Kudus

Mau beli jajanan khas Kudus eh ada museum rumah adatnya..numpang foto..

Ngayogjokarto

Keliling nyari blangkon akhirnya dapet...

Ngaji

ngisi acara walimatul 'ursy ^_^

Penyuluh Agama Islam Kemenag Boyolali

Mau study banding ke Kemenag Jawa Barat sama DKI. nampang dulu di depan Kantor

Haji 2005

Kenangan di Arofah bersama bapak..

Kamis, 16 Januari 2014

Khutbah Jum'at => Taubat Tak Harus Nunggu Dosa

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita. Sesungguhnya hanya taqwalah yang dapat menylematkan kita dalam kehidupan di dunia ini dan akhirat nanti. Diatara jalan yang akan menuntun kita meraih ketaqwaan adalah jalan taubat. Barang siapa bertaubat dari segalam macam tindak keburukan pastilah dia akan meraih ketaqwaan. Karena ketaqwaan itu  menuntut diri menghindar dari kemaksiatan.

Kata taubat sudah menjadi bahasa keseharian dalam kehidupan kita. Taubat selalu diidentikkan dengan para pendosa. Taubat sering disandarkan kepada mereka yang bergelimang dalam dunia ‘gelap’ penuh dengan kemaksiatan. Demikianlah sehingga para pelaku dosa itu harus kembali hidup di jalan yang lurus dengan menghindarkan diri dari kesesatan.

Memang demikianlah makna taubat secara bahasa yaitu kembali. Artinya, kembali meinggalkan perkara yang tercela dalam pandangan agama. Perkara yang tercela sangat banyak ragam dan tingkatannya. Bagi mereka yang berkecimpung dalam kehidupan yang sarat akan kemaksiatan maka taubat itu harus dilakukan untuk menghindarkan diri dari kemaksiatan tersebut. Bagi mereka yang keseharainnya selalu mengerjakan dosa-dosa kecil, maka taubatnya adalah menghindar dari dosa-dosa kecil tersebut. Karena jika ditumpuk, maka yang kecil akan menjadi besar juga. Demikian juga bagi mereka yang hiruk-pikuknya dalam kubangan kemakruhan (perkara yang dibenci agama) maka pertaubatannya dengan menghindar dari kemakruhan. Setiap pribadi harus selalu bertaubat menurut kapasitas masing-masing.

Ma’asyiral Muslimin Rahimkumullah

Bertaubat tidaklah harus menunggu perbuatan dosa terlebih dahulu, tetapi setiap dosa harus segera ditaubati. Karena pada dasarnya manusia yang hidup di dunia ini berada dalam kubangan kesalahan. Baik kesalahan dhahir yang kasat mata maupun kesalahan bathin yang dilakukan hati. Sebagaimana Rasulullah saw pernah menerangkan hal ini kepada Abdillah bin Mas’ud “Barang siapa bertaubat tetapi tidak meninggalkan kesombongan dan kecongkakannya, berarti dia belum bertaubat”

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Taubat merupakan kesempatan yang disediakan oleh Allah swt kepada hambanya yang telah melakukan kesalahan. Taubat adalah peluang emas bagi manusia untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Oleh karena itulah jika kita ingin disayang olehnya segeralah bertaubat.
إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين
Allah swt sungguh mengistimewakan para pertaubat, apalagi jika mereka adalah orang-orang muda. Sungguh Allah swt. akan mengganti segala keburukannya menjadi kebaikan
إلا من تاب وأمن وعمل عملا صالحا فأولئك يبدل الله سيئاتهم حسنات
kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.  

Jama’ah Jum’ah yang Dimuliakan Allah
Demikianlah Allah swt benar-benar mengistimewakan mereka yang bertaubat sebagaimana kisah seorang pemabuk ketika berjumpa degan Umar bin Khattab, sedangkan dia sedang membawa botol berisi menuman keras. Diceritakan pada sebuah lorong kota Madinah, Umar bin Khattab tak sengaja berjumpa dengan seorang pemuda yang sedang berjalan dengan menenteng minuman keras. Begitu pemuda itu sadar sosok yang berpapasan dengannya adalah Umar, seketika itu pula secara reflek ia sembunyikan minuman keras dibalik jubahnya.

Lalu Umar bertanya tentang botol apakah gerangan yang berada dibalik jubahnya tersebut. Begitu malunya pemuda itu akan tingkah lakunya sehingga ia berdo’a dalam hati “Ya Allah janganlah Engkau membuka rahasia –keburukan-ku. Dan janganlah Engkau permalukan diriku di hadapan Umar bin Khattab, tutuplah semua itu dan aku berjanji tidak akan minum-minuman keras lagi selamanya”.

Kemudian pemuda itupun berbohong dan menjawab bahwa yang ada di balik jubahnya adalah cukak “Ya Amiral Mukminin yang aku bawa ini adalah cukak”. Umarpun menuntut lebih jauh “bukalah sehingga aku mengetahui apa yang sebenarnya kau sembunyikan dibalik jubahmu itu”.

Maka pemuda itupun mengeluarkan botol yang berada di balik jubahnya dan masyaallah minuman keras itu telah berubah menjadi cukak yang nikmat dan segar.

Inilah bukti betapa Allah swt memang mengistimewakan para pertaubat. Mereka yang telah bertekad bulat meninggalkan keburukan pasti Allah swt ganti dengan kebaikan ‘yubaddilullahu sayyiatihim hasanatin’

Jama’ah Jumah yang Berbahagia
Kisah di atas menjadi petunjuk bagi kita semua bahwa modal bertaubat bukanlah baju koko, peci ataupun sorban dan sajadah, tetapi dengan tekad bulat dan niat yang mantab dalam hati untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, serta kesadaran bahwa hanya Allahlah yang memberi petunjuk sekaligus Sang Maha Penerima Taubat.
Bukankah pengakuan akan kesalahan dan kebulatan tekad dari Nabi Adam as. sehingga Allah swt menerima pertaubatannya setelah Nabi Adam as. terbujuk syaitan memakan buah khuldi di surga.
قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.
Jama’ah Jum’ah yang dimulyakan Allah

Sebesar apapun dosa kita, jika seorang hamba mampu menghadirkan ketulusan bertaubat, maka Allah Ta'ala niscaya akan menerima taubatnya, kendati belum pernah ‘beramal shalih’ sekali pun.

Subhanallah , betapa beruntung menjadi umat Muhammad. Taubatnya mudah diterima. Sementara Adam a.s dengan kesalahan yang kecil telah didera dengan hukuman yang panjang. Kondisi ini sempat membuat Nabi Adam a.s iri hati.

Disebutkan bahwa Nabi Adam a.s berkata: “Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan kepada umat Muhammad empat kelebihan yang tidak diberikan kepadaku,” katanya. Apa itu?

Pertama, kata Nabi Adam, taubatku hanya diterima di kota Makkah, sementara taubat umat Muhammad diterima di sebarang tempat alias di mana saja.
Kedua, “Pada mulanya aku berpakaian, tetapi ketika aku berbuat durhaka kepada-Nya, maka Allah SWT menjadikan aku telanjang. Sebaliknya dengan umat Muhammad yang berbuat durhaka dengan telanjang, tetapi Allah tetap memberi mereka pakaian.”
Ketiga, lanjut Nabi Adam, setelah aku durhaka kepada Allah SWT, maka Dia langsung memisahkan aku dengan isteriku. Tetapi tidak untuk umat Muhammad. Mereka berbuat durhaka, sementara Allah SWT tidak memisahkan isteri mereka.
Yang keempat, “Memang benar aku pernah durhaka kepada Allah di dalam surga dan aku kemudian dikeluarkan dari surga, sebaliknya umat Muhammad durhaka kepada Allah, tetapi justru dimasukkan ke dalam surga apabila mereka bertaubat kepada-Nya.”

Terdapat kisah lain. Nabi Muhammad SAW pernah didatangi Jibril dengan membawa kabar baik untuk umatnya. Jibril menyampaikan salam Allah kepada Baginda Rasul lalu memberitahu bahwa Allah akan mengampuni dosa umatnya setahun sebelum dia meninggal sekiranya dia bertaubat.

Tetapi Baginda Nabi mengatakan setahun terlalu lama. Bisa saja kesalahan terus terjadi. Nabi SAW minta Jibril kembali menghadap Allah minta dispensasi. Jibril pun menghadap Allah SWT.
Ketika berjumpa Nabi Muhammad Jibril mengabarkan bahwa Allah akan mengampuni dosa umat Muhammad sebulan sebelum dia meninggal dunia, jika dia bertaubat. Nabi pun mengetahui kelemahan umatnya dan meminta Jibril menghadap Allah sekali lagi.

Tanpa payah Jibril menghadap lagi. Kali ketiga berjumpa Nabi, Jibril mengatakan Allah akan menerima taubat umat Muhammad sehari sebelum meninggal dunia. Sebagai Nabi yang sangat menyayangi umat, Baginda masih menaruh harapan agar Allah melonggarkan syarat taubat bagi umatnya. Nabi meminta Jibril menghadap Allah lagi. Pada kali keempat, Jibril menemui Nabi dan mengatakan Allah bersedia menerima taubat umatnya selagi nyawanya belum sampai tenggorokan.

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Demikianlah khutbah jum’ah kali ini semoga kita semua tergolong orang yang bertaubat. Sesungguhnya mereka yang bertaubat akan diselamatkan Allah swt dari perbuatan-perbuatan yang buruk.
من أحكم مقام توبته حفظه الله تعالى من سائر الشوائب التى فى الأعمال
Barang siapa memperkuat taubatnya, pasti dijaga Allah dari segala hal yang merusak keikhlasan dalam beramal.

جعلنا الله واياكم من الفائزين الامنين, وأدخلناواياكم فى عباده الصالحين. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. وإذ أخذنا ميثاق بني إسرائيل لا تعبدون إلا الله وبالوالدين إحسانا وذي القربى واليتامى والمساكين وقولوا للناس حسنا وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة ثم توليتم إلا قليلا منكم وأنتم معرضون.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Kamis, 09 Januari 2014

Khutbah Jum'at ==> Mencintai Nabi Muhammad dengan Mengikuti Sunahnya

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Dalam kesempatan yang mulia ini, marilah kita terus-menerus meningkatakan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt., dengan melaksanakan segala perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya, sebab hanya degan iman dan taqwa yang sesungguhnya, kebahagiaan dan keselamatan dunia sampai akhirat akan kita miliki. Mudah-mudahan kita termasuk dalam golongan hamba Allah yang mendapat rida-Nya dan senantiasa dalam rahmat sertalindungan-Nya, bahagia dunia dan akhirat, amin.

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Saat ini kita telah kembali memasuki bulan Rabiul Awal, bulan dimana umat Islam diseluruh penjuru dunia merayakan hari kelahiran atau Maulid Nabi besar Muhammad Saw. Yang tepat jatuhnya pada tanggal 12 Robiul Awal tahun 53 sebelum hijrah. Disamping sebagai hari kelahiran Rasulullah, tanggal 12 Rabiul Awal sebenarnya juga mempunyai nilai sejarah lain yang juga patut diperingati oleh ummat Islam. Pada tanggal tersebut Rasulullah melakukan hijrahnya dari Mekkah ke Madinah, dan pada tanggal itu pula,Rasulullah tutup usia (wafat) untuk menghadap kehadiranAllah Saw.

Banyak nilai sejarah yang terkandung dalam 12 Rabiul Awal yang patut diperingati, hanya saja, diantara beberapa peristiwa besar itu yang biasa diperingati kaum muslimin adalah hari kelahiran Rasulullah yang terkenal dngan istilah peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, dan telah menjadi tradisi Umat Islam sejak dulu hingga sekarang, walaupun dengan cara dan bentuk yang berbeda-beda, namun tetap dalam konteks dan semangat yang sama yaitu mencintai dan meneladani Rasulullah Saw.

Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Pada dasarnya, tidak ada nash atau ayat Al-Qur'an maupun hadis yang nyata-nyata memerintahkan atau melarang diadakannya peringatan terhadap hari-hari besar tersebut, maka penyelenggaraan peringatan tersebut sifatnya sangat cultural dan hukumnya boleh, sebab tidak termasuk menyalahi aturan syariat yang ditetapkan oleh Islam.

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Hadits itu menerangkan bahwa pada setiap hari senin, Abu Lahab diringankan siksanya di Neraka dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Hal itu dikarenakan bahwa saat Rasulullah saw lahir, dia sangat gembira menyambut kelahirannya sampai-sampai dia merasa perlu membebaskan (memerdekakan) budaknya yang bernama Tsuwaibatuh Al-Aslamiyah.
Jika Abu Lahab yang non-muslim dan Al-Qur’an jelas mencelanya, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW. Maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah SAW ?.
Jika sebagian umat Islam ada yang berpendapat bahwa merayakan Maulid Nabi SAW adalah bid’ah yang sesat karena alasan tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah saw sebagaimana dikatakan oleh beliau :
إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. رواه أبو داود والترمذي 
Hindarilah amalan yang tidak ku contohkan (bid`ah), karena setiap bid`ah menyesatkan. (HR Abu Daud dan Tarmizi)

Maka selain dalil dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi tersebut, juga secara semantik  (lafzhi) kata ‘kullu’ dalam hadits tersebut tidak menunjukkan makna keseluruhan bid’ah (kulliyah). Tetapi ‘kullu’ di sini bermakna sebagian dari keseluruhan bid’ah (kulli) saja. Jadi, tidak seluruh bid’ah adalah sesat karena ada juga bid’ah hasanah, sebagaimana komentar Imam Syafi’i :
المُحْدَثَاتُ ضَرْباَنِ مَاأُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتاَباً أَوْسُنَّةً أَوْأَثَرًا أَوْإِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضَّلاَلِ وَمَاأُحْدِثَ مِنَ الخَيْرِ لاَيُخَالِفُ شَيْئاً مِنْ ذَالِكَ فَهِيَ مُحْدَثَةٌ غَيْرَ مَذْمُوْمَةٍ 

Sesuatu yang diada-adakan (dalam agama) ada dua macam : Sesuatu yang diada-adakan (dalam agama) bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah Nabi SAW, prilakuk sahabat, atau kesepakatan ulama maka termasuk bid’ah yang sesat ; adapun sesuatu yang diada-adakan adalah sesuatu yang baik dan tidak menyalahi ketentuan (al Qur’an, Hadits, prilaku sahabat atau Ijma’) maka sesuatu itu tidak tercela (baik). (Fathul Bari, juz XVII: 10
Sesunggunya, perayaan maulid itu sudah ada dan telah lama dilakukan oleh umat Islam. Benihnya sudah ditanam sendiri oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits diriwayatkan:
عَنْ أبِي قَتَادَةَ الأنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ اْلإثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ – صحيح مسلم 

Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari RA bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa Senin. Maka beliau menjawab, “Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”. (HR Muslim)
Betapa Rasulullah SAW begitu memuliakan hari kelahirannya. Beliau bersyukur kepada Allah SWT pada hari tersebut atas karunia Tuhan yang telah menyebabkan keberadaannya. Rasa syukur itu beliau ungkapkan dengan bentuk puasa.

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Sebagai umat Muhammad Saw. yang mencintai beliau, sudah sepantasnya jika hari kelahiran baginda Nabi Saw. Ini, kita merayakan dan memperingatinya dengan kegiatan yang sesuai dengan anjuran syariat Islam sebagai bukti cinta kita kepada beliau. Dan bukan sebalaiknya, memperingati maulid dengan kemaksiatan dan kemungkaran yang bertolak belakang, kata cinta kepada beliau. Peringatan malid Nabi hendaklah dijadikan momentum penyelenggaraan kecintaan dan ketaatan pada ajaran yang di bawa oleh beliau. Allah Swt. Berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُوني‏ يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَ اللهُ غَفُورٌ رَحيمٌ   قُلْ أَطيعُوا اللهَ وَ الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ الْكافِرينَ

Artinya:
katakanlah, ‘jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir.” (QS. Ali-Imron: 31-32)
hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Anas r.a. berikut ini:
عن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: من أحب سنتى فقد أحبنى ومن أحبنى كان معى فى الجنة.

Artinya:
Diriwayatkan dari Anas r.a., dari Rasulullah Saw., bahwa beliau bersabda, barang siapa mencintai sunnahku maka sungguh ia telah mencintai aku, maka ia bersamaku di surga
Di dalam kitab durrotun Nasihin di jelaskan:
فمن أحب أن ينال رؤية النبي عليه الصلاة والسلام فليحبه حبا شديدا وعلامة الحب الاطاعة فى السنته السنية واكثار الصلاة عليه لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال من أحب شيئا اكثر من ذكره

Artinya:
“Maka barang siapa menginginkan dapat melihat Rasulullah Saw., hendaklah ia mencintai beliau dengan kecintaan yang sungguh. Adapun tanda-tanda cinta Rasul itu adalah mengikuti Sunnah beliau yang mulia dan memperbanyak berselawat untuk beliau, sebab Rasulullah Saw, telah bersabda, ‘barang siapa mencintai sesuatu, maka ia tentu banyak menyebutnya,”

Lantas bagaimana kita mengisi atau menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad?
Dalam kitab "At-Tanbihatul Waajibat" karya seorang ulama besar, K.H. Hasyim Asy'ari, Tebuireng, Jombang, JawaTimur menjelaskan bahwa bentuk peringatan Maulid nabi berupa perkumpulan banyak manusia, yang disitu dibaca ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis-hadis yang mengisahkan tentang peristiwa dan kelebihan-kelebihan Rasulullah semasa dalam kandungan, saat kelahiran maupan pasca kelahiran beliau. Demikian juga budi pekerti dan akhlak beliau yang mulia. Setelah itu, dibagikan kepada mereka sekedar makanan sebagai jamuan. Adakalanya dalam peringatan itu disertai memukul rebana namun tetap dalam konteks seni yang bernuansa Islami.

Sedangkan peringatan maulid Rasulullah Saw. Yang dilakukan oleh Syaikh Umar bin Muhammad Al-Mulla, salah seorang saleh yang ternama dikota Irbil dan banyak diikuti oleh masyarakat sekitarnya adalah dengan bersedekah, bakti sosial, berbuat kebajikan dan melahirkan rasa suka dan gembira atas kelahiran beliau.bentuk peringatan seperti itu menunjukkan rasa kecintaan pengagungan dan pemuliaan terhadap baginda Rasulullah Saw. Serta ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt. Atas nikmat dan anugrah-Nya yang besar berupa kedatanganya dan pembawa hidayah, kebenaran serta kasih sayang untuk seluruh alam.

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Oleh karena itu, marilah di bulan Rabiul Awal ini kita jadikan momentum untuk menyegarkan kecintaan kita kepada beliau, sekaligus mentaati dan mengikuti sunnah-sunnah beliau. Hal ini merupakan cerminan dari cinta Rasul yang sesungguhnya, agar kelak kita memperoleh syafaat beliau.
Semoga peringatan demi peringatan maulid Nabi Saw. Yang diselenggarakan oleh kaum muslimin, benar-benar merupakan ekspresi kecintaan kepada beliau, dengan menaati dan mengikuti sunnah-sunnah beliau, sehingga kita akan mendapatkan syafa’at beliau, dan dapat bersama orang yang kita cintai itu di dalam surga, amin.    
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

Rabu, 20 November 2013

TV9


lewat blackberry klik: rtsp://videostream.indostreamserver.com:1935/tv9/live

Rabu, 30 Oktober 2013

Khutbah Jum'at ==> Menyelamatkan Moral dengan Dzikir


Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Di Negara kita banyak sekali pendakwah-pendakwah yang memberikan siraman rohani terhadap umatnya. Baik dalam lingkup nasional maupun lingkup desa. Akan tetapi, apakah dengan banyaknya pendakwah-pendakwah tersebut membawa pengaruh terhadap perilaku kehidupan umat manusia? apakah semakin hari semakin bertambah umat yang baik, apakah semakin hari orang banyak yang berbondong-bondong menuju tempat ibadah? Apakah semakin hari moral umat manusia semakin baik dan meningkat?

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Kita bisa mengintroseksi diri kita, apakah perilaku kita berubah, amal ibadah kita meningkat setelah kita mendengarkan ceramah-ceramah , khutbah atau pengajian-pengajian. Kita bisa introspeksi diri kita sendiri.

Selain itu, kita bisa melihat lingkungan kita. Berita-berita di televisi maupun media massa lainnya saat ini banyak menyuguhkan berita tentang kemerosotan moral manusia. Mulai dari pejabat yang korupsi, main suap, mengkonsumsi narkoba. Juga kalangan remaja yang sudah tanpa malu melakukan freee sex atau perzinaan bahkan direkam dan disaksikan oleh teman-temannya, pencurian, perampokan, pembunuhan dan masih banyak lagi berita tentang dekadensi moral yang terjadi di sekeliling kita. 

Padahal, sebagaimana kita ketahui di Negara kita banyak sekali pendakwah-pendakwah yang mengajak kepada kebaikan. Setiap hari utamanya pada bulan Ramadhan banyak sekali penceramah yang memberikan siraman rohani ataupun nasehat-nasehat yang baik. Allah berfirman dalam surat  Al- Asr:

Artinya : “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Jika nasehat-nasehat sudah tidak dianggap. Apa yang terjadi? Tentu saja. Yang terjadi adalah kemerosotan moral bahkan kalau tetap dibiarkan akan terjadi kemerosotan moral yang mengerikan.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Pada kesempatan kali ini, saya mengingatkan kepada diri saya sendiri secara khusus dan kepada hadirin pada umumnya untuk senantiasa memperbaiki ataupun menjaga moral kita. Sebab, kita tentunya tidak menunggu teguran dari Tuhan sebab kelalaian kita dalam melanggar larangan-larangan-Nya. Sebagaimana firman Allah:

Artinya: “ telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum:41)

Kalau kita mencermati bahwa kerusakan alam terjadi akibat kerakusan manusia yang tak bijaksana dalam mengeksploitasi kekayaan alam. Kerakusan adalah kebalikan dari sifat qonaah. Sifat rakus yang terdapat dalam diri manusia merupakan kemerosotan moral yang dimiliki.

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Kita semua tahu bahwa selain diberi hati nurani yang senantiasa menegakkan sifat-sifat ketuhanan (al-khuluq), dalam diri kita juga terdapat hawa nafsu yang cenderung tergiur oleh materi. Setiap saat terjadi tarik menarik antara keduanya. Jika kemenangan dipihak nafsu, maka manusia akan turun derajat dan moralnya. Sedangkan jika hati nurani mampu mengungguli nafsu, orang tersebut akan naik derajatnya dimata makhluk maupun di sisi Tuhannya.
Jam’ah Jum’ah rahimakumullah   
Kata moral sering diidentikkan dengan budi pekerti, adab, etika, tata krama dan sebagainya. Dalam bahasa arab sering disebut dengan kata al-akhlaq atau al-adab. Al-Akhlaq merupakan bentuk jamak dari kata “al-khuluq”, artinya budi pekerti atau moralitas. Kata yang disebutkan hanya dua kali dalam al-Quran pertama dalam al-Syu’ara 137 yang berbunyi:
إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ
Yang artinya: “(agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu.”

dan yang kedua dalam surat al-Qalam 4;
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

Dalam agama Islam, Kristen, Hindu maupun Budha, moral adalah pondasi yang harus kuat dan tetap utuh. Kehidupan tanpa moral bagaikan tubuh tanpa kepala. Tidak akan disebut tubuh yang sempurna jika kepala itu tidak ada. Maka demikian, kehidupan tanpa adanya landasan moral tidak akan sempurna.
Dalam ajaran Budha juga menganggap bahwa moral merupakan nilai yang diharuskan untuk setiap umat yang salah satunya menyebutkan, ‘Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami’ yang artinya, aku bertekad akan melatih diri menghindari pencurian/mengambil barang yang tidak diberikan.
Rasulullah Saw. Sendiri diutus oleh Allah adalah untuk menyempurnakan moral yang mulia (makarimal akhlak).

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Kemerosotan moral ini bisa menimpa siapa saja. Tidak peduli ia berkedudukan atau berjabatan tinggi. Tidak peduli ia berparas cantik menawan ataupun jelek. Tidak peduli ia kaum berduit atau kaum papa. Sepandai apapun orangnya sampai bergelar kesarjanaan tinggi, ia bisa terjerat oleh hawa nafsunya. Sebab Allah telah mengunci hati dan pendengarannya, sebab mereka memenangkan hawa nafsunya. Allah berfirman:

Artinya: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
Lalu bagaimana upaya kita menyelamatkan moral yang selama ini tercecer di lembah hiruk pikuknya nafsu?  Salah satu sebab utama merosotnya moral adalah hilangnya keyakinan (iman) terhadap Tuhan, hari akhir dan balasan surga-neraka. Oleh karena itu, salah satu cara untuk menjaga moral kita adalah dengan banyak ingat kepada Allah atau dzikrullah.

Hadirin Jamaah Jum’at Yang berbahagia

Dzikir adalah sesuatu yang ringan karena berupa ucapan tapi sangat besar faedahnya bagi kita semua.. Tapi diantara kita kebanyakan lalai karena kesibukan kita setiap hari.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah berkata, “Dzikir bagi hati ibarat air bagi ikan. Apa jadinya bila ikan dikeluarkan dari air?
Pernyataan Ibnu Taimiyyah tersebut patut kita renungkan. Apakah memang hati kita telah mendapat nutrisi yang baik atau belum? Sebab, nutrisi yang bernama dzikir ini sangatlah penting bagi hati. Hati yang tidak pernah berdzikir mengingat Allah, maka bisa jadi nantinya akan mati. Dan bila hati telah mati, maka hawa nafsu yang akan selalu bicara.
Adapun diantara  faedah dzikir adalah:
Pertama, dzikir adalah makanan pokok bagi hati dan roh. Apabila seorang hamba kehilangan dzikir itu, maka dia laksana tubuh yang tidak mendapatkan makanan pokok.
Abu Musa al-Asy’ari meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir kepada-Nya laksana orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. Bukhori)
Kedua, dzikir dapat menghilangkan kesedihan dan kegelisahan dalam hati. Dengan dzikir maka hati menjadi damai dan tenang. Seperti dalam syi’ir Jawa yang berbunyi, “tombo ati iku limo ing wernane, kaping pisan moco Qur’an lan maknane, kaping pindo sholat wengi lakonono, kaping telu wong kang sholeh kumpulono, kaping papat weteng kudu ingkang luwe, kaping limo dzikir wengi ingkang suwe.”
Salah satu obat hati adalah dzikir yang lama di malam hari. Disaat orang terlelap dalam mimpi, kita bangun sholat dan dzikir.
Allah berfirman:
 (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’d:28)
Ketiga, dzikir membuat hamba diingat oleh Allah. Ketika seorang hamba berdzikir mengingat Allah, maka Allah pun mengingatnya. Alangkah bahagianya jika kita selalu diingat oleh Tuhan yang menciptakan kita.
 Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. AL-Baqoroh:152)
Keempat, orang yang senantiasa berdzikir atau mengingat Allah akan dijauhkan dari maksiat. Ketika dia terus menerus mengingat Allah dan mengetahui bahwa Allah melihat apa yang dilakukannya niscaya dia akan malu dan takut melakukan maksiat. Coba kita bayangkan, pasti tidak ada orang yang sebelum mabuk, minum-minuman keras baca “bismillahirrohmanirrohim” atau orang yang mendatangi lokalisasi atau hotel dengan pasangan tak resmi baca “alhamdulillahirobbil ‘alamin” seusai kencan. Dzikir menjauhkan dari maksiat.

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Sebagaimana yang telah saya sebutkan diatas bahwa kemerosotan moral akibat manusia telah menghilangkan keberadaan Tuhan dalam dirinya. Oleh karena itu, seperti yang diungkapkan oleh Prof. Jaques Barzun. Kita harus mengembalikan Tuhan kepada kedudukanNya yang sesungguhnya. (restore god to the fullness of his reality)
Salah satu cara menghadirkan Tuhan adalah dengan selalu mengingat-Nya. Dzikir bisa kita lakukan dimana saja. Di tempat kerja, di tempat ibadah, dikeramaian, dan lain-lain. Mungkin karena kesibukan kita dan keluarga sehingga kita bisa lupa untuk dzikir atau ingat Allah, alangkah indahnya jika dzikir ini diprogramkan. Misalnya, dalam keluarga mempunyai program sholat maghrib berjamaah di rumah dengan keluarga dan kemudian diisi dzikir bersama atau mungkin disekolahan-sekolahan diprogramkan sebulan sekali untuk dzikir bersama. Walau biasanya dan kebanyakan dzikir bersama diadakan setahun sekali menjelang ujian saja. Tentu saja, dzikir bersama ini bukan hanya bertujuan agar diberi kelancaran dalam ujian atau belajar. Akan tetapi juga menjaga perilaku siswa dari dekadensi moral. Atau mungkin di kantor-kantor juga diprogramkan dzikir bersama agar para pegawai menjadi pegawai yang bisa menjaga moralnya, dan lain sebagainya.

Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia
Kiranya cukup sekian yang bisa saya sampaikan. Semoga kita semua dilindungi oleh Allah Swt dari pengaruh hawa nafsu yang senantiasa menjerumuskan kita dalam kesesatan.

Komen Via Facebook

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites