Kudus

Mau beli jajanan khas Kudus eh ada museum rumah adatnya..numpang foto..

Ngayogjokarto

Keliling nyari blangkon akhirnya dapet...

Ngaji

ngisi acara walimatul 'ursy ^_^

Penyuluh Agama Islam Kemenag Boyolali

Mau study banding ke Kemenag Jawa Barat sama DKI. nampang dulu di depan Kantor

Haji 2005

Kenangan di Arofah bersama bapak..

Rabu, 27 Mei 2015

Jambu Air Bermanfaat Untuk Kecantikan


Jambu air adalah jenis jambu yang mempunyai banyak air di dalam daging buahnya, beda dengan jambu biji yang sedikit mengandung airnya. Jambu air bisa tumbuh hingga ketinggian 10 meter dan mempunyai daun yang besar-besar dan letaknya berhadapan. Beda dengan jambu air yang daunnya kecil-kecil. Jambu air sangat bermanfaat untuk kesehatan dan kecantikan, terutama kecantikan kulit, soalnya jambu air menyimpan banyak air didalam buahnya sehingga buah manis asam ini menyumbang banyak air bagi tubuh.

Cairan tubuh akan tercukupi dengan banyak mengkonsumsi jambu air, maka kulit akan kelihatan segar dan tidak kering. Itulah manfaatnya mengkonsumsi jambu air secara umum, selain itu kandungan vitamin C dalam jambu air juga bermanfaat untuk meningkatkan kekebalan tubuh seperti manfaat mengkonsumsi apel fuji. Kandungan anti oksidan dalam vitamin C membuat buah ini dikenal akan menafaatnya bagi kulit serta bisa membantu penyerapan zat besi dengan lebih baik.

Kandungan air dalam buah jambu air sangat banyak, ini diperkirakan 93 gram per 100 gram buah jambu air. Selain manfaat itu, manfaat jambu air juga terasa sebagai buah pencuci mulut, kesegaran mulai terasa ketika mengunyah jambu air ini karena kandungan air nya yang banyak.

Manfaat vitamin C pada jambu air akan terasa untuk kecantikan kulit, kulit akan kelihatan segar dan cerah ketika asupan vitamin C cukup bagi tubuh. Ini menandakan bahwa asupan vitamin juga bermanfaat untuk melancarkan darah. Vitamin C juga menstimulasi tumbuhnya kolagen bagi kulit dan menjaga kesehatan kulit tetap baik dan fit. Manfaat jambu air untuk wajah sangatberperan dalam mencerahkan wajah dan menjaga wajah selalu cerah dan segar sepanjang hari.

Manfaat Jambu Air bagi Kecantikan Kulit
1. Mencerahkan warna kulit.
Kandungan vitamin C dalam jambu air yang jumlahnya sangat besar membuat jambu air bermanfaat untuk mencerahkan kulit wajah dan kulit tubuh lainnya.

2. Mencegah kerutan atau keriput
Kerutan wajah adalah tanda penuaan yang terjadi akibat oksidasi senyawa dalam tubuh. Kandungan kolagen dalam vitamin C akan mengikat jaringan kulit antara satu dengan lainnya sehingga kulit akan nampak elastis dan kencang.

3. Awet muda
Manfaat jambu air untuk awet muda. Kandungan kolagen dalam jambu air akan mempercepat proses regenerasi kulit sehingga kulit mati akan segera diganti dengan kulit lainnya. Ini akan mencegah nampaknya penuaan dini dan kerutan diwajah.

4. Kulit Bercahaya
Jambu air juga bermanfaat untuk mencerahkan dan membuat kulit bersinar. Ini dikarenakan kandungan selenium dalam jambu air yang banyak, selenium akan melancarkan darah sehingga kulit nampak bersinar.

Bagaimana, apakah anda masih takut makan jambu air. Jambu air termasuk buah buahan yang sehat dikonsumsi. Manfaat jambu air untuk kecantikan akan didapat manakala jambu air dikonsumsi secara rutin dan dalam jumlah yang banyak.

Minggu, 24 Mei 2015

Belajar kepada Semut

Semut. Siapa yang tidak tahu apa itu semut. Anak kecil yang belum bisa berbicara fasih pun tahu binatang kecil ini. Walaupun kecil si semut ternyata bisa memberi pelajaran yang besar kepada kita semua.

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari semut?

1. Semut itu ramah
Bila bertemu dengan sesamanya, semut akan saling menyapa dengan menyentuhkan antenanya. Kita sebagai manusia, jangankan saling bersalaman, kadang dengan teman sendiri pun saling bertengkar, mengancam, berebut, bahkan menghina. Semut ternyata lebih ramah dari pada kita bukan??

2. Semut itu tertib
Lihatlah ketika semut berjalan bersama koloninya, mereka pasti berbaris, mereka antri, padahal jumlah mereka sangatlah banyak. Bandingkan dengan kita yang selalu menyerobot antrian & saling salip-menyalip di jalanan. Mungkin sistem antrian & lalu lintas di dunia semut lebih maju dibandingkan sistem dunia manusia ya..??

3. Semut itu hemat, pemurah dan Suka Bekerja sama
Betapa tidak, ketika seekor semut mendapatkan sebutir nasi, semut itu tidak akan menghabiskan nasi itu sendirian, tapi nasi itu akan disimpan untuk persediaan di masa paceklik & digunakan untuk kebutuhan koloninya. Dan ketika ada makanan yang lebih besar, maka semut2 akan bergotong royong untuk mengangkatnya, begitu pula ketika membuat sarang.

4. Semut itu kuat dan pemberani
Semut mampu mengangkat beban yang bahkan 50X lipat dari berat tubuhnya sendiri. Dengan keberaniaannya, semut berani untuk menggigit kita, manusia yang lebih besar ukurannya jika mereka kita ganggu, semut2 itu berani akan selalu berani menghadapi setiap tantangan yang datang pada mereka walaupun sangat besar.

5. Semut itu disiplin, teratur dan terorganisir
Semut itu mempunyai pembagian tugas yang jelas, ada semut ratu, yang tugasnya kimpoi dan bertelur saja, dan tentu saja sambil memerintah rakyat semut. Ada semut prajurit, yang tugasnya berperang. Ada semut pekerja, yang tugasnya mencari makan dan membangun sarang. Malah ada semut baby sitter, yang tugasnya merawat telur-telur yang belum menetas. Semut itu sekali menerima jabatan dan tugas, selalu melakukannya dengan sepenuh hati, kalau perlu mereka mati demi tugas.

6. Semut itu setia dan tahan banting
Semut merupakan salah satu binatang yang setia. Setia kepada ratunya, kepada kelompoknya. Terutama semut pekerja yang selalu setia bekerja untuk memberi makan sang ratu dan semut lain dalam kelompoknya.

7. Semut Itu gak cepat Putus Asa
Pernah menghalangi jalannya semut ? apa yang mereka lakukan ? mereka tidak akan putus asa, mereka akan mencari jalan lain supaya bisa sampai pada tujuannya.

Semoga kita bisa mengambil sisi posotif dari semut ini...

Kamis, 21 Mei 2015

Khutbah Jum''at => Kewajiban Orangtua Terhadap Anak

Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia

Seperti kita ketahui, akhir-akhir ini dalam berita sedang ramai-ramainya diperbincangkan tentang anak yang diterlantarkan orangtuanya. Apalagi diketahui bahwa orang tua yang menelantarkan anaknya tersebut bukan orang yang berpendidikan rendah. Terlebih lagi orang tersebut adalah pengguna narkoba. Naudzubillah.

Seringkali kita mendengar tentang kewajiban anak terhadap orangtua. Akan tetapi kita hampir lalai jika sebenarnya kewajiban orangtua terhadap anak juga tidak kalah pentingnya.

Anak adalah amanah Allah SWT kepada ayah dan ibunya, oleh karena itu harus senantiasa dipelihara, dididik dan dibina dengan sungguh-sungguh agar supaya menjadi orang yang baik, jangan sampai anak tersebut tersesat jalan dalam menempuh jalan hidupnya. Maka kewajiban orang tua terhadap anaknya bukan hanya mencarikan nafkah dan memberinya pakaian, atau kesenangan-kesenangan yang sifatnya duniawi, tetapi lebih dari itu orang tua harus mengarahkan anak-anaknya untuk mengerti kebenaran, mendidik akhlaqnya, memberinya contoh yang baik-baik serta mendoakannya. Firman Allah SWT :

يايُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا قُوْآ اَنْفُسَكُمْ وَ اَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَ اْلحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَّ يَعْصُوْنَ اللهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai (perintah) Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [QS. At-Tahrim : 6]

Lalu apakah kewajiban orang tua terhadap anaknya?

1.      1.  Memberi Nama yang Baik

Rasulullah saw diketahui telah memberi perhatian yang sangat besar terhadap masalah nama. Kapan saja beliau menjumpai nama yang tidak menarik (patut) dan tak berarti, beliau mengubahnya dan memilih beberapa nama yang pantas. Beliau mengubah macam-macam nama laki-laki dan perempuan. Seperti dalam hadits yang disampaikan oleh Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw biasa merubah nama-nama yang tidak baik. (HR. Tirmidzi)

Beliau sangat menyukai nama yang bagus. Bila memasuki kota yang baru, beliau menanyakan namanya. Bila nama kota itu buruk, digantinya dengan yang lebih baik. Beliau tidak membiarkan nama yang tak pantas dari sesuatu, seseorang, sebuah kota atau suatu daerah. Seseorang yang semula bernama Ashiyah (yang suka bermaksiat) diganti dengan Jamilah (cantik), Harb diganti dengan Salman (damai), Syi’bul Dhalalah (kelompok sesat) diganti dengan Syi’bul Huda (kelompok yang benar) dan Banu Mughawiyah (keturunan yang menipu) diganti dengan Banu Rusydi (keturunan yang mendapat petunjuk) dan sebagainya (HR. Abu Dawud dan ahli hadits lainAn-Nawawi, Al Azkar: 258)

Berkenaan dengan nama-nama yang bagus untuk anak, Rasulullah saw bersabda:
عَنْ اَبِى الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِاَسْمَا ئِكُمْ وَبِاَسْمَاءِ آبَائِكُمْ . فَاَحْسِنُوْا اَسْمَائَكُمْ. ابوداود 4: 287، منقطع، لان عبد الله بن ابى زكرياء لم يدرك ابا الدرداء

Dari Abu Darda', ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari qiyamat dengan namamu dan nama ayahmu, maka baguskanlah nama kalian". [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 287, munqathi’, karena ‘Abdullah bin Abu Zakariya tidak bertemu dengan Abu Darda’]
Selain memberi nama yang baik kemudian disunahkan bagi yang mampu untuk mengaqiqohi anaknya.
عَنْ سَمُرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص. اْلغُلاَمُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيْقَتِهِ. يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَابِعِ وَ يُسَمَّى وَ يُحْلَقُ رَاْسُهُ. الترمذى
Dari Samurah bin Jundab, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Anak itu tergadai dengan aqiqahnya, disembelih sebagai tebusannya pada hari ketujuh dan diberi nama pada hari itu serta dicukur kepalanya". [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 38]

Pemberian nama yang baik bagi anak adalah awal dari sebuah upaya pendidikan terhadap anak.Ada yang mengatakan “Apa arti sebuah nama”. Ungkapkan ini tidak selamanya benar Islam  mengajarkan  bahwa nama bagi seorang anak adalah doa. Dengan pemberian nama yang baik,diharapkan anak kita berperilaku baik sesuai dengan namanya.Adapun setelah kita memberi nama yang baik,dan telah mendidiknya dengan baik pula,namun anak kita tidak sesuai dengan yang kita inginkan,maka kita kembalikan dengan Allah Swt.Nama yang baik dengan akhlak yang baik,itulah yang kita harapkan.

2.       2. Mendidik anak dengan baik

Sebagai amanat Allah yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan- Nya, anak memerlukan pendidikan yang baik dan memadai dari orang tua. Pendidikan ini bermakna luas, baik berupa akidah, etika maupun hukum islam. selain itu pendidikan tidak hanya dapat dijalankan di sekolah, tetapi juga di rumah. Seperti hadis yang diriwayatkan dari Abu Dawud :

عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ* (أخرجه ابوداود في كتاب الصلاة)

Artinya : Dari 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata; Rasulullah SAW bersabda, “Suruhlah anak-anakmu melaksanakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat itu jika berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka". (HR. Abu Dawud).

Pendidikan di sekolah hanya dilakukan jika anak sudah cukup umur. Sedang pendidikan di rumah dimulai sejak masih kecil sampai beranjak dewasa. Rosulullah mengajarkan bahwa jika anak sudah mendekati masa baligh, hendaknya dipisahkan antara tempat tidur anak laki- laki dengan anak perempuan. Begitu pula dengan tempat tidur dengan orang tuanya.

Setelah anak berusia tujuh tahun, hendaknya orang tua memerintahkan untuk shalat dan puasa sebagai wahana pemberdayaan. Orang tua diperkenankan menghukum pada umur sepuluh tahun, kalau ia lalai menunaikan kewajiban. Hukuman bagi anak tidak boleh bersifat menyakiti atau menimbulkan cacat.

Jika orang tua memerintahkan sesuatu kepada anak maka mereka juga melaksanakan perintah tersebut. Perintah orang tua yang tidak disertai teladan, sulit untuk dipatuhi anak. Sebab kecenderungan anak akan meniru orang tua.

Ma’asyirol muslimin Rohimakumullah

Diceritakan. Pada suatu hari, Amirul Mu’minin Umar bin Khattab kehadiran seorang tamu lelaki yang mengadukan kenakalan anaknya,”Anakku ini sangat bandel” tuturnya kesal. Amirul Mu’minin berkata,”Hai fulan,apakah kamu tidak takut kepada Allah karena berani  melawan ayahmu dan tidak memenuhi hak ayahmu?Anak yang pintar ini menyela “Hai Amirul Mu’minin,apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak?” Umar ra. Menjawab, ”Ada tiga,yakni:pertama,memilihkan ibu yang baik.kedua,memilihkan nama yang baik. Ketiga,mendidik mereka dengan al-Qur’an.

Mendengar uraian dari Kholifah Umar ra.anak tersebut menjawab,”Demi Allah,ayahku tidak memilihkan ibu yang baik bagiku,akupun di beri nama ”kelelawar jantan”, sedang dia juga mengabaikan pendidikan islam  padaku.Bahkan walau satu  ayatpun  aku tidak pernah  diajari  olehnya.lalu Umar menoleh kepada ayahnya seraya berkata, ”Kau telah berbuat durhaka kepada anakmu,sebelum ia berani kepadamu....”

Orang tua hendaknya bertanggung jawab terhadap keluarga dan keturunannya, jangan sampai dia dan keturunannya mendapatkan kemurkaan dari Allah.Maka hendaknya pemimpin keluarga memberikan pelajaran agama yang baik kepada anak keturunannya agar mereka dapat menjadi anak yang shahih.

3.       Mengawinkan ketika menginjak dewasa

Orang tua berkewajiban menikahkan anaknya jika sudah tiba waktunya untuk menikah. Kewajiban orang tua dalam hal ini menyangkut pencarian calon untuk anak apabila ia belum memperoleh pasangan.

Dalam pernikahan, peran orang tua, terutama bapak sangat vital bagi anak perempuan. Dalam tuntunan islam setiap perempuan yang hendak menikah  harus disertai dengan kehadiran walinya. Ia tidak bisa menikahkan dirinya sendiri. Berbeda dengan anak laki- laki yang pernikahanya bisa sah meski tanpa kehadiran wali.

Hadirin Jamaah Jum’ah yang berbahagia
Selanjutnya kewajiban orangtua terhadap anak adalah memberi nafkah kepadanya. Orangtua tidak boleh menelantarkan anaknya atau tidak memberi nafkah kepada mereka. Apabila orangtua tidak memberi nafkah maka orang tersebut mendapat dosa.

Ada sebuah hadits yang artinya “Dari ‘Abdullah bin ‘Amr ra, ujarnya: Rasulullah saw bersabda: Seseorang telah cukup dikatakan berbuat dosa bilamana menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i)

Yang dimaksud menelantarkan nafkah anak ialah tidak memberi nafkah sama sekali atau memberi nafkah jauh di bawah kecukupan yang layak sesuai dengan kemampuan orang tuanya. Misalnya, orang tua sebenarnya mampu memberikan nafkah kepada anaknya Rp 1.500,00 sehari dan jumlah ini mencukupi kebutuhan gizi anak, tetapi ternyata orang tua hanya memberi Rp 500,00 saja, sehingga uang tersebut tidak layak sebagai nafkah.

Nafkah yang dibutuhkan anak meliputi pangan, sandang, dan papan. Artinya, anak harus mendapatkan makan sehari-hari, pakaian penutup badan, dan rumah tempat berlindung. Kadar masing-masingnya sesuai dengan kemampuan orang tuanya.

Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa seorang kepala keluarga bertanggung jawab memberikan makan, pakaian, dan tempat tinggal bagi anggota keluarganya. Dalam pengertian syar’i, keluarga adalah anak dan istri. Karena itu, sesorang yang menelantarkan istrinya atau anaknya atau mereka semua, berarti telah berbuat durhaka terhadap mereka.

Dari tiga kebutuhan hidup sehari-hari yang meliputi pangan, sandang dan papan, maka yang terutama dipenuhi lebih dulu ialah pangan. Bilamana harta yang dimiliki orang tua untuk memberi nafkah untuk anak-anaknya cukup untuk pangan saja, maka pangan itulah yang harus diutamakan. Mengapa pangan yang harus diutamakan? Karena pangan merupakan pendukung kelangsungan hidup manusia. Manusia sanggup berpakaian compang-camping, tetapi manusia tak dapat bertahan hidup dalam kelaparan dan kehausan. Karena itulah, pangan ini menjadi prioritas utama.

Bila orang tua menelantarkan nafkah anak-anaknya sehingga mereka kekurangan gizi, apalagi tidak mengurus kebutuhan makan dan minumnya sama sekali, maka mereka telah berbuat dosa, baik kepada anak-anak itu sendiri maupun kepada Allah. Jadi, orang tua harus menyadari bahwa mereka bisa saja berbuat dosa kepada anak-anaknya, yang kelak akan mendapatkan siksa dari Allah karena telah menelantarkan nafkah mereka.

Tanggung jawab memberi nafkah semacam ini tidak boleh dilalaikan oleh bapak dan ibu dalam keadaan apa pun dan di mana pun berada. Apabila bapak dan ibu melalaikan tanggung jawab memberi makan dan minum serta pakaian dan tempat berteduh untuk putra-putrinya, berarti orang tua tersebut telah mendhalimi hak-hak mereka.

Sekian khutbah Jum’at kali ini semoga membawa manfaat buat kita semua. Dan keluarga kita dijauhkan dari api neraka.


Senin, 18 Mei 2015

Boleh Membaca Al-Qur'an Memakai Langgam Daerah

Sebenarnya dulu pernah terbersit pemikiran saya , “gimana ya kalo orang-orang yang qiro itu pake lagu-lagu Jawa seperti dandanggulo?” dan saya pernah mendengar sendiri waktu ‘njagong’ manten disuguhi musik campursari. Tiba acara pembacaan ayat suci al-Qur’an yang membaca ternyata penyanyi cowok campursari dan memakai ‘nagham’ atau irama jawa.

Bagi kita yang memang masih asing terhadap hal tersebut mungkin mengatakan , “wah ini pelecehan” atau seperti kata bang Jarwo, “Weeh, pelanggaran” dan lain-lain kata yang tidak sepakat dengan adanya ‘inovasi’ dalam lagu bacaan al-Qur’an tersebut.

Sekilas buat sebagian kita mendengarkan Al-Quran dibaca dengan langgam Jawa ini memang terasa aneh. Karena biasanya yang kita dengar semuanya nada-nada bacaan Al-Quran itu khas timur tengah (middle east). Buat yang biasa mendengarkan wayang, terasa ini bukan bacaan Al-Quran tetapi tembang-tembang khas di pewayangan.

KH. Dzulhimi Ghozali, Ahli Qira'ah Sab'ah yang juga Juri nasional Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) ketika ditanya mengenai qari' yang membaca al-Qur'an dengan lagu wayang atau langgam jawa, mengatakan bahwa hal itu tidak apa-apa asalkan tidak keluar dari aturan Tajwid.

Lalu bagaimana dengan hadits yang mana Rasulullah SAW mengharamkan kita menggunakan langgam selain Arab?
“Bacalah Al-Quran dengan lagu dan suara orang Arab. Jauhilah lagu/irama ahlkitab dan orang orang fasiq. Nanti akan ada orang datang setelahku membaca Alquran seperti menyanyi dan melenguh, tidak melampau tenggorokan mereka. Hati mereka tertimpa fitnah, juga hati orang yang mengaguminya. “ (HR. Tarmidzi)

Dari sisi sanad sebenarnya kalau ditelurusui kedudukan hadis ini tersebut tergolong dalam hadis dha'if (lemah). Karena salah satu sanad perawinya ada yang terputus sehingga hadits itu menjadi dhoif. Bahkan ada muhaddits yang mengatakan bahwa hadits ini termasuk munkar dan bukan termasuk hadist.

Negeri Arab di masa Rasulullah SAW sangat sempit dan terbatas, seputar Mekkah, Madinah dan kisaran jaziarah Arabia saja. Di luar itu tidak pernah disebut Arab. Habasyah, Mesir, Yaman, Palestina, Suriah, Iraq, Iran di masa itu masih bukan Arab. Agama yang dianut penduduknya bukan agama Islam, mereka dianggap sebagai bangsa-bangsa kafir non Arab. Bahkan bahasa mereka pun juga bukan bahasa Arab.

Jadi kalau pun hadits Rasulullah SAW yang dhaif itu masih mau dipaksa-paksa juga untuk dipakai, tetap saja tidak tepat. Seandainya hadits itu dibilang shahih, dan larangan Rasulullah SAW itu 'terpaksa' kita ikuti juga, maka nagham atau irama cara baca Al-Quran yang kita kenal selama ini pun harusnya terlarang. Sebab nagham Bayyati, Shoba, Nahawand, Hijaz, Rost, Sika, dan Jiharka itu bukan dari Mekkah atau Madinah, bahkan bukan dari Jazirah Arab.

Ketujuh jenis nagham itu malah berasal dari Iran. Dan Iran di masa Rasulullah SAW bukan negeri Arab. Bahkan sampai hari ini pun tidak pernah dianggap sebagai negara Arab. Pemerintah Iran sendiri pun tidak pernah mengaku-ngaku sebagai negara Arab. Bahasa resmi mereka pun juga bukan bahasa Arab melainkan bahasa Persia.

Jadi kalau mau melarang langgam Jawa misalnya, maka tujuh langgam yang sudah kita kenal sepanjang sejarah Islam itu pun harus dilarang juga, lantaran bukan langgam Arab sebagaimana yang dimaksud oleh Rasulullah SAW.


Selasa, 12 Mei 2015

Khutbah Jum'at Bahasa Jawa => Sholat Sarono Mi'raj Tiyang Mukmin

Hadirin jamaah Jum’at Rahimakumullah

Sampun kulo lan panjenengan sedoyo mangertosi bilih wonten ing kalender Islam wonten wulan ingkang bersejarah. Kados wulan Ramadhan. Wonten ing saklebete  wulan Ramadhan meniko wonten kedadosan bersejarah inggih puniko temurunipun Al-Qur’an utawi  Nuzulul Qur’an. Wonten ing wulan Rabiul Awal wonten kedadosan dinten lahiripun Nabi Muhammad Saw. Lan wonten ing wulan Rojab meniko wonten kedadosan Isra’ Mi’raj.

Hadirin Rahimakumullah

Isra’ Mi’raj meniko kedadosan ingkang linangkung (luar biasa) amargi Nabi Muhammad nglampahi  dipun awiti saking Masjidil Harom ing Mekah nuju Masjidil Aqsho Palestina lajeng minggah ngantos datheng Sidrotul Muntaha lajeng kundur malih nuju Mekah namung nedha wanci mboten langkung saking sapratigan dalu. Milanipun, Allah wonten ing nyeriosaken Isra’ Mi’raj niki lebet Surat Al-Isra’ ayat 1 dipun awiti kaliyan kalimah tasbih. Subhanalladzi. Maha Suci Dzat. Maha Suci Allah saking samukawis kekirangan, Maha Suci Allah saking pangapesanipun,lan lintu-lintunipun.  Allah ngagem kesucian-ipun supados nyukakaken jaminan menawi kedadosan Isra’ Mi’raj ingkang dipun tumindakaken dening Nabi Muhammad yaiku leres-leres kedadosan.

Saleresipun wonten ing Al-Quran kathah nyriosi babagan kedadosan ingkang linangkung. nanging mboten enten ingkang dipun awiti kaliyan kalimah tasbih. Allah nyeriosaken kedadosan babagan Firaun dipun keremaken lebet laut merah. mboten dipun awiti kaliyan kalimah tasbih. Allah nyeriosaken nalika Nabi Ibrahim diobong, mboten dipunawiti kaliyan kalimah tasbih. namung kedadosan Isro’ Mi’roj niki Allah ngawiti kaliyan tasbih.

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١ 

Artosipun: “Maha Suci Allah, sing wis ndalanke hamba-Ne nang mubarang bengi saka Al Masjidil Haram menyang Al Masjidil Aqsha sing wis Ingsun berkahi sekelilinge ben Ingsun delokake marange saka nggonan saka tanda-tanda (kegedhen) Ingsun. sayekti Allah yaiku Maha krungu meneh Maha Meruhi

Hadirin rahimakumullah

Isra’ Mi’raj yaiku kedadosan ingkang mesti kedadosan. amargi lebet ayat wau ngginemaken ‘asra’ ingkang ngradinaken (memperjalankan). Dados, Allah ingkang ngradinaken (memperjalankan), Nabi ingkang dipun radinaken (diperjalankan). menawi Allah ingkang ngersak’aken saget mawon kedadosan. Menawi Isra’ Mi’raj meniko kerso Nabi piyambak, mboten mungkin setunggal dalu Nabi saget dumugi saking Mekah nuju Palestina.

Lajeng punapa Isra’ mi’raj niki dipun tumindakake ing dalu? mboten siyang ingkang padang? Imam as-Suyuthi ngginemaken babagan hikmah isra dipuntumindakake ing dalu amargi wekdal dalu wanci ingkang tenang miyambak uga wanci ingkang khusus. Punika wanci sholat ingkang dipun wajibaken dateng Nabi, sami kaliyan firman-Nipun, “ngadega sholat ing wengi” (QS. Al-Muzammil: 2)

Menapa tujuan saking Isra’  Mi’raj niki? Wonten ing lebet ayat salajengipun “linuriyahu min ayatina.” Isra’  mi’raj niki nyriyosi dhateng Nabi Muhammad sebagian alit tanda-tanda keagengan Allah ingkang salajengipun katur dhateng umatipun supados dados piwulang. Allah ugi ngendika’aken lebet surat An-Najm.

وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ١٣  عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ١٤  عِندَهَا جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ١٥ إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ ١٦  مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ ١٧ لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ    

Artosipun : “Lan satemene Muhammad wis weruh Jibril (rupane kang sejati) ana wektu liya. Yaiku ana ing sidratil Muntaha (panggonan kang dhuwur dhewe ana langit nomer 7 sing diweruhi Nabi Muhammad nalika mi'roj). Ing kono panggonane suwarga Ma'wa. (Muhammad pirsa Jibril) nalika sidratil Muntaha mau ana kang nutupi. Pandelenge Muhammad ora luput lan ora kesasar. Satemene Muhammad wis pirsa sebagian tandha - tandha (kekuasaane) Pangerane kang agung. “ (QS. An-Najm : 13 – 18).

Kajawi punika, wonten ing Isra’ Mi’raj Nabi ningali kedadosan ingkang saget dipun dadosaken piwulang kunjuk umatipun. Umpami, Nabi ningali enten tiyang ingkang nugel ilatipun piyambak. Nalika ilat kesebat telas, tuwuh malih lajeng dipotong malih mekaten saterusipun. Nabi tangklet dhateng Jibril ingkang ngancani piyambakipun, “Sopo wong iku Jibril?” Jibril mangsul “punika yaiku tiyang ingkang remen ngapusi, wicanten awon, soho tukang fitnah”

Lajeng Nabi ningali malih tiyang ingkang dikerubuti samukawis kewan melata, lajeng piyambakipun nggaruk-nggaruk kulitipun piyambak ngantos kulit lan dagingipun telas. Saksampune dagingipun telas, tuwuh malih digaruk malih ngantos telas mekaten saterusipun. Nabi tangklet, “sopo wong iku Jibril?” Jibril mangsul, “punika tiyang ingkang wonten ing dunyo remen nglarani manah tiyang mukmin.”

Uga taksih wonten pinten-pinten kedadosan ingkang saget kita sedaya pendhet piwulang saking kedadosan Isra’ Mi’raj niki.

Hadirin jamaah Jum’at ingkang dipun rahmati Allah

Tujuan ingkang paling ageng uga inti saking isra mi’raj meniko dipun syariataken sholat. Kanti nindak’aken sholat wajib kesebat satiyang hamba njejegaken setunggal kewajiban ubudiyah ingkang saged nglerem hawa nafsu, nanemaken akhlak-akhlak mulia salebeting manah, nyucikaken jiwa saking sifat pangajrih, uthil, uga putus asa. Kanthi sholat kita sedaya saget nyuwun pitulungan dhateng Allah saking sedanten permasalahan ingkang kita sedaya majengi. Allah Ta’ala ngendiko:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣

Artinya: Hai wong-wong sing mangandel, dadekna sabar lan sholat dadi panulungmu , sayekti Allah bareng karo wong-wong sing sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Juga Firman Allah:
 ۞إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا ١٩ إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعٗا ٢٠  وَإِذَا مَسَّهُ ٱلۡخَيۡرُ مَنُوعًا ٢١  إِلَّا ٱلۡمُصَلِّينَ ٢٢ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَلَىٰ صَلَاتِهِمۡ دَآئِمُونَ ٢٣

Artinya: Saktemene menungso didadekne duweni sifat keluh kesah meneh kikir. yen dheweke dike'i kasusahan dheweke nggersulo, lan yen dheweke oleh kebecikan dheweke banget kikire, kajaba wong-wong sing ngerjakne sholat, sing dekne kabeh kuwi tetap ngerjakne sholate.” (QS. Al-Ma’arij: 19-23)

Rasulullah tiyang ingkang ngatah-ngatahaken nindakaken sholat. Ngantos-ngantos piyambakipun manggih kenikmatan lebeting sholat.

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاةِ

Didadekne penganteng-anteng atiku, yoiku sholat.”

Selajengipun wonten ing surat Al-Isra’ ayat 78 dipun sebataken bilih Isra Mi’raj meniko Nabi Muhammad pikantuk perintah Sholat.

أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمۡسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيۡلِ وَقُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِۖ إِنَّ قُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِ كَانَ مَشۡهُودٗا

Artosipun : “dekno shalat saka sakwuse srengenge tergelincir nganti wengi lan (dekno ugo shalat) subuh. Saktemene shalat subuh iku disaksekne (oleh malaikat)”

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah
Saking segi panampen sholat punika sampun istimewa. Allah merintahaken umat Islam siyam, merintahaken umat ingkang mampu nglampahi ibadah haji, merintahaken zakat cekap mandhap ayat, nanging Allah merintahaken umat Islam sholat mboten cekap namung mandhap ayat, Nabi-nipun lajeng dipun timbali. Saking segi panampen, sholat sampun istimewa. Leres menawi nabi ngginemaken. Inna masala sholati fiddin kamasali ro’si fil jasad. “Kelenggahan sholat lebet agami sami kaliyan kelenggahan sirah lebet anggota awak menungso.” Kita sedaya pitados menungso mboten gadhah tangan setunggal bokmenawi taksih saget gesang. Menungso mboten gadhah suku menawi taksih saget gesang. Nanging menungso mboten saget gesang tanpa sirah. Mekaten ugi kita sedaya ningal kelenggahan sholat puniko wonten ing agami. Amargi saking wigatinipun, ngantos Allah merintah sholat lajeng nimbali Nabi kita sedaya, Muhammad SAW.

Benjang wonten ing dinten kiamat perkawis ingkang pertama dipun tangkletaken inggih puniko masalah sholat.
أول ما يحاسب عليه العبد يوم القيامة الصلاة، فإن صلحت صلح سائر عمله وإن فسدت فسد سائر عمله رواه الطبراني

“Amal ping pisan sing arep dihisab kanggo  hamba neng dina kiamat mengko yaiku sholat. mula yen sholate becik, mula becika kabeh amale. lan nek sholate ala, rusaka kabeh amale.”

Ma’asyirol Muslimin rohimakumullah
Seyyed Hossein Nasr ngginemaken menawi pandalon (pengalaman) ruhani ingkang dipun alami Rasulullah SAW kala Mi’raj nyaosi pirso bilih hakikat spiritual saking sholat ingkang dipun tindakaken umat Islam saben dinten kalebet menawi sholat meniko miraj-nya tiyang-tiyang ingkang mukmin. Dadosipun menawi kita sedaya sanget nyimpulaken isra’ mi’raj-ipun Rasulullah SAW meniko.

Setunggal, entenipun pangrekaosan (penderitaan) lebet perjuangan ingkang disikapi kaliyan kesabaran. Kaping kalih, kesabaran ingkang dipun wales dening Allah ingkang arupi Isra’ Mi’raj. Kaping tigo, sholat dados senjata kunjuk Rasulullah SAW uga kaum Muslimin supados bangkit uga ngrebat kamenangan.

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Mugi-mugi Allah dadosaken kita sedaya klebet tiyang-tiyang ingkang istiqomah anggenipun nindakaken sholat 5 wektu lan ugi sholat-sholat sunah. Mugi-mugi sholat dados penganteng-anteng manah kita sedaya uga saget ndadosaken nyelakaken kita sedaya dhateng Gusti Allah. Amin.





Kamis, 07 Mei 2015

Khutbah Jum''at => Sholat sebagai Mi'raj Orang Mukmin

Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah

Dalam Islam terdapat bulan yang didalamnya ada peristiwa bersejarah. Bulan Ramadhan ada peristiwa Nuzulul Quran, bulan Muharom ada peristiwa hijrahnya Nabi dari Mekah ke Madinah, bulan Rabiul Awwal kelahiran Nabi Muhammad, bulan Dzulhijjah bulan haji, dan bulan Rajab ini terdapat peristiwa yang sangat luar biasa, yaitu Isra’ dan Mi’raj.

Isra’ Mi’raj ini adalah peristiwa yang sangat luar biasa karena Nabi Muhammad dalam melaksanakan perjalanan mulai dari Masjidil Harom di Mekah menuju Masjidil Aqsho Palestina kemudian naik ke langit sampai ke Sidrotul Muntaha kemudian kembali lagi menuju Mekah hanya memakan waktu tidak lebih dari sepertiga malam. Oleh sebab itu, Allah dalam menceritakan Isra’ Mi’raj ini dalam surat Al-Isra’ ayat 1 dimulai dengan kalimat tasbih. Subhanalladzi. Maha Suci Dzat. Maha Suci Allah dari segala kekurangan, Maha Suci Allah dari Kelemahan, Maha Suci Allah dari Ketidakmampuan. Allah mempertaruhkan kesucian-Nya untuk memberikan jaminan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj yang dilakukan oleh Nabi Muhammad adalah benar-benar terjadi.

Sebenarnya dalam Al-Quran banyak bercerita tentang peristiwa yang luar biasa. Akan tetapi tidak ada yang dimulai dengan kalimah tasbih. Allah menceritakan peristiwa tentang Firaun ditenggelamkan dalam laut merah. Tidak dimulai dengan tasbih. Allah menceritakan ketika Nabi Ibrahim dibakar, tidak dimulai dengan tasbih. Hanya peristiwa Isro’ Mi’roj ini Allah memulai dengan tasbih.

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١ 

Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”

Hadirin rahimakumullah

Perjalanan Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa yang pasti terjadi. Karena dalam ayat tadi mengatakan ‘asra’ yang memperjalankan. Jadi, Allah yang memperjalankan dan Nabi yang dijalankan. Kalau Allah yang memperjalankan sesuatu yang kelihatannya tidak mungkin bagi manusia bisa mungkin. Karena Allah yang menghendaki. Berbeda jika perjalanan Isra’ Mi’raj ini atas kehendak Nabi sendiri dan Nabi berjalan sendiri waktu semalam tidak akan cukup untuk sampai dari Mekah ke Palestina.
Lalu kenapa perjalanan Isra’ mi’raj ini dilakukan pada malam hari? Tidak siang hari yang terang benderang? Imam as-Suyuthi mengatakan tentang hikmah perjalanan isra dilakukan di malam hari karena malam hari adalah waktu yang tenang menyendiri dan waktu yang khusus. Itulah waktu shalat yang diwajibkan atas Nabi, sebagaimana dalam firman-Nya, “Berdirilah shalat di malam hari” (QS. Al-Muzammil: 2)

Dan kenapa perjalanan Isra mi’raj Nabi mampir dulu ke Masjidil Aqsho? Kenapa tidak langsung menuju ke langit ketujuh ke Sidrotul Muntaha? Abu Muhammad bin Abi Hamzah mengatakan, “Hikmah perjalanan isra menuju Baitul Maqdis sebelum naik ke langit adalah untuk menampakkan kebenaran terjadinya peristiwa ini dan membantah orang-orang yang ingin mendustakannya. Apabila perjalanan isra dari Mekah langsung menuju langit, maka sulit dilakukan penjelasan dan pembuktian kepada orang-orang yang mengingkari peristiwa ini. Ketika dikatakan bahwa Nabi Muhammad memulai perjalanan isra ke Baitul Maqdis, orang-orang yang hendak mengingkari pun bertanya tentang ciri-ciri Baitul Maqdis sebagaimana yang pernah mereka lihat, dan mereka pun tahu bahwa Nabi Muhammad belum pernah melihatnya. Saat Rasulullah mengabarkan ciri-cirinya, mereka sadar bahwa peristiwa isra di malam itu benar-benar terjadi. Kalau mereka membenarkan apa yang beliau katakan tentang isra konsekuensinya mereka juga harus membenarkan kabar-kabar yang datang sebelumnya (risalah kenabian). Peristiwa itu menambah iman orang-orang yang beriman dan membuat orang-orang yang celaka bertambah keras bantahannya
Hadirin rahimakumullah

Apa tujuan dari Isra’ dan Mi’raj ini? Dalam ayat selanjutnya berbunyi linuriyahu min ayatina. Isra’ dan mi’raj ini untuk memberitahu kepada Nabi Muhammad sebagian kecil tanda-tanda kebesaran Tuhan untuk selanjutnya disampaikan kepada umatnya sebagai pelajaran. Allah juga berfirman dalam surat An-Najm.

وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ١٣  عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ١٤  عِندَهَا جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ١٥ إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ ١٦  مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ ١٧ لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ ١٨

“Dan sesungguhnya nabi Muhammad telah melihatJibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, yaitu di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratull Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dariyang dilihatnya itu dan tidakpula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm : 13 – 18).

Selain itu, dalam perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi melihat kejadian yang menarik yang bisa dijadikan pelajaran bagi umatnya. Umpama, Nabi melihat ada orang yang memotong lidahnya sendiri. Ketika lidah tersebut habis, tumbuh lagi kemudian dipotong lagi begitu seterusnya. Nabi bertanya kepada Jibril yang menemani Beliau, “Siapa orang itu Jibril?” Jibril menjawab “itu adalah orang yang suka berbohong, berkata jelek, memfitnah”
Kemudian Nabi melihat lagi orang yang dikerubuti segala macam binatang melata, kemudian ia menggaruk-garuk kulitnya sendiri sampai kulitnya terkelupas habis. Setelah kulitnya habis, tumbuh lagi digaruk lagi sampai habis begitu seterusnya. Nabi bertanya, “Siapa orang itu Jibril?” Jibril menjawab, “Itu orang yang melukai tubuh sendiri dengan menggaruk-garuknya adalah orang yang didunia suka menyakiti hati orang beriman.”

Dan masih banyak sekali kejadian yang bisa kita ambil pelajaran dari peristiwa Isra’ Mi’raj ini.

Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia

Tujuan yang paling besar dan inti dari perjalanan isra mi’raj adalah disyariatkannya shalat. Dengan melaksanankan shalat wajib tersebut seorang hamba menegakkan sebuah kewajiban ubudiyah yang mampu meredam hawa nafsu, menanamkan akhlak-akhlak mulia di dalam hati, menyucikan jiwa dari sifat penakut, pelit, keluh kesah, dan putus asa. Dengan shalat kita bisa memohon pertolongan kepada Allah dari permasalahan yang kita hadapi. Allah Ta’ala berfiman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Juga Firman Allah:
 ۞إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا ١٩ إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعٗا ٢٠  وَإِذَا مَسَّهُ ٱلۡخَيۡرُ مَنُوعًا ٢١  إِلَّا ٱلۡمُصَلِّينَ ٢٢ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَلَىٰ صَلَاتِهِمۡ دَآئِمُونَ ٢٣

Artinya: Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 19-23)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang senantiasa berdiri (shalat) bermunajat kepada Rabbnya, sampai-sampai beliau menemukan kenikmatan dalam mengerjakan shalat. Beliau bersabda,
وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاةِ
Dan dijadikan penyejuk hatiku di dalam shalat.”

Kemudian pada ayat 78 surat al-lsra’, Mi’raj itu untuk menerima mandat melaksanakan shalat Lima waktu. Jadi, shalat inilah yang menjadi inti peristiwa Isra’Mi’raj tersebut.

أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمۡسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيۡلِ وَقُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِۖ إِنَّ قُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِ كَانَ مَشۡهُودٗا

Artinya: “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”

Dari segi penerimaan sholat itu sudah istimewa. Allah memerintahkan umat Islam puasa, memerintahkan umat yang mampu untuk melaksanakan ibadah haji, memerintahkan zakat cukup turun ayat, tapi Allah perintah umat Islam sholat tidak cukup sekedar turun ayat, Nabi nya langsung dipanggil. Dari segi penerimaan, sholat sudah istimewa. Benar kalau nabi mengatakan. Inna masala sholati fiddin kamasali ro’si fil jasad. “Kedudukan sholat dalam agama sama dengan kedudukan kepala dalam anggota manusia.” Kita yakin manusia tidak punya sebelah tangan mungkin masih bisa hidup. Manusia tidak punya sebelah kaki barangkali masih bisa hidup. Tapi manusia tak kan bisa hidup tanpa kepala. Begitulah kita lihat kedudukan sholat ini didalam agama. Begitu pentingnya, sampai untuk menerima perintah sholat Allah langsung memanggil Nabi kita Muhammad SAW.

Besok di hari kiamat, karena pentingnya masalah sholat ini. Hal yang pertama kali ditanyakan adalah masalah sholat.
أول ما يحاسب عليه العبد يوم القيامة الصلاة، فإن صلحت صلح سائر عمله وإن فسدت فسد سائر عمله رواه الطبراني

Amal pertama kali akan dihisab untuk seorang hamba di hari kiamat nanti adalah shalat. Maka apabila Shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Dan jika sholatnya buruk, rusaklah semua amalnya. (HR. Thabrani).

Ma’asyirol Muslimin rohimakumullah

Seyyed Hossein Nasr mengatakan bahwa pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah SAW saat Mi’raj mencerminkan hakikat spiritual dari shalat yang di jalankan umat Islam sehari-hari. Dalam artian bahwa shalat adalah mi’raj-nya orang-orang beriman. Sehingga jika kita bisa tarik benang merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini.

Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi’raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. Ketiga hal diatas telah terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Al-Quran, yang berbunyi “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”


Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bersemangat dalam mengerjakan shalat dan tidak lalai dalam mengerjakannya. Semoga shalat menjadi penyejuk hati kita dan jalan untuk mendekatkan diri kepada Rabb kita. Amin..

Komen Via Facebook

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites