Kudus

Mau beli jajanan khas Kudus eh ada museum rumah adatnya..numpang foto..

Ngayogjokarto

Keliling nyari blangkon akhirnya dapet...

Ngaji

ngisi acara walimatul 'ursy ^_^

Penyuluh Agama Islam Kemenag Boyolali

Mau study banding ke Kemenag Jawa Barat sama DKI. nampang dulu di depan Kantor

Haji 2005

Kenangan di Arofah bersama bapak..

Kamis, 26 Juni 2014

Tradisi Padusan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang dinanti-nantikan oleh kaum muslimin diseluruh dunia. Menjelang bulan puasa masyarakat Jawa khususnya mempunyai tradisi “nyadran” dan “padusan”. Nyadran biasanya diawali dengan acara mendoakan arwah para leluhur di makam dan diisi siraman rohani oleh seorang ustadz atau da’I atau mubaligh. Selanjutnya, tradisi ‘padusan’. Apa ini termasuk syariat yang diajarkan Nabi? Tentu saja tidak? Brarti kalau tidak diajarkan Nabi termasuk syari’at baru? Juga tidak. Karena padusan ini bukan syari’at. Terus melanggar ajaran Islam dan termasuk ajaran sesat? Tunggu dulu. Jangan memvonis sesuatu itu dilarang, sesat dan lain-lain.
Saya sendiri belum tahu siapa yang mengadakan pertama kali ‘padusan’. Ketika masih kecil saya juga sering padusan menjelang puasa di sumur saudara saya. Padusan berasal dari kata ‘adus’. Berarti mandi. Apa ada yang salah dengan orang mandi?  Kalau dalam qaidah fiqih sesuatu tergantung niatnya. Kalau kita mandi sunah sholat Jum’at akan mendapat pahala. Bahkan, walaupun kita mandi biasa dengan niat menghilangkan bau badan, itu juga ada pahalanya.

Namun dalam perkembangannya saat ini, tradisi padusan ini telah dilakukan oleh banyak kaum muslimin secara keliru. Ini yang tidak boleh. Yaitu, padusan ‘berjamaah’  dikolam renang atau sungai  yang disitu terjadi campur baur antara laki-laki dan perempuan.  Ini yang tidak boleh.
Saya teringat sebuah kisah. Zaman dulu ada seorang ahli maksiat, meninggalkan sholat, membuat resah masyarakat. Tapi, ketika masuk bulan Ramadhan dia membersihkan diri dengan mandi taubat kemudian memakai pakaian yang bagus dan wangi-wangian.  Sholat yang ia tinggalkan semua ia qodhoni. Dan dia masuk bulan Ramadhan benar-benar dalam keadaan taubat. Dan ketika meninggal Allah telah ridho padanya.

Dari kisah tersebut kita bisa mengambil hikmah dari ‘padusan’ ini yaitu dengan niat membersihkan diri,membersihkan kotoran-kotoran yang menempel di badan, membersihkan dosa-dosa dengan taubat kepada Allah supaya kita masuk bulan Ramadhan telah menjadi manusia yang bersih lahir dan bersih batin. Kalau kita tidak melaksanakan padusan juga tidak apa-apa, kalau melakukan sebaiknya jangan berbaur dengan yang bukan muhrim.

Rabu, 25 Juni 2014

Dialog Imajiner dengan Gus Dur dan Sunan Kalijaga

Malam itu, hawa dingin habis hujan membuat keadaan menjadi enak buat pejamkan mata. Tapi, tiba-tiba saya kangen sama Gus Dur. Hah, sowan beliau sekarang aja. Batinku...

Ku lihat Gus Dur berada di tepi sebuah telaga taman yang belum pernah saya lihat keindahannya. Beliau sedang ngobrol dengan seseorang yang berpakaian ala Jawa plus blangkon dikepala. Sedang Gus Dur memakai kopiah kebanggaannya yg berwarna coklat bertuliskan 'Gus Dur'.

"Assalamu'alaikum, gus.." sapaku ketika sudah dekat dengan beliau. Ku cium tangan beliau.
"Wa'alaikumsalam.. Awakmu to, Wan. dewe'an?" jawab Gus Dur.
"Injih, gus"
"Lha endi bojomu. Gak mbok jak ta?" tanya Gus Dur.
"Boten, gus"
"Id, iki si Iwan manten anyar. Rene bojone gak diajak opo arep golek bidadari kene yo?" canda Gus Dur sambil nengok temannya yang ternyata Raden Sahid alias Sunan Kalijaga.

"Hehe.. Ada-ada saja njenengan. Garwo kulo capek, gus. Tadi sudah tidur pulas. Saya tinggal deh.. " jawabku memberi alasan.

"Awakmu ki pancen SS.. Sluman Slumun, Slintat Slintut. Ada kabar apa di Indonesia?" tanya Gus Dur.

"Masih panas, gus. Panas situasi perpolitikan. Malah sekarang njenengan digunakan buat menarik massa."

"Sopo iku, Imin neh?" tanya Gus Dur. Kemarin beliau marah-marah ketika saya kabari bahwa fotonya digunakan kampanye partainya Cak Imin.

"Boten, gus.."

"Wah, jian.. Sampean itu walaupun sudah tidak ada tapi masih laku.. Lha, saya?? Ndak ada yang majang foto saya buat kampanye."kata Kanjeng Sunan.

"Itu berarti saya lebih ganteng dari sampean.. Hahaha.." jawab Gus Dur dengan tawa khasnya.

"Gus, dulu katanya njenengan pernah bilang kalau pak Prabowo itu orangnya ikhlas terhadap rakyat. Nopo leres?" tanyaku penasaran.

"Aku wes lali.." jawab Gus Dur enteng.

"Menurut njenengan, yang pantas jadi presiden siapa? Prabowo nopo Jokowi?" tanyaku lagi.

"Yang pantas? Yang pantas ya..."
"Saya...." sahut Kanjeng Sunan. Kemudian kami pun tertawa. Gus Dur pun terpingkal-pingkal. Aku pun tak mengira Kanjeng Sunan juga bisa bercanda.

"Ini para kyai suaranya pecah, gus. Kyai Said ke Prabowo, Kyai Hasyim Ke Jokowi. Jadi kasihan grass root Nahdliyin. Bingung mau ikut siapa?" kataku.

"Ndak usah bingung. Ikut kang Said juga bagus, ikut pak Hasyim juga baik. Yang penting jangan ikut saya. Saya tetap golput.. Hehe" kata Gus Dur.

"Sekarang ini ramai fitnah memfitnah antar pendukung capres. Saling mencari kejelekan lawannya. Apa ini sudah resiko demokrasi?" tanyaku.

"Ya, itu proses. Menjadi pembelajaran dalam demokrasi. Tergantung kedewasaan masyarakat. Kalo dewasa tak akan terpancing dengan berita-berita yang belum jelas."

"Kalau menurut njenengan gimana kanjeng sunan?" tanyaku pada Sunan Kalijaga.

"Zaman saya dulu masih kerajaan belum ada demokrasi. Ya pesan saya agar tetap menjaga kerukunan antar umat beragama, mempertahankan tradisi yang baik yang sesuai dengan syari'at."

"orang-orang sekarang lucu.. Lebih lucu dari Gus Dur ketika mengeluarkan joke-joke." kataku.

"Lucu gimana?" Tanya kanjeng Sunan.

"Lucu. Dulu cinta sekarang benci.. Dulu benci sekarang cintrong.. Hehe" jawabku.

"Gimana maksudnya? Saya kok belum faham?" tanya Sunan.

"Itu lho, dulu ada yg menjelek-jelekkan sekarang malah jadi pendukung. Dulu ada yang jadi pasangan sekarang dah pisah menjadi lawan." Gus Dur menjelaskan.

"Leres, gus. Ehm, saya pamit dulu ya gus. Dah malem."
"Emang awakmu mou rene wes bengi. Yo wes ndang mulih. Mesakno bojomu kademen." kata Gus Dur.

"Nggih, gus. Kulo mung kangen kalih njenengan. Amargi yen pemilu kados ngoten jenengan medal melih.."

"Yo..yo.. Lha awakmu pilih sopo presidenne?" tanya Gus Dur.

"Kulo pilih njenengan, gus.. Hehe.. Assalamu'alaikum.."

"Wa'alaikumsalam...."

Kamis, 16 Januari 2014

Khutbah Jum'at => Taubat Tak Harus Nunggu Dosa

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita. Sesungguhnya hanya taqwalah yang dapat menylematkan kita dalam kehidupan di dunia ini dan akhirat nanti. Diatara jalan yang akan menuntun kita meraih ketaqwaan adalah jalan taubat. Barang siapa bertaubat dari segalam macam tindak keburukan pastilah dia akan meraih ketaqwaan. Karena ketaqwaan itu  menuntut diri menghindar dari kemaksiatan.

Kata taubat sudah menjadi bahasa keseharian dalam kehidupan kita. Taubat selalu diidentikkan dengan para pendosa. Taubat sering disandarkan kepada mereka yang bergelimang dalam dunia ‘gelap’ penuh dengan kemaksiatan. Demikianlah sehingga para pelaku dosa itu harus kembali hidup di jalan yang lurus dengan menghindarkan diri dari kesesatan.

Memang demikianlah makna taubat secara bahasa yaitu kembali. Artinya, kembali meinggalkan perkara yang tercela dalam pandangan agama. Perkara yang tercela sangat banyak ragam dan tingkatannya. Bagi mereka yang berkecimpung dalam kehidupan yang sarat akan kemaksiatan maka taubat itu harus dilakukan untuk menghindarkan diri dari kemaksiatan tersebut. Bagi mereka yang keseharainnya selalu mengerjakan dosa-dosa kecil, maka taubatnya adalah menghindar dari dosa-dosa kecil tersebut. Karena jika ditumpuk, maka yang kecil akan menjadi besar juga. Demikian juga bagi mereka yang hiruk-pikuknya dalam kubangan kemakruhan (perkara yang dibenci agama) maka pertaubatannya dengan menghindar dari kemakruhan. Setiap pribadi harus selalu bertaubat menurut kapasitas masing-masing.

Ma’asyiral Muslimin Rahimkumullah

Bertaubat tidaklah harus menunggu perbuatan dosa terlebih dahulu, tetapi setiap dosa harus segera ditaubati. Karena pada dasarnya manusia yang hidup di dunia ini berada dalam kubangan kesalahan. Baik kesalahan dhahir yang kasat mata maupun kesalahan bathin yang dilakukan hati. Sebagaimana Rasulullah saw pernah menerangkan hal ini kepada Abdillah bin Mas’ud “Barang siapa bertaubat tetapi tidak meninggalkan kesombongan dan kecongkakannya, berarti dia belum bertaubat”

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Taubat merupakan kesempatan yang disediakan oleh Allah swt kepada hambanya yang telah melakukan kesalahan. Taubat adalah peluang emas bagi manusia untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Oleh karena itulah jika kita ingin disayang olehnya segeralah bertaubat.
إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين
Allah swt sungguh mengistimewakan para pertaubat, apalagi jika mereka adalah orang-orang muda. Sungguh Allah swt. akan mengganti segala keburukannya menjadi kebaikan
إلا من تاب وأمن وعمل عملا صالحا فأولئك يبدل الله سيئاتهم حسنات
kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.  

Jama’ah Jum’ah yang Dimuliakan Allah
Demikianlah Allah swt benar-benar mengistimewakan mereka yang bertaubat sebagaimana kisah seorang pemabuk ketika berjumpa degan Umar bin Khattab, sedangkan dia sedang membawa botol berisi menuman keras. Diceritakan pada sebuah lorong kota Madinah, Umar bin Khattab tak sengaja berjumpa dengan seorang pemuda yang sedang berjalan dengan menenteng minuman keras. Begitu pemuda itu sadar sosok yang berpapasan dengannya adalah Umar, seketika itu pula secara reflek ia sembunyikan minuman keras dibalik jubahnya.

Lalu Umar bertanya tentang botol apakah gerangan yang berada dibalik jubahnya tersebut. Begitu malunya pemuda itu akan tingkah lakunya sehingga ia berdo’a dalam hati “Ya Allah janganlah Engkau membuka rahasia –keburukan-ku. Dan janganlah Engkau permalukan diriku di hadapan Umar bin Khattab, tutuplah semua itu dan aku berjanji tidak akan minum-minuman keras lagi selamanya”.

Kemudian pemuda itupun berbohong dan menjawab bahwa yang ada di balik jubahnya adalah cukak “Ya Amiral Mukminin yang aku bawa ini adalah cukak”. Umarpun menuntut lebih jauh “bukalah sehingga aku mengetahui apa yang sebenarnya kau sembunyikan dibalik jubahmu itu”.

Maka pemuda itupun mengeluarkan botol yang berada di balik jubahnya dan masyaallah minuman keras itu telah berubah menjadi cukak yang nikmat dan segar.

Inilah bukti betapa Allah swt memang mengistimewakan para pertaubat. Mereka yang telah bertekad bulat meninggalkan keburukan pasti Allah swt ganti dengan kebaikan ‘yubaddilullahu sayyiatihim hasanatin’

Jama’ah Jumah yang Berbahagia
Kisah di atas menjadi petunjuk bagi kita semua bahwa modal bertaubat bukanlah baju koko, peci ataupun sorban dan sajadah, tetapi dengan tekad bulat dan niat yang mantab dalam hati untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, serta kesadaran bahwa hanya Allahlah yang memberi petunjuk sekaligus Sang Maha Penerima Taubat.
Bukankah pengakuan akan kesalahan dan kebulatan tekad dari Nabi Adam as. sehingga Allah swt menerima pertaubatannya setelah Nabi Adam as. terbujuk syaitan memakan buah khuldi di surga.
قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.
Jama’ah Jum’ah yang dimulyakan Allah

Sebesar apapun dosa kita, jika seorang hamba mampu menghadirkan ketulusan bertaubat, maka Allah Ta'ala niscaya akan menerima taubatnya, kendati belum pernah ‘beramal shalih’ sekali pun.

Subhanallah , betapa beruntung menjadi umat Muhammad. Taubatnya mudah diterima. Sementara Adam a.s dengan kesalahan yang kecil telah didera dengan hukuman yang panjang. Kondisi ini sempat membuat Nabi Adam a.s iri hati.

Disebutkan bahwa Nabi Adam a.s berkata: “Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan kepada umat Muhammad empat kelebihan yang tidak diberikan kepadaku,” katanya. Apa itu?

Pertama, kata Nabi Adam, taubatku hanya diterima di kota Makkah, sementara taubat umat Muhammad diterima di sebarang tempat alias di mana saja.
Kedua, “Pada mulanya aku berpakaian, tetapi ketika aku berbuat durhaka kepada-Nya, maka Allah SWT menjadikan aku telanjang. Sebaliknya dengan umat Muhammad yang berbuat durhaka dengan telanjang, tetapi Allah tetap memberi mereka pakaian.”
Ketiga, lanjut Nabi Adam, setelah aku durhaka kepada Allah SWT, maka Dia langsung memisahkan aku dengan isteriku. Tetapi tidak untuk umat Muhammad. Mereka berbuat durhaka, sementara Allah SWT tidak memisahkan isteri mereka.
Yang keempat, “Memang benar aku pernah durhaka kepada Allah di dalam surga dan aku kemudian dikeluarkan dari surga, sebaliknya umat Muhammad durhaka kepada Allah, tetapi justru dimasukkan ke dalam surga apabila mereka bertaubat kepada-Nya.”

Terdapat kisah lain. Nabi Muhammad SAW pernah didatangi Jibril dengan membawa kabar baik untuk umatnya. Jibril menyampaikan salam Allah kepada Baginda Rasul lalu memberitahu bahwa Allah akan mengampuni dosa umatnya setahun sebelum dia meninggal sekiranya dia bertaubat.

Tetapi Baginda Nabi mengatakan setahun terlalu lama. Bisa saja kesalahan terus terjadi. Nabi SAW minta Jibril kembali menghadap Allah minta dispensasi. Jibril pun menghadap Allah SWT.
Ketika berjumpa Nabi Muhammad Jibril mengabarkan bahwa Allah akan mengampuni dosa umat Muhammad sebulan sebelum dia meninggal dunia, jika dia bertaubat. Nabi pun mengetahui kelemahan umatnya dan meminta Jibril menghadap Allah sekali lagi.

Tanpa payah Jibril menghadap lagi. Kali ketiga berjumpa Nabi, Jibril mengatakan Allah akan menerima taubat umat Muhammad sehari sebelum meninggal dunia. Sebagai Nabi yang sangat menyayangi umat, Baginda masih menaruh harapan agar Allah melonggarkan syarat taubat bagi umatnya. Nabi meminta Jibril menghadap Allah lagi. Pada kali keempat, Jibril menemui Nabi dan mengatakan Allah bersedia menerima taubat umatnya selagi nyawanya belum sampai tenggorokan.

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Demikianlah khutbah jum’ah kali ini semoga kita semua tergolong orang yang bertaubat. Sesungguhnya mereka yang bertaubat akan diselamatkan Allah swt dari perbuatan-perbuatan yang buruk.
من أحكم مقام توبته حفظه الله تعالى من سائر الشوائب التى فى الأعمال
Barang siapa memperkuat taubatnya, pasti dijaga Allah dari segala hal yang merusak keikhlasan dalam beramal.

جعلنا الله واياكم من الفائزين الامنين, وأدخلناواياكم فى عباده الصالحين. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. وإذ أخذنا ميثاق بني إسرائيل لا تعبدون إلا الله وبالوالدين إحسانا وذي القربى واليتامى والمساكين وقولوا للناس حسنا وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة ثم توليتم إلا قليلا منكم وأنتم معرضون.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Kamis, 09 Januari 2014

Khutbah Jum'at ==> Mencintai Nabi Muhammad dengan Mengikuti Sunahnya

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Dalam kesempatan yang mulia ini, marilah kita terus-menerus meningkatakan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt., dengan melaksanakan segala perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya, sebab hanya degan iman dan taqwa yang sesungguhnya, kebahagiaan dan keselamatan dunia sampai akhirat akan kita miliki. Mudah-mudahan kita termasuk dalam golongan hamba Allah yang mendapat rida-Nya dan senantiasa dalam rahmat sertalindungan-Nya, bahagia dunia dan akhirat, amin.

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Saat ini kita telah kembali memasuki bulan Rabiul Awal, bulan dimana umat Islam diseluruh penjuru dunia merayakan hari kelahiran atau Maulid Nabi besar Muhammad Saw. Yang tepat jatuhnya pada tanggal 12 Robiul Awal tahun 53 sebelum hijrah. Disamping sebagai hari kelahiran Rasulullah, tanggal 12 Rabiul Awal sebenarnya juga mempunyai nilai sejarah lain yang juga patut diperingati oleh ummat Islam. Pada tanggal tersebut Rasulullah melakukan hijrahnya dari Mekkah ke Madinah, dan pada tanggal itu pula,Rasulullah tutup usia (wafat) untuk menghadap kehadiranAllah Saw.

Banyak nilai sejarah yang terkandung dalam 12 Rabiul Awal yang patut diperingati, hanya saja, diantara beberapa peristiwa besar itu yang biasa diperingati kaum muslimin adalah hari kelahiran Rasulullah yang terkenal dngan istilah peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, dan telah menjadi tradisi Umat Islam sejak dulu hingga sekarang, walaupun dengan cara dan bentuk yang berbeda-beda, namun tetap dalam konteks dan semangat yang sama yaitu mencintai dan meneladani Rasulullah Saw.

Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Pada dasarnya, tidak ada nash atau ayat Al-Qur'an maupun hadis yang nyata-nyata memerintahkan atau melarang diadakannya peringatan terhadap hari-hari besar tersebut, maka penyelenggaraan peringatan tersebut sifatnya sangat cultural dan hukumnya boleh, sebab tidak termasuk menyalahi aturan syariat yang ditetapkan oleh Islam.

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Hadits itu menerangkan bahwa pada setiap hari senin, Abu Lahab diringankan siksanya di Neraka dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Hal itu dikarenakan bahwa saat Rasulullah saw lahir, dia sangat gembira menyambut kelahirannya sampai-sampai dia merasa perlu membebaskan (memerdekakan) budaknya yang bernama Tsuwaibatuh Al-Aslamiyah.
Jika Abu Lahab yang non-muslim dan Al-Qur’an jelas mencelanya, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW. Maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah SAW ?.
Jika sebagian umat Islam ada yang berpendapat bahwa merayakan Maulid Nabi SAW adalah bid’ah yang sesat karena alasan tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah saw sebagaimana dikatakan oleh beliau :
إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. رواه أبو داود والترمذي 
Hindarilah amalan yang tidak ku contohkan (bid`ah), karena setiap bid`ah menyesatkan. (HR Abu Daud dan Tarmizi)

Maka selain dalil dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi tersebut, juga secara semantik  (lafzhi) kata ‘kullu’ dalam hadits tersebut tidak menunjukkan makna keseluruhan bid’ah (kulliyah). Tetapi ‘kullu’ di sini bermakna sebagian dari keseluruhan bid’ah (kulli) saja. Jadi, tidak seluruh bid’ah adalah sesat karena ada juga bid’ah hasanah, sebagaimana komentar Imam Syafi’i :
المُحْدَثَاتُ ضَرْباَنِ مَاأُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتاَباً أَوْسُنَّةً أَوْأَثَرًا أَوْإِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضَّلاَلِ وَمَاأُحْدِثَ مِنَ الخَيْرِ لاَيُخَالِفُ شَيْئاً مِنْ ذَالِكَ فَهِيَ مُحْدَثَةٌ غَيْرَ مَذْمُوْمَةٍ 

Sesuatu yang diada-adakan (dalam agama) ada dua macam : Sesuatu yang diada-adakan (dalam agama) bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah Nabi SAW, prilakuk sahabat, atau kesepakatan ulama maka termasuk bid’ah yang sesat ; adapun sesuatu yang diada-adakan adalah sesuatu yang baik dan tidak menyalahi ketentuan (al Qur’an, Hadits, prilaku sahabat atau Ijma’) maka sesuatu itu tidak tercela (baik). (Fathul Bari, juz XVII: 10
Sesunggunya, perayaan maulid itu sudah ada dan telah lama dilakukan oleh umat Islam. Benihnya sudah ditanam sendiri oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits diriwayatkan:
عَنْ أبِي قَتَادَةَ الأنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ اْلإثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ – صحيح مسلم 

Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari RA bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa Senin. Maka beliau menjawab, “Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”. (HR Muslim)
Betapa Rasulullah SAW begitu memuliakan hari kelahirannya. Beliau bersyukur kepada Allah SWT pada hari tersebut atas karunia Tuhan yang telah menyebabkan keberadaannya. Rasa syukur itu beliau ungkapkan dengan bentuk puasa.

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Sebagai umat Muhammad Saw. yang mencintai beliau, sudah sepantasnya jika hari kelahiran baginda Nabi Saw. Ini, kita merayakan dan memperingatinya dengan kegiatan yang sesuai dengan anjuran syariat Islam sebagai bukti cinta kita kepada beliau. Dan bukan sebalaiknya, memperingati maulid dengan kemaksiatan dan kemungkaran yang bertolak belakang, kata cinta kepada beliau. Peringatan malid Nabi hendaklah dijadikan momentum penyelenggaraan kecintaan dan ketaatan pada ajaran yang di bawa oleh beliau. Allah Swt. Berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُوني‏ يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَ اللهُ غَفُورٌ رَحيمٌ   قُلْ أَطيعُوا اللهَ وَ الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ الْكافِرينَ

Artinya:
katakanlah, ‘jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir.” (QS. Ali-Imron: 31-32)
hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Anas r.a. berikut ini:
عن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: من أحب سنتى فقد أحبنى ومن أحبنى كان معى فى الجنة.

Artinya:
Diriwayatkan dari Anas r.a., dari Rasulullah Saw., bahwa beliau bersabda, barang siapa mencintai sunnahku maka sungguh ia telah mencintai aku, maka ia bersamaku di surga
Di dalam kitab durrotun Nasihin di jelaskan:
فمن أحب أن ينال رؤية النبي عليه الصلاة والسلام فليحبه حبا شديدا وعلامة الحب الاطاعة فى السنته السنية واكثار الصلاة عليه لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال من أحب شيئا اكثر من ذكره

Artinya:
“Maka barang siapa menginginkan dapat melihat Rasulullah Saw., hendaklah ia mencintai beliau dengan kecintaan yang sungguh. Adapun tanda-tanda cinta Rasul itu adalah mengikuti Sunnah beliau yang mulia dan memperbanyak berselawat untuk beliau, sebab Rasulullah Saw, telah bersabda, ‘barang siapa mencintai sesuatu, maka ia tentu banyak menyebutnya,”

Lantas bagaimana kita mengisi atau menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad?
Dalam kitab "At-Tanbihatul Waajibat" karya seorang ulama besar, K.H. Hasyim Asy'ari, Tebuireng, Jombang, JawaTimur menjelaskan bahwa bentuk peringatan Maulid nabi berupa perkumpulan banyak manusia, yang disitu dibaca ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis-hadis yang mengisahkan tentang peristiwa dan kelebihan-kelebihan Rasulullah semasa dalam kandungan, saat kelahiran maupan pasca kelahiran beliau. Demikian juga budi pekerti dan akhlak beliau yang mulia. Setelah itu, dibagikan kepada mereka sekedar makanan sebagai jamuan. Adakalanya dalam peringatan itu disertai memukul rebana namun tetap dalam konteks seni yang bernuansa Islami.

Sedangkan peringatan maulid Rasulullah Saw. Yang dilakukan oleh Syaikh Umar bin Muhammad Al-Mulla, salah seorang saleh yang ternama dikota Irbil dan banyak diikuti oleh masyarakat sekitarnya adalah dengan bersedekah, bakti sosial, berbuat kebajikan dan melahirkan rasa suka dan gembira atas kelahiran beliau.bentuk peringatan seperti itu menunjukkan rasa kecintaan pengagungan dan pemuliaan terhadap baginda Rasulullah Saw. Serta ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt. Atas nikmat dan anugrah-Nya yang besar berupa kedatanganya dan pembawa hidayah, kebenaran serta kasih sayang untuk seluruh alam.

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Oleh karena itu, marilah di bulan Rabiul Awal ini kita jadikan momentum untuk menyegarkan kecintaan kita kepada beliau, sekaligus mentaati dan mengikuti sunnah-sunnah beliau. Hal ini merupakan cerminan dari cinta Rasul yang sesungguhnya, agar kelak kita memperoleh syafaat beliau.
Semoga peringatan demi peringatan maulid Nabi Saw. Yang diselenggarakan oleh kaum muslimin, benar-benar merupakan ekspresi kecintaan kepada beliau, dengan menaati dan mengikuti sunnah-sunnah beliau, sehingga kita akan mendapatkan syafa’at beliau, dan dapat bersama orang yang kita cintai itu di dalam surga, amin.    
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

Komen Via Facebook

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites