. Generasi tua akan digantikan dengan generasi muda yang shaleh.

Rasulullah SAW juga bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan  kecuali naungan-Nya: …dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia

Dalam Al-Qur’an, pemuda disebut dengan fatan. Misalnya sebutan fatan untuk Nabi Ibrahim muda, yang ketika itu sedang dicari oleh Raja Namrud karena dituduh menghancurkan patung-patung berhala. Fatan yuqaalu lahu Ibrahim. Juga sebutan fityatun untuk para pemuda Ashabul Kahfi. Innahum fityatun amanuu birabbihim wa zidnaahum hudaa.

Sedangkan dalam Hadits, pemuda disebut sebagai syaab. Misalnya dalam hadits “Lima Perkara Sebelum Lima Perkara Lainnya”: syabaabaka qabla haramika (masa mudamu sebelum masa tuamu). Juga dalam hadits “Tujuh Golongan Yang Mendapat Naungan Allah”: syaab nasya-a fii ‘ibadatillah (seorang pemuda yang tumbuh besar dalam ibadah dan taat kepada Allah).

Dari sisi usia, pemuda terbagi ke dalam dua fase yaitu fase puber/remaja berusia antara 10 sampai 21 tahun, dan fase dewasa awal berusia antara 21 sampai 35 tahun. Sebagian berpendapat bahwa siapapun yang berusia dibawah 40 tahun semenjak ia menjadi baligh bisa disebut sebagai pemuda. Barangkali patokannya adalah usia kerasulan Muhammad saw, yaitu 40 tahun.

Mengapa pemuda? Alasan pertama, karena pemuda adalah generasi penerus, yaitu generasi yang meneruskan generasi sebelumnya yang baik. Allah SWT berfirman,
Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun pahala amal mereka.” (QS. Ath-Thur : 21)

Alasan kedua, karena pemuda adalah generasi pengganti, yakni menjadi pengganti generasi sebelumnya yang buruk dan tidak taat kepada Allah. Allah SWT berfirman,
 “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintainya.” (QS. Al-Maidah : 54)

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Lahirnya sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang kini kita kenang selalu, adalah bukti kongkrit pentingnya masa muda sebagai titik tolak idealisme menuju pembaharuan hidup yang lebih baik. Baik secara individu, sosial, politik dan negara. Karena itu, setiap kita berbicara perbaikan sebuah negara, mulailah pertama kali dari perbaikan genarasi mudanya. Jangan bermimpi memperbaiki negara, bila pemudanya hancur secara spiritual, hidup dalam gelimang dosa dan kebobrokan moral. Generasi muda hari ini adalah cerminan masa depan sebuah negara. Oleh karena itu, sudah saatnya kini generasi muda dijaga. Jangan biarkan mereka berjalan tanpa tuntunan. Tugas generasi tua adalah memberikan bimbingan, bukan melemparkan mereka ke lubang kehancuran. Bukan orang tua yang baik, bila membiarkan anak-anak mudanya rusak iman dan idealismenya.

Ingat, bahwa hanya dengan iman kokoh anak-anak muda akan menjadi sukses. Sukses secara keduniaan, lebih dari itu sukses secara akhirat. Maka sungguh sangat mengerikan bila kurikulum pendidikan hanya fokus kepada masalah-masalah keduniaan. Di sana-sini kita masih menyaksikan banyak sekolah yang hanya bisa mengantarkan anak-anak didiknya kepada keberhasilan secara dunawi, namun secara akhlak dan agama mereka gagal. Akibatnya banyak anak muda yang terbiasa berbuat maksiat dengan tanpa merasa malu di depan siapapun. Na’udzubillah..

Untuk mewujudkan pemuda yang berkualitas, maka paling tidak ada tiga institusi yang mempunyai pengaruh sangat efektif, yaitu:
a.       Keluarga : dalam pengertian sempit mencakup kedua orangtua, saudara dan kerabat. Dalam pengertian luas mencakup teman, tetangga, masyarakat secara keseluruhan.
b.      Masjid : memberi pengaruh yang baik bagi jiwa pemuda.
c.       Sekolah meliputi unsur-unsur yang ada didalamnya seperti buku, peralatan, metode, dan hal-hal yang mempengatuhi.

Para pemuda sangat dituntut untuk mempersiapkan dirinya guna menyongsong masa depan agama, bangsa dan negara yang cerah.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Akhir kata, marilah kita mempersiapkan generasi muda untuk membangun kehidupan masyarakat bernegara yang bermoral dan berakhlak baik.



Komen Via Facebook

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites