Kudus

Mau beli jajanan khas Kudus eh ada museum rumah adatnya..numpang foto..

Ngayogjokarto

Keliling nyari blangkon akhirnya dapet...

Ngaji

ngisi acara walimatul 'ursy ^_^

Penyuluh Agama Islam Kemenag Boyolali

Mau study banding ke Kemenag Jawa Barat sama DKI. nampang dulu di depan Kantor

Haji 2005

Kenangan di Arofah bersama bapak..

Selasa, 31 Mei 2011

PANCASILA SEBAGAI SYARI’AT NEGARA INDONESIA

Ada ungkapan menarik yang berbunyi, “Pilih mana, minyak samin cap Babi atau minyak babi cap Onta?” sama juga dengan “Makan sate kambing di warung Anjing Galak atau makan sate guk-guk di warung Kambing Jantan?” hehehe. Mengada-ada yach..? maksudnya pilih bungkus atau isi? Kalau makan lemper yang dimakan daun pisangnya apa isinya? Ini bisa diibaratkan dengan dasar negara kita, Pancasila. Hari ini, tepat Pancasila berusia 66 tahun. Bung Karno waktu itu memberikan suatu gagasan tentang dasar negara di hadapan BPUPKI. Akhirnya, mereka sepakat dengan lima sila negara yang disampaikan oleh Bung Karno.

Lantas apa hubungannya antara lemper, eh bungkus dan isi? Setelah tumbangnya Orde Baru dan tersyi’arnya kebebasan atau reformasi mulailah dipermasalahkan tentang dasar negara Indonesia, yaitu Pancasila. Alasannya karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dan seyogyanya dasar negara adalah syari’at Islam. Mereka yang mempunyai ideologi asas syari’at Islam ini sebenarnya mempunyai pendukung yang minoritas atau sedikit. Akan tetapi keberadaan mereka sampai saat ini-bisa dikatakan- sangat meresahkan masyarakat. Mereka tergolong umat yang radikal dan menggunakan cara-cara kekerasan dalam mencapai tujuannya. Walaupun juga ada yang memakai cara halus dengan berkendaraan politik. Walaupun juga dulunya partainya berasaskan Islam tapi kemudian hari berasaskan Pancasila. Entah, mereka sudah sadar akan pentingnya kebangsaan atau hanya sekedar pemanis saja agar bisa meraup suara yang banyak dalam pemilu berikutnya. Wallahu a’lam.

Kemudian timbul pertanyaan, apakah Pancasila bertentangan dengan syari’at Islam? Pertanyaan ini saya tujukan khususnya untuk mereka yang menolak Pancasila. Bisa menjawab? Mungkin jawabannya, bertentangan.. itu bid’ah. Karena jaman Nabi ndak ada Pancasila..hehehe.. kalau tidak mau menjawab, saya akan menjawab. Tapi sebelumnya saya akan menjelaskan apakah Pancasila merupakan ‘ide murni’ dari Bung Karno yang beliau gali dari warisan nenek moyang? Tidak, tapi beliau terinspirasi dari 2 tokoh besar waktu itu, yaitu A. Baars dari Belanda dan Dr. Sun Yat Sen dari China. Waktu itu Bung Karno berumur 16 tahun dan duduk di bangku sekolah H.B.S Surabaya. A. Baars yang merupakan guru Bung Karno mengatakan, “Jangan berpaham kebangsaan, tetapi berpahamlah rasa kemanusiaan seluruh dunia.” Sedang Dr. Sun Yat Sen dalam tulisannya “San Min Cu I” (tiga prinsip rakyat), yaitu Mintsu (Nasionalisme), Min Chuan (Demokrasi) dan Min Sheng (Sosialisme). Kemudian dari 2 orang inilah Bung Karno mengolah menjadi: Kebangsaan Indonesia (dirubah:Persatuan Indonesia),Peri kemanusiaan (dirubah:Kemanusiaan yang adil dan beradab), Mufakat atau demokrasi (dirubah:Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan), Kesejahteraan sosial (dirubah:Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia) kemudian Bung Karno menambah sendiri asas, Ketuhanan (Ketuhanan Yang Maha Esa).

Apabila kita mencermati ke-5 sila tersebut apakah ada yang bertentangan dengan syari’at Islam?

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Adakah yang membantah sila ini bertentangan dengan al-Qur’an? Lantas ada yang tanya. Lho kenapa ada agama yang mempunyai Tuhan lebih dari satu? Jawaban saya, semua agama pasti percaya akan adanya Tuhan Yang Esa. Karena kita sendiri tanpa sadar menuhankan selain Dia. Entah itu berupa jabatan, harta benda, pekerjaan, barang dagangan, dan lain-lain. Hanya saja kita tidak mem-formalkan dan tidak menyadarinya.
Sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Apakah al-qur’an dan hadits tidak membahas keadilan? Kalau membahas, apakah al-Qur’an/Hadits memerintahkan berbuat adil? Apakah juga menyuruh manusia menghormati oranglain?
Sila ketiga, Persatuan Indonesia. Apakah Islam memerintahkan bercerai-berai? Apakah Islam memerintahkan umatnya membenci negara?
Sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Ini adalah prinsip demokrasi. Kalau berbicara masalah demokrasi tidak akan ada titik temu karena kelompok pengusung syari’at menghukumi haram terhadap demokrasi. Memang, pada waktu Nabi masih hidup kepemimpinan berada langsung dibawah komando beliau. Sewaktu beliau akan meninggal Beliau juga tidak secara tegas menunjuk Abu Bakar sebagai penggantinya atau menunjuk Ali yang merupakan menantunya. Hanya saja Beliau mengisyaratkan ketika masuk waktu sholat dan beliau sedang sakit keras memerintahan kepada Abu Bakar untuk menjadi imam sholat. Setelah Nabi wafat, Umar kemudian mengusulkan (kalau sekarang menjadi jurkam) Abu Bakar menjadi Khalifah, pemegang pemerintahan menggantikan Nabi Muhammad dan para sahabat mayoritas menyetujuinya (mufakat). Setelah Abu Bakar meninggal pun para sahabat yang berpengaruh (kalau zaman sekarang ya DPR lah) mengadakan musyawaroh menunjuk seorang kholifah sampai zaman sayyidina Ali. Walau selanjutnya ada yang tidak setuju yang kemudian mengadakan pemberontakan-pemberontakan. Sampai saat ini, pemberontakan-pemberontakan dalam negara itu masih tetap ada yang ‘mewakili’. Dan saya percaya, walaupun menggunakan nama Islam pasti orientasinya hanya pada KEKUASAAN BUKAN MURNI AGAMA.
Sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sudah tentu dan jelas Islam memerintahkan umatnya untuk berbuat adil.

Pertanyaan terakhir, lha kenapa dengan adanya Pancasila kok keadaan negara masih amburadul begini? Korupsi merajalela, ketidak adilan dimana-mana,rakyat Indonesia tidak bersatu dengan adanya pemberontak. Jawaban saya, Pancasila itu ibarat pedang yang sangat tajam. Tinggal bagaimana orang (pemimpin) itu menggunakannya untuk berperang. Apakah pedangnya ditinggal, perang dengan tangan kosong atau memakai pedang tapi sisinya terbalik. Yang dibuat memenggal orang pada sisi yang tumpul bukan yang tajam.

Kesimpulannya, Pancasila adalah asas yang sesuai dengan Islam. Karena perumus Pancasila dan UUD juga melibatkan para ulama ahli agama. Hanya tugas kita menyadarkan manusia pemegang jabatan atau yang lainnya kalau pedang yang mereka bawa itu terbalik atau salah. Bisa saja mereka membawa pedang bukan pada gagangnya akan tetapi pada sisinya yang tajam.

Senin, 30 Mei 2011

Kriteria Istri Idaman

Minggu-minggu ini saya agak sedikit sibuk dengan kegiatan kantor. Maklum sebagai pegawai fungsional saya lebih banyak waktu di luar [jam] kantor. Jadwal saya minggu ini adalah sowan ke ‘kyai kampung’ di kecamatan tempat saya bertugas, Boyolali. Berbarengan dengan tugas dari Penamas/pekapontren Kemenag Kab. Boyolali yang menugasi Penyuluh Fungsional untuk mendata ustadz/ustadzah TPA/TPQ se-kecamatan sekaligus saya gunakan sebagai ‘ajang’ silaturahmi ke pimpinan TPA/TPQ setempat atau yang saya sebut di atas ‘kyai kampung’ sebagaimana istilah yang ditrend-kan oleh Gus Dur. Walaupun, menurut Gus Dur istilah Kyai Kampung yang dimaksud adalah pemilik atau imam masjid/mushola/langgar ataupun tokoh agama di kampung setempat. Di sini saya menyebut para pemimpin TPA/TPQ juga sebagai Kyai kampung. Karena perannya dalam mengajarkan agama kepada anak-anak secara istiqomah di tengah-tengah maraknya berbagai teknologi dan hiburan yang membuat anak ‘malas’ belajar agama atau mengaji.

Dari hasil saya sowan ke pemimpin TPA/TPQ ada pelajaran yang bisa saya ambil:

Pertama, dalam data TPA/TPQ yang telah terdata ternyata banyak TPA/TPQ yang telah ‘mati’. Hal ini disebabkan karena tidak adanya pengajar. Tidak adanya pengajar ini disebabkan karena pengajar jika seorang perempuan, kemudian menikah dia akan ikut serta suaminya dan meninggalkan tempat dia berdomisili dan mengajar. Juga pengajar lebih mementingkan pekerjaan yang ‘lebih menjanjikan’ untuk kelangsungan hidupnya daripada mengajar di TPA/TPQ. Jadi yang kedua ini alasannya masalah ekonomi. Pemecahannya, menurut saya adalah kaderisasi pelajar tingkat SMA/MA untuk mengajar TPA/TPQ di sore hari di masing-masing daerah/desa dengan, jangan lupa, diperhatikan juga kesejahteraannya. Misalnya, santri TPA/TPQ ditarget mulai dari tingkat SD/MI sampai tingkat SMP/MTS. Setelah itu, untuk yang telah mencapai tingkat SMA mereka siap ‘mental’ untuk mengajar. Dan hendaknya kurikulum TPA/TPQ dibuat dengan baikatau diseragamkan dan -kalau bisa- ditambah dengan ‘ngaji’ bahasa Inggris dan ‘ngaji’ komputer untuk tambahan ketrampilan dari santri-santri atau keterampilan yang dibutuhkan di daerah setempat. Hal ini juga untuk mengantisipasi bagi mereka tidak ngaji TPA karena alasan mengikuti kursus bahasa Inggris atau kursus komputer.

Kedua. Keikhlasan para ustadz/ustadzah dalam mengajar. Hal ini bisa dilihat dari penghasilan yang mereka peroleh dari mengajar ngaji yang ‘cukup’ alias tidak banyak dan tidak sedikit. Dan kebanyakan ustadz/ustadzah yang masih ‘bertahan’ tidak begitu mempermasalahkan gaji mereka dari mengajar ngaji. Ya, karena tidak kita jumpai ‘demo’ ustadz/ustadzah TPA/TPQ. Kalau guru sekolah,dulu, sering demo. Kalau sekarang gajinya sudah selangit ndak demo lagi. Hehehe..

Ketiga, ini masuk ke ranah pribadi saya sendiri. Hoho apanya..? Begini, ketika saya mendatangi seorang kyai atau pimpinan TPA/TPQ saya bertanya tentang tingkat pendidikan santri-santrinya. Beliau menjawab bahwa santrinya dari siswa-siswi SD sampai SMP. Lha kenapa yang SMA tidak? Jawab beliau, kalau SMA nanti saya takut terkena fitnah ketika melihat santrinya dari siswi SMA. Hehehe..Paham maksudnya? Karena memang pimpinan TPA/TPQ tersebut masih tergolong muda, berumur sekitar 35an tahun sudah beristri dan mempunyai 2 anak. Jadi, kalau melihat remaja putri yang khususon cantik bin bahenol dikhawatirkan akan menarik hati beliau dan terkena fitnah. Lha, apa ada sangkut pautnya dengan saya? Saya pernah menolak dijodohkan orangtua saya. Alasannya sederhana dan –menurut saya- MASUK AKAL, yaitu tidak cantik. Walaupun dia pintar dan hapal al-Qur’an. Karena saya merasa dunia saya untuk kedepan akan semakin berat godaannya, wa bil khusus masalah wanita. Karena Nabi Adam terlempar dari syurga adalah karena godaan wanita . Betul tidak? Dan saya sangat mengkhawatirkan diri saya jika istri saya -yang tentu saja menurut saya- tidak cantik, walaupun kamu bilang cantik. Karena mataku dan matamu sudah tentu beda. Lalu banyak yang tanya, lha terus seleramu itu yang kayak apa? Saya jawab, cantik dan pintar (kalo pintar sudah tentu sholehah. Kalau pintar tidak sholehah dia tidak pintar. Ini juga menurut saya) itu aja.

Wallahu a'lam bisshowab

Senin, 16 Mei 2011

Ketika Sendok Adalah Bid'ah (kisah nyata)


Kisah ini terjadi di daerah Boyolali, tepatnya di desa Kacangan. Ketika itu, ada 2 orang pemuda yang ingin makan di warung HIK sehabis sholat Maghrib. 2 pemuda ini mempunyai pemahaman agama Salafy yang dikit-dikit bid'ah.. (bid'ah kok dikit-dikit). Padahal,masyarakat sekitar berpaham tradisionalis dan moderat.

Lalu 2 pemuda ini masuk warung HIK 'ternama' di kacangan. Pemuda yang satu pesan Nasi Kucing dan yang satunya lagi Mie Rebus. Sang penjual pun menyodorkan sendok kepada pemuda yang makan nasi kucing. Tp, sang penjual kaget dengan jawaban si pemuda. 'maaf,pak. Saya makan ndak pake sendok. Itu bid'ah.. Rosul ndak pernah makan pake sendok'

Sang penjual HIK pun paham dengan aliran agama konsumennya barusan.

Lalu dia melanjutkan merebus mie pesanan pemuda satunya. Setelah matang, sang penjual pun menyodorkan mie rebus panas kepada pemuda satunya TANPA SENDOK. Mengetahui mie rebusnya ga ada sendoknya,pemuda tanya pada penjual. 'pak, sendoknya mana?'

Penjual menjawab,'lho,katanya Rosul makan ndak pake sendok.. Ya, pastinya makan mie rebus juga tanpa sendok..'

Si pemuda jawab, 'ya kalo ga pake sendok kan panas pak'

'makanya kalo beragama itu lihat sikon.. Nabi dulu juga ndak makan mie rebus..' jawab penjual HIK sambil menyodorkan sendok.Si pemuda yang bid'ah-bid'ah tadi pucat mukanya. Kena getah dari teman sendiri..


PISANG LURUS

Kejadian ini aku alami waktu OSPEK.. Seperti jamaknya OSPEK, pasti sang senior memberi perintah yang aneh-aneh dan agak sulit mencarinya. Seperti, peserta OSPEK disuruh memakai topi 'besek' atau tempat takir (nasi hasil dari tahlilan atau sebangsanya), kaos kaki berlainan warna, yang kiri merah yang kanan kuning, dan perintah macam2 lainnya yang tidak ada hubungannya dengan mahasiswa yang notabene seorang idealis.

Nah, di hari pertama sang senior memerintahkan kita supaya besok membawa sebuah PISANG YANG LURUS, tidak boleh bengkok. OSPEK dihari pertama sampai jam 5 sore. Habis ospek langsung para calon2 mahasiswa termasuk aku 'blusuk-an' ke pasar mencari PISANG yang LURUS.. Teman-teman udah ada yang dapat. Aku mencari-cari pisang lurus tidak ada, adanya bengkok. Ada yang lurus, eh keduluan ama temanku. Sampai akhirnya aku TIDAK mendapatkan pisang lurus. terpaksa beli yang agak bengkok atau agak lurus.

Esok harinya, OSPEK dah mulai pukul 6 pagi.. Sang senior menyuruh calon mahasiswa untuk berkumpul di lapangan kampus. Setelah kumpul, disuruh mengeluarkan pisang dan mengangkatnya supaya sang senior bisa tahu pisang mana yang LURUS dan mana yang BENGKOK. Tentu saja, calon mahasiswa yang tidak mendapat pisang lurus dapat hukuman.disuruh keliling lapangan 10x sambil mengacung-acungkan pisang dan teriak... "PISANG SAYA BENGKOK"... "Pisang ini lurus apa nggak?" tanya sang senior kepadaku. "Lurus..!!" jawabku pede (padahal agak bengkok) "apa kamu tidak bisa membedakan benda yang lurus sama yang enggak??? Cepat keliling 10x sambil teriak2... PISANG SAYA BENGKOK..!! Cepaaattt...!!!" perintah sang senior yang nggak mau didebat. Langsung saja aku keluar barisan dan berlari keliling sambil mengucap... " PISANG SAYA BENGKOK...(aku tambahi) PISANG SAYA PANJANG..BENGKOK.." 

Komen Via Facebook

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites